Menawarkan Konsep “Perjuangan Kekuasaan Yahudi” Kepada Para Pendamba Khilafah

Standar

Jika kita rujuk pada persoalan-persoalan yang terjadi di dunia kini, khususnya terhadap aktor-aktor islam yang menjalankan peranannya sebagai pengemban amanah langit dalam aspek keduniaannya (terutama para aktor di Timur Tengah, Asia dan Afrika), dapat kita saksikan bagaimana Islam sangat porak-poranda di era moderen kini yang dibawa oleh mereka, dimulai dari akar hingga puncuk tertinggi pengembannya. Maka, hal inilah yang mengusik saya mengenai akuntabilitas para pemeran islamis kini yang notabenenya memahami betul konsep-konsep Islam dalam menjalankan pola-politik kenegaraannya, terutama usaha-usaha membumikan Islam sebagai “rahmatan lil alamin.”

Terjadi kekeliruan yang mendasar dan sangat akut telah dilakukan oleh mereka. Oleh karenanya, atas dasar persoalan-persoalan tersebut saya mencoba menyarikan bagaimana konsep-konsep duniawi yang dijalankan para non-Muslim, khususnya orang-orang Yahudi, dalam memperoleh kekuasaannya dalam mengelola dunia internasionalnya kini, yang sebenarnya dari dulu sudah diterapkan oleh Islam dan dicontohkan oleh nabi Muhammad S.A.W, namun dilupakan oleh para muslim yang haus akan kekuasaan sempit duniawi. Hingga rezim internasional direnggut oleh para yahudi-yahudi tersebut.

Hal itu tergambarkan dari peta politik keamanan yang terjadi di Timur Tengah, Asia, maupun di Afrika. Timur Tengah yang secara awam kita pahami sebagai regional yang menjadi awal mula bagaimana konsep agama-agama samawi (agama-agama yang diyakini langsung dari Allah, yakni Islam, Kristen dan Yahudi) diturunkan dimuka bumi, khususnya agama Islam yang secara eksklusif pertama kali di turunkan melalui nabi Muhammad S.A.W. di kawasan tersebut. Kawasan ini  megalami kemunduran peradaban, ekonomi, politik, sosial, dan ideologi yang sangat akut di era kini, hingga menimbulkan perang saudara yang berkepanjangan antar sesama penganut agama Islam. Kita ambil contoh mengenai sekte-sekte Islam disana, yakni Sunni dan Syi’ah yang secara jelas di kukuhkan dalam perang antara Arab Saudi maupun negara-negara teluk lainnya, melawan pengaruh Syi’ah Iran dan negara-negara penganut lainnya, serta organisasi-organisasi Islam yang memecah belah paham kesatuan Islam yang sebelumnya tidak pernah diajarkan Nabi S.A.W. Hal-hal tersebut mengotori kedamaian islam yang sebenarnya menjadi cita-cita kolektif umat manusia. Begitu juga di kawasan Asia dan Afrika, kawasan ini turut bergejolak akibat terbelah-belahnya pemahaman akan islam ini.

