TETUA KAMI, SANG AGAMAWAN PENGOLOK

Standar

Kami sedikit terusik ketika para tetua kami yang memahami betul konsep-konsep agama Islam, saling mengolok satu dengan yang lainnya mengenai cara pandang dan pemahamannya masing-masing (secara umum yang menggunakan label Syi’ah dan Sunni) mengenai agama Islam yang mereka yakini sama-sama.

Dewasa ini, urat leher para agamawan/tetua kami, terutama yang melabeli dirinya sebagai Sunni gencar-gencarnya menciptakan propaganda “terstruktur, sistematis, dan massive” mengenai keburukan saudaranya sendiri se-agama yang bersebrangan cara pandang yakni yang berlebelkan Syi’ah.

Propaganda tersebut kami pahami dan sadari sebagai suatu rupa cacian dan olokan yang tidak bermartabat dan tidak mencerminkan keagamawan para tetua kami yang kami sangka mengenal betul ajaran agama kami yang luhur, bermartabat, dan bermoral ini.

Pemahaman label Syi’ah yang mereka katakan sesat tersebut, mereka olok-olok membabi-buta tanpa pandang bulu serta tanpa saringan yang logis & bermartabat terhadap orang-orang muslim lainnya yang mereka lebeli Syi’ah. Mereka mengkafirkan para saudara mereka sendiri, mereka menghina saudara mereka sendiri, mereka menyuruh kami menjauhinya, mereka menutup mata, telinga, dan otak kami untuk berinteraksi kepada tetua kami yang bersebrangan pemahaman itu, sehingga kami yang awam dan tidak tahu apa -apa ini hanya bisa mengangguk dan mengangguk saja mengimani ucapan para tetua kami. Hal itu menyebabkan tertanam dalam perilaku kami su’udzon, pemarah, kolot, bodoh, bahkan penghina yang semakin memperburuk akhlak kami sebagai pemuda Islam.

Mulanya, tetua kami tersebut merasa risih dan terancam akibat adanya hembusan pemahaman yang bersebrangan dari para ekstrimis pencinta Ali bin Abi Thalib, dan turunannya, serta imam-imam yang dijalurnya. Para ekstrimis itu mencintai orang-orang tersebut melebihi cintanya terhadap Rasulullah S.A.W itu sendiri, para nabi, para sahabat nabi, bahkan terhadap ajaran dan kitab-kitab nabi yang diturunkan oleh Allah sendiri. Sehingga para ekstrimis ini memberikan nuansa menyeleweng yang sangat kental terhadap agama mereka itu sendiri yakni Islam.

Sialnya, para ekstrimis tersebut (yakni orang awam yang berlebihan dalam menjalankan ajaran dan tanpa ilmu) memiliki kemiripan paham dengan golongan yang menyatakan sebagai barisan pendukung Ali/Ahlul Bait, yang dikenal dengan label Syi’ah. Padahal, awalnya dukungan tersebut tercipta atas dasar ketika keluarga nabi S.A.W  mengalami pelecehan secara tidak bermartabat oleh orang-orang tertentu, terutama pasca wafatnya nabi S.A.W. Dan pembelanyapun adalah orang-orang islam itu sendiri, yang terdiri dari para sahabat, keluarga nabi S.A.W, dan sebagainya, yang dikenal dengan Syi’ah, atau yang berarti “Pengikut” yang dalam konteks ini merujuk pada شيعة علي. Namun, hal itu diserap oleh para ekstrimis yang turut melebeli dirinya sendiri sebagai Syi’ah. Sehingga pembelaannya tersebut tanpa ilmu, dan tanpa sebab, yang akhirnya melencengkan pembelaan yang mulanya  lururs tersebut.

Maka munculah para golongan yang berusaha meluruskan ajaran Islam kembali kepada jalurnya, serta mengembalikan rasa cinta terhadap nabi dan sahabat dan lainnya sesuai dengan batas-batas cinta yang telah disajikan rasul, yakni golongan yang kita kenal dengan lebel Sunni, ahlussunnah wal jama’ah. Golongan ini semangat awalnya pun sama, yakni baik. Mereka berjuang dengan moral, akhlak, dan perilaku yang lurus. mereka berusaha sekuat tenaga dan akal fikiran untuk MEMPERINGATI yang keliru, dan MEMERANGI yang telah keluar jalur dan merusak Islam. Namun, lagi-lagi muncul para esktrimis, yakni ekstrimis Sunni yang dalam hal ini ekstrim dalam bertindak yang salah, berperilaku yang salah, demi menegakkan kembali ajaran Islam yang disalah praktekan oleh Syi’ah ekstrimis.

Sayang sungguh disayang, dinegara kami yang dikenal dengan mayoritas muslim terbesar didunia ini, disusupi para pegiat yang ekstrimis ini, keduanya sama-sama ekstrimis baik Syi’ah, maupun Sunni. Walaupun mereka semua tidak mau dianggap keduanya, namun dalam cara pandang kami mereka semua itu adalah keduanya.

Tetua Syi’ah kami. Mereka mengajarkan yang ekstrim terhadap kami, mereka atas nama Syi’ahnya merusak para cendikiawan Muslim Syi’ah dan pejuang Muslim Syi’ahnya yang mati-matian berkorban untuk memerangi orang-orang kafir sesungguhnya (Secara umum, para orang-orang kafir di ISRAEL, AMERIKA, maupun EROPA) yang dicontohkan kaum Syi’ah Iran. Mereka mengatas namakan Muslim Syi’ah Iran (yang sebagian besar ber Syi’ah secara lurus dan menjadi mayoritas dinegaranya) dalam proses mengajarkan Syi’ahnya, sehingga kami pun menjadi keliru dalam memahami para Ulama Iran yang sebenarnya keilmuan dunia dan akhiratnya sangat-sangat seimbang dan baik, serta sangat mencintai Islam secara utuh selayaknya ahlussunnah waljamaah. Bahkan mereka melebihi Ahlussunnah  waljamaah dalam berperilaku politik di kancah internasional, mereka berani memerangi kafir yang sebenarnya, dan menentang kafir yang sebenarnya.

Tidak seperti para tetua kami yang mengaku sebagai Sunni namun berperilaku seperti tidak ahlussunnah wal jamaah. Mereka berperilaku bahkan lebih menyimpang dari yang mereka anggap menyimpang, mereka inilah para Sunni yang ekstrimis, yang berperilaku ekstrim dalm berbuat menyimpang seperti yang saya sebutkan diawal.

Sebagai pengelurus ajaran yang menyimpang, mereka malah melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Mereka melakukan olok-olok terhadap ekstrimis Syi’ah, mereka malah mengumbar kesalahan-kesalahan ekstrimis Syi’ah tanpa meluruskannya, sekedar mencela dan mencela. Ketika mereka sadar bahwa ekstrimis Syi’ah keliru, mereka malah menjauhinya dengan mencaci maki mereka, bukannya meluruskan mereka, atau bahkan memerangi mereka. Mereka hanya menyuruh kami yang awam ini menjauhinya tanpa menunjukan kebenarannya kepada kami. Mereka malah mencontohkan kepada kami cara-cara meghina, cara-cara mengolok-olok, cara-cara berpedoman kepada hal-hal yang bathil yang menjadi keyakinan umum tanpa mengkroscek dan memahami ulang dengan baik sumber permasalahannya.

Padahal mereka sendiripun telah memahami bahwa, perlakuan mereka itulah yang telah diterapkan oleh para JAHILIYAH dalam memerangi ajaran ISLAM dahulu. Pada masa itu, para jahiliyah hanya bisa mengolok-olok ajaran Rasul, para jahiliyah hanya bisa melecehkan ajaran Rasul tanpa mampu mengajarkan akhlak dan moral yang lebih baik dari ajaran yang mereka anggap salah tersebut.

Berlainan denga yang dicontohkan Rasul ketika menghadapi para jahiliyah tersebut. Beliau mencontohkan kepada kami bahwa, yang salah (si Jahiliyan nan Kafir) itu harus diluruskan, yakni dengan cara, pertama dengan LISAN, memperingati kepada yang berbuat salah, bukan mengolok-olok yang berbuat salah, dan mengajak orang lain untuk menjauhi yang berbuat salah dan mengajaknya untuk mengihinanya. Tidak, nabi kami tidak mengajarkan itu, nabi kami mengajarkan untuk menceramahi face by face yang berbuat salah dan memperingatinya.

Lalu yang kedua, nabi kami mengajarkan untuk menegakan kebenaran dengan PERILAKU/CONTOH. Setelah memperingati kepada yang berbuat salah, maka nabi kami mengajarkan untuk terus mengajarkannya mengenai kebenaran, dan mengajarkan kepada kami mengenai kebenaran itu sendiri, bukan mengajarkan untuk melecehkan yang salah, namun mengajarkan kami untuk bertindak dan berperilaku benar dan lurus sesuai dengan ajaran Islam. Nabi kami mengajrkan kami untuk mencontohkan kepada mereka yang salah PERILAKU KAMI YANG BAIK, YANG LEBIH BERMORAL, DAN ISLAMIketimbang sibuk mengajarkan kami berperilaku untuk menjauhi yang salah. Nabi kami tidak menjauhi yang salah, namun meluruskan yang salah.

Serta yang terakhir, nabi kami mengajarkan untuk memerangi yang mengancam kehidupan kami, yang merusak keamanan kami dalam menerapkan ajaran kami, dan yang mengancam kemurnian ajaran kami. Bukan mengajarkan kami untuk hanya sebatas menjauhi dan mengolok-oloknya. Maka dari itu menanglah Islam dizaman nabi kami, dizaman khalifaturrasyidin kami, dan dizaman keemasan kami.

Namun sekarang, dinegara kami sendiri, ajaran islam tidak dibanggakan oleh kami sebagai pemuda. Ajaran islam menjadi agama norak dan tidak bermoral bagi kalangan kami. Kami sebagai pemuda malah melecehkan dan memperkosa budaya, ajaran, dan ilmu agama kami sendiri, yakni agama ISLAM YANG HAK dan AGUNG. Islam lenyap ditangan kami.

Ini semua akibat dari contoh yang anda-anda ajarkan duhai tetua kami yang lebih dahulu mempelajari agama kami. Engkau hanya pandai memplokamirkan negara khilafah, engkau hanya pandai meproklamirkan penegakan Syari’at, dan engkau hanya pandai menyuarakan Jihad. Tapi tidak pandai mengajarkan kami apa itu negara khilafah, bagai mana cara kerjanya, apa untungnya bagi kami sebagai pemuda untuk menegakannya ketimbang demokrasi dan sebagainya yang diajarkan musuh anda. Anda tidak pandai mengajarkan kami apa itu Syari’at, apa baiknya dari pada UUD, dimana sisi moralnya yang harus kami perjuangkan, bagaimana anda mencontohkan penegakan Syari’at dari sisinya yang mulia dimata kami. Dan anda tidak pandai mengajarkan kepada kami apa itu Jihad, bagaimana cara kerjanya, serta penerapan seperti apa yang diajarkan Rasul kami mengenai Jihad.

Semua itu terbutakan dari kami, sehingga kami membencinya. Padahal kami meyakini bahwa, semua itu adalah kebenaran ajaran Islam dan mampu membangkitkan Islam. Kami meyakini, bentuk khilaf itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda mengajarkannya benar kepada kami. Hukum Syari’at itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda mengajarkannya benar kepada kami. Jihad itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda benar mengajarkan dan mencontohkannya kepada kami.

Sampai matipun kami akan berjuang mati-matian menegakannya duhai tetua bila kalian mau mundur dari cara-cara kalian yang hanya sebatas saling olok-mengolok, dan membiarkan kami bangkit dari kebutaan kami yang kalian butakan.

Agamawan, Negarawan, Cendikiawan Pembusuk Negeri Saya

Standar

13368706651971331695leader_165365Helpful

Semakin banyak berfikir, semakin banyak merenung.

Semakin banyak berbicara, semakin lemah berfikir.

semakin banyak bercuap berdebat, semakin buta hati semakin mantap ego.

Dinegeri ku, orang yang ditinggikan oleh jabatan, ilmu, dan sebagainya, jatuh tersungkur terhembus angin karena lupa akhlak, lupa tuhan, lupa langit, lupa moral, dan parahnya, kejatuhannya tersebut menimpa pewarisnya, menularkannya, dan ikut membusukannya.

maka terjadi ke estafetan membusuknya akhlak,

yang pintar bercuap dan berdebat, bangga akan hal tersebut, cuap-cuap kiri kanan komentar kiri kanan, akhirnya matinya tertelan ludah cuapnya yang berkumpul dimulutnya karena terlalu banyaknya bercuap.

yang pintar menggurui, bangga akan kepintarannya menggurui, sampai lupa untuk turun kebawah, mengaplikaskan, dan mencontohkan. menggurui sebatas menyenteri, tanpa mau menemani dijalan jurang gelap. akhirnya yang digurui mati terperosok jatuh kejurang, dengan kebutaannya, dengan kesendiriannya.

yang mengaku paling dekat dengan tuhan, bangga dengan perasaan kedekatannya, bangga untuk mengomentari kdekatan orang lain dengan tuhannya, tuhannya dirasa sahabatnya sendiri, sehingga CARA ORANG UNTUK MENDEKATI TUHANNYA, dianggap KAFIR, BID’AH, dan KELUAR JALUR. Akhirnya orang tersebut dia dimatikan atas nama agamanya atas nama tuhannya.

yang paling parah adalah orang-orang pintar tersebut, mereka membusukan negeri saya, dengan kebusukan mereka, mereka mewariskan kebusukannya, kepada pewarisnya. Negeri saya kini, dibusukan oleh segala aspek, dibusukan oleh agamawan, dibusukan oleh negarawan, dan dibusukan oleh cendikiawan.

Dulu dinegeri saya, Nabi Muhammad mengajarkan, orang dihukum karena tindakan kesalahan sosialnya. Agamawan, negarawan, dan cendikiawan sepakat menghukum atas nama penegakan keadilan sosial, kedamaian, dan ketentraman bermasyarakat.

Tapi sekarang, di negeri saya, orang dihukum karena tindakan agamanya bukan lagi tindakan sosial. Agamawan, negarawan, dan cendikiawan sepakat untuk menjadi tuhan, sehingga matilah kami ditangan tuhan-tuhan dunia.