Cemburu, Surga.

Standar

aku cemburu, sangat cemburu pada nasib mu.

nasib baik mu seolah tanpa halang rintang dapat melipat-lipat dunia.

aku tak tahu bagai mana cara kerja dunia ini?

yang di ujung sana berteriak setengah mati, sampai urat leher membesar seolah ingin putus, keringat bercucur tak kunjung habis, air mata mengalir menyembabkan mata. tak menuntut hanya ingin membaikkan nasib. namun, nasib baik tak kunjung datang, menghampiri pun seakan tak mau.

yang disisi sini, lain cerita. cekakak cekikik sana sini, nasib baik mengucur seolah tanpa sumbatan. nongkrong sana sini, nasib baik tetap membututinya.

kau bilang kunci nasib baik adalah bekerja keras, tapi nyatanya, kau lihat realita!! 360 derajat menyimpang dari perkataan mu itu. yang berteriak tadi mati matian berusaha menggapai, malah membusuk di tengah jalan. yang cekakak cekikik malah melahap bahagia tak ada habisnya.

coba digali ulang konsep kerja dunia.

kami menyadarinya sepenuh fikiran bahwa yang memegang inti permainan adalah sang maha raja. tak ada hubungannya denga kerja keras dan sebagainya yang kau sayup sayupkan di telinga kami. ternyata jikalau seperti itu, kami temukan nasib baik yang sesungguhnya, dan nasib baik fata morgana seperti yang kau lahap juga nantinya  kami nikmati pula.

apabila kau mengatakan kerja keras adalah kunci menggapai nasib baik. ternyata itu adalah pembunuh bagi kawan kami yang tipis logika dan hatinya, dia akan membususk ditengah jalan apabila tak berhasil menggapainya. lain halnya jika kau bisikan bahwa kunci menggapai nasib baik adalah kerja untuk sang maha raja, keras atau tidak itu urusan nomer dua, yang penting ketulusannya. mereka yang tipis logika dan hatinya, walaupun tidak pula meraih nasib baik. nasib menakjubkan tetap tersimpul di angan mereka dengan kuat. mereka takan membusuk terhadap kegagalan meraih nasib baik di dunia. mereka akan tetap berkobar menebar semangat kebaikan demi menggapai nasib menakjubkan. yakni Surga.