Maka, dari contoh-contoh nyata dan faktual tersebut, dapat kita pahami menganai aspek-aspek apa saja yang melemahkan perjuangan kekuasaan umat Islam dalam mengelola persoalan-persoalan duniawi di dunia internasional ini. Pertama, umat Muslim di era Modern ini (khususnya para petinggi-petinggi umat Islam) sudah jauh akan kesadaraan posisi mereka sebagai budak abadi Allah S.W.T. Hal ini menciptakan bagaimana pemimpin-pemimpin muslim kita sangat haus akan jabatan-jabatan kekuasaan yang sangat personal, seperti para raja-raja Arab Saudi, dan para pemimpin umat Islam pada umumnya (Ulama, Kyai, Habib, Ustad dan sebagainya) yang fokus pada persoalan-persoalannya sendiri/institusinya sendiri, bukan Islam secara keseluruhan, sehingga persoalan-persoalan sepele yang sifatnya sistematis saja menjadi persoalan yang besar dan menjadi fokus, sehingga aspek-aspek keseluruhan umat Islam hilang dari pandangannya. ( dapat dilihat dalam Konflik Yaman, Palestina, Rohingya, Bokoharam, Isis, Afghanistan, dan lainnya), dan fokus pada persoalan (Bacaan Qiraat, Pertengkaran persoalan fikih, dan sebagainya) mereka lupa akan musuh utama dan tujuan islam di muka bumi ini. Kedua, Umat islam modern kini lupa akan bahaya pembentukan golongan-golongan (sekte-sekte maupun organisasi-organisasi) yang notabenenya dapat menciptakaan kecintaannya terhadap golongan-golongannya itu sendiri, sehingga kemaslahatan umat islam pada umumnya terlupakan. Oleh karenanya yang hadir adalah kekerasan-kekerasan antar sesama muslim yang menyebabkan mudahnya para pembenci Islam menggunakan momentum ini untuk memporak-porandakannya. Padahal nabi Muhammad sudah menegaskan akan bahaya penggolongan-penggolongan ini, terutama dalam pemehaman-pemahaman keagamaan dan kemaslahatan kolektif (politik). (dapat dilihat dalam Arab Spring, ISIS, Bokoharam, perang Sunni-Syiah, dan sebagainya) mereka lupa akan musuh utama dan tujuan islam di muka bumi ini. dan Ketiga adalah, umat islam lupa akan penggunaan metode Softpower, yakni metode-metode penyampaian melalui dakwah, ataupun peranan-peranana sosial dan kemanusiaan. Sehingga umat muslim kini sangat agresif dibidang penggunaan senjata perang dan sejenisnya maupun konflik-konflik bersenjata, atau dikenal dengan Hardpower. Akibatnya umat kita lebih mengutamakan beraliansi dengan bangsa-bangsa non-muslim lainnya untuk mencari tekhnologi perang dan sebagainya, seperti Nuklir, dan Senjata atau alat berat lainya. Mereka akan lebih mudah berkonflik dengan sesama muslim ketimbang melawan musuh yang nyata (dapat dilihat pada konflik Palestina dan Israel, serta penanganan Muslim Rohingya), mereka lupa akan musuh utama dan tujuan islam di muka bumi ini.

Maka dari problematika tersebut, dapat dipahami bahwa secara garis besar para pemimpin Islam umat modern ini lupa akan adanya Allah S.W.T rajanya seluruh umat, Sang Maha Pengasih, Penyayang, Pelindung, dan Pemberi kedudukan. Pemimpin kita Sibuk akang memperjuangkan jabatannya sendiri. Untuk itu mari kita tengok usaha-usaha duniawi yang dilakukan para yahudi untuk dapat menjadi pengatur dunia internasional kini.

Pertama, sebelum umat yahudi dapat mengelola dunia seperti era modern kini, dalam negara hegemonnya (Amerika, Rusia, China, maupun negara-negara Eropa lainnya) serta Institusi internasionalnya (baik budaya, sosial, politiknya, dalam hal ini PBB, Hollywood, Ilmuan, dan sebagainya), bangsa yahudi sangat terpuruk dalam keberadaannya di dunia internasional ini. Islam ketika itu masih dikelola oleh para pemimpin-pemimpin yang sangat ingat akan Allah, keilmuannya kuat, dan persoalan politik/keduniaannya pun sangat kuat, serta persoalan keagamaan nya yang sangat padu dengan kematerialan. Maka, umat Yahudi tidak melakukan usaha-usaha perang (seperti yang dilakukan ISIS, Bokoharam, dan kawan-kawannya), namun mereka melakukan usaha softpolitic, yakni dengan mencari kelemahan-kelemahan manusiawi seluruh manusia (layaknya iblis). Mereka mengiming-imingi para pemimpin kita/umat manusia dengan keabadian jabatan, kemudahan ases kemanusiaan, kebebasan dalam segala bentuk dan ruang, serta persoalan-persoalan lainnya yang sangat menyentuh persoalan manusiawi dan nafsu hewani masyarakat (feminisme, gender-equality dan sebagainya), sehingga mereka dengan sangat mudah disenangi oleh masyarakat. hal ini dapat kita lihat bagaimana para Yahudi masuk dan mengelola pemerintahan negara-negara, melalui aspek kebudayaannya yang sangat sarat akan pornografi dan sebagainya, serta mereka mengukuhkan eksistensinya dalam institusi-institusi internasioanal. MEREKA TIDAK AMBIL JALAN PERANG DAN SEBAGAINYA YANG JAUH DARI PERSOALAN KEMANUSIAAN. Kedua, mereka para yahudi/zionis, tidak melakukan perpecahan-perpecahan umat seperti yang dilakukan oleh umat kristen dan Islam. mereka tidak membagi-bagi secara terang-terangan akan keberbedaan pendapat antar sesama golongan, dan gila-gilaan melakukan perdebatan internal antar pemaham agamanya. Akibatnya kesoliditasan akan tujuan utamanya jelas, dan dapat mereka perjuangkan dengan sangat jelas pula. MEREKA TIDAK FOKUS PADA PERSOALAN SEPELE, NAMUN BERJUANG UNTUK KEBANGKITAN KOLEKTIF UMATNYA.

kedua hal ini secara terbuka dapat kita pahami menjadi aspek penting bagaimana melakukan perjuangan-perjuangan untuk bangkit, untuk memperkenalkan konsep baru kepada masyarakat internasional. Adanya konstruksi ide mengenai keberadaan perjuangan-perjuangan ini sagat efektif dalam memikat hati rakyat secara gelobal, sehingga arus akses masuk pada pola pikir dan pola tindaknya sangat mudah diserap. MEREKA TIDAK MENGAMBIL JALAN PERANG/KEKERASAN/REVOLUSI, TAPI USAHA-USAHA NYATA MASUK KEDALAM SISTEM DAN MENGUBAHNYA DARI DALAM HINGGA BERHASIL MENGAMBIL ALIHNYA.

Hal inilah yang tidak dilakukan umat kita. Kita sibuk akan keterburu-buruan untuk mengambil jatah kekuasaan kita dalam mengelola dunia ini. Padahal konsep-konsep diatas (jika kita lepas aspek-aspek non-morilnya yang jauh dari Syari’at Islam) nabi Muhammad telah mengajarkan bagaimana pencapaian akan menangnya Islam dalam mengelola bumi Allah ini dengan metode Softpowernya, sangat jauh dari aspek perang, konflik, dan sebagainya. Pertama kali nabi mengajarkan akan kemurnia Islam, nabi masuk kedalam sistem arab ketika itu, dengan melakukan pengajaran-pengajaran yang intensif dan konsisten kepada umatnya. Nabi tidak langsung melakukan revolusi, perang atau menolak sistem dan mengacuhkannya, melainkan nabi masuk kedalamnya dan mengubah seluruhnya sesuai dengan Syari’at Islam, maka menanglah nabi kita. Perlakuan perang ketika itu adalah pada saat Islam diserang oleh eksternal, dan demi melindungi seluruh umat manusia yang ridho akan Islam, maka cepat diterimalah Islam. Nabi tidak pernah melakukan pemaksaan pemahaman dan ekspansi kekuasaan, hal itu tergambar bagaimana nabi tidak pernah menyerang kewilayah atau individu lainnya untuk mendoktrinkan pemahamannya, melainkan nabi hanya mengabarkan dan menegaskannya dalam hukum (fathul mekah tidak termasuk ekspansi karena nabi menjemput tanah milik muslim yang sebenarnya). Selanjutnya, nabi hanya mengajarkan untuk mencintai Allah dalam Islam setunggal-tunggalnya, dan semurni-murninya, maka organisasi-organisasi/sekte-sekte diluar itu tidak memiliki ruang. Akibatnya manusia seluruhnya mencintai umat islam secara kolektif, dan kepentingan-kepntingan duniawi terfokuskan berdasarkan kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Persoalan Islam dikembalikan pada AL-QUR’AN dan HADIS, bukan pada PAHAM GOLONGAN.

Pada akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa pemimpin dan para tetua kita lupa akan konsep perjuangan kekuasaan yang terlah diajarkan Allah melalui para Rasulnya, sehingga Islam kini sangat porak-poranda dan hina ditengah masyarakat internasional.

TETUA KAMI, SANG AGAMAWAN PENGOLOK

Standar

Kami sedikit terusik ketika para tetua kami yang memahami betul konsep-konsep agama Islam, saling mengolok satu dengan yang lainnya mengenai cara pandang dan pemahamannya masing-masing (secara umum yang menggunakan label Syi’ah dan Sunni) mengenai agama Islam yang mereka yakini sama-sama.

Dewasa ini, urat leher para agamawan/tetua kami, terutama yang melabeli dirinya sebagai Sunni gencar-gencarnya menciptakan propaganda “terstruktur, sistematis, dan massive” mengenai keburukan saudaranya sendiri se-agama yang bersebrangan cara pandang yakni yang berlebelkan Syi’ah.

Propaganda tersebut kami pahami dan sadari sebagai suatu rupa cacian dan olokan yang tidak bermartabat dan tidak mencerminkan keagamawan para tetua kami yang kami sangka mengenal betul ajaran agama kami yang luhur, bermartabat, dan bermoral ini.

Pemahaman label Syi’ah yang mereka katakan sesat tersebut, mereka olok-olok membabi-buta tanpa pandang bulu serta tanpa saringan yang logis & bermartabat terhadap orang-orang muslim lainnya yang mereka lebeli Syi’ah. Mereka mengkafirkan para saudara mereka sendiri, mereka menghina saudara mereka sendiri, mereka menyuruh kami menjauhinya, mereka menutup mata, telinga, dan otak kami untuk berinteraksi kepada tetua kami yang bersebrangan pemahaman itu, sehingga kami yang awam dan tidak tahu apa -apa ini hanya bisa mengangguk dan mengangguk saja mengimani ucapan para tetua kami. Hal itu menyebabkan tertanam dalam perilaku kami su’udzon, pemarah, kolot, bodoh, bahkan penghina yang semakin memperburuk akhlak kami sebagai pemuda Islam.

Mulanya, tetua kami tersebut merasa risih dan terancam akibat adanya hembusan pemahaman yang bersebrangan dari para ekstrimis pencinta Ali bin Abi Thalib, dan turunannya, serta imam-imam yang dijalurnya. Para ekstrimis itu mencintai orang-orang tersebut melebihi cintanya terhadap Rasulullah S.A.W itu sendiri, para nabi, para sahabat nabi, bahkan terhadap ajaran dan kitab-kitab nabi yang diturunkan oleh Allah sendiri. Sehingga para ekstrimis ini memberikan nuansa menyeleweng yang sangat kental terhadap agama mereka itu sendiri yakni Islam.

Sialnya, para ekstrimis tersebut (yakni orang awam yang berlebihan dalam menjalankan ajaran dan tanpa ilmu) memiliki kemiripan paham dengan golongan yang menyatakan sebagai barisan pendukung Ali/Ahlul Bait, yang dikenal dengan label Syi’ah. Padahal, awalnya dukungan tersebut tercipta atas dasar ketika keluarga nabi S.A.W  mengalami pelecehan secara tidak bermartabat oleh orang-orang tertentu, terutama pasca wafatnya nabi S.A.W. Dan pembelanyapun adalah orang-orang islam itu sendiri, yang terdiri dari para sahabat, keluarga nabi S.A.W, dan sebagainya, yang dikenal dengan Syi’ah, atau yang berarti “Pengikut” yang dalam konteks ini merujuk pada شيعة علي. Namun, hal itu diserap oleh para ekstrimis yang turut melebeli dirinya sendiri sebagai Syi’ah. Sehingga pembelaannya tersebut tanpa ilmu, dan tanpa sebab, yang akhirnya melencengkan pembelaan yang mulanya  lururs tersebut.

Maka munculah para golongan yang berusaha meluruskan ajaran Islam kembali kepada jalurnya, serta mengembalikan rasa cinta terhadap nabi dan sahabat dan lainnya sesuai dengan batas-batas cinta yang telah disajikan rasul, yakni golongan yang kita kenal dengan lebel Sunni, ahlussunnah wal jama’ah. Golongan ini semangat awalnya pun sama, yakni baik. Mereka berjuang dengan moral, akhlak, dan perilaku yang lurus. mereka berusaha sekuat tenaga dan akal fikiran untuk MEMPERINGATI yang keliru, dan MEMERANGI yang telah keluar jalur dan merusak Islam. Namun, lagi-lagi muncul para esktrimis, yakni ekstrimis Sunni yang dalam hal ini ekstrim dalam bertindak yang salah, berperilaku yang salah, demi menegakkan kembali ajaran Islam yang disalah praktekan oleh Syi’ah ekstrimis.

Sayang sungguh disayang, dinegara kami yang dikenal dengan mayoritas muslim terbesar didunia ini, disusupi para pegiat yang ekstrimis ini, keduanya sama-sama ekstrimis baik Syi’ah, maupun Sunni. Walaupun mereka semua tidak mau dianggap keduanya, namun dalam cara pandang kami mereka semua itu adalah keduanya.

Tetua Syi’ah kami. Mereka mengajarkan yang ekstrim terhadap kami, mereka atas nama Syi’ahnya merusak para cendikiawan Muslim Syi’ah dan pejuang Muslim Syi’ahnya yang mati-matian berkorban untuk memerangi orang-orang kafir sesungguhnya (Secara umum, para orang-orang kafir di ISRAEL, AMERIKA, maupun EROPA) yang dicontohkan kaum Syi’ah Iran. Mereka mengatas namakan Muslim Syi’ah Iran (yang sebagian besar ber Syi’ah secara lurus dan menjadi mayoritas dinegaranya) dalam proses mengajarkan Syi’ahnya, sehingga kami pun menjadi keliru dalam memahami para Ulama Iran yang sebenarnya keilmuan dunia dan akhiratnya sangat-sangat seimbang dan baik, serta sangat mencintai Islam secara utuh selayaknya ahlussunnah waljamaah. Bahkan mereka melebihi Ahlussunnah  waljamaah dalam berperilaku politik di kancah internasional, mereka berani memerangi kafir yang sebenarnya, dan menentang kafir yang sebenarnya.

Tidak seperti para tetua kami yang mengaku sebagai Sunni namun berperilaku seperti tidak ahlussunnah wal jamaah. Mereka berperilaku bahkan lebih menyimpang dari yang mereka anggap menyimpang, mereka inilah para Sunni yang ekstrimis, yang berperilaku ekstrim dalm berbuat menyimpang seperti yang saya sebutkan diawal.

Sebagai pengelurus ajaran yang menyimpang, mereka malah melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Mereka melakukan olok-olok terhadap ekstrimis Syi’ah, mereka malah mengumbar kesalahan-kesalahan ekstrimis Syi’ah tanpa meluruskannya, sekedar mencela dan mencela. Ketika mereka sadar bahwa ekstrimis Syi’ah keliru, mereka malah menjauhinya dengan mencaci maki mereka, bukannya meluruskan mereka, atau bahkan memerangi mereka. Mereka hanya menyuruh kami yang awam ini menjauhinya tanpa menunjukan kebenarannya kepada kami. Mereka malah mencontohkan kepada kami cara-cara meghina, cara-cara mengolok-olok, cara-cara berpedoman kepada hal-hal yang bathil yang menjadi keyakinan umum tanpa mengkroscek dan memahami ulang dengan baik sumber permasalahannya.

Padahal mereka sendiripun telah memahami bahwa, perlakuan mereka itulah yang telah diterapkan oleh para JAHILIