Masa Uji Masyarakat

Standar

abul-ala-al-maududi-2

Mengutip dari kalimat Abul A’la al-Maududi dalam bukunya Worship in Islam, tentang makna puasa di bulan Ramadhan dalam masyarakat Muslim.

“Bila seseorang dalam keadaan koma, dan akan di uji apakah masih ada kehidupan dalam dirinya atau apakah dia benar-benar telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, maka didepan lubang hidungnya diletakan cermin. jika cermin tersebut menjadi kabur sekalipun sangat samar, kita tahu bahwa orang tersebut belum meninggal dunia. Jika tidak, kita tahu, bahwa nafas kehidupannya telah tiada dan dia bukan apa-apa lagi;

Jika siapa saja yang ingin melakukan suatu ujian yang sama terhadap suatu masyarakat Islam untuk melihat apakah masyarakat itu masih hidup ataukah masih mempunyai tanda-tanda kehidupan, dia harus melihatnya pada bulan Ramadhan. Jika dia melihat banyaknya bukti dari taqwa, dari rasa takut dan Tuhan, dan dari dorongan untuk berbuat baik, maka dia boleh dengan aman menyimpulkan bahwa masyarakat tersebut masih mempunyai kehidupan. Akan tetapi, jika dilain pihak dia melihat bahwa kebaikan telah berada didasar surut, dosa serta kejahatan sangat meluas, dan semangat islam banyak yang mati, maka dia dapat mengatakan Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un, karena jelas masyarakat tersebut hampir mati sebagai suatu kesatuan islam.”

Dalam perumpamaan tersebut, Abul A’la berusaha menggambarkan urgensi dari ibadah puasa Ramadhan terhadap komunitas Muslim seluruhnya. Disana ia menggambarkan bahwa, salah satu ruh Islam kedua setelah shalat yakni puasa, tidak hanya dapat ditafsirkan dampaknya sebatas terhadap per-individu saja, namun secara kolektif memiliki pengaruh yang lebih kuat dan besar terhadap masyarakat muslim itu sendiri. Puasa menjadi salah satu pembuktian dari kekuatan dan kekokohan masyarakat muslim, serta menjadi landasan penting untuk menciptakan masyarakat muslim yang Islam secara murni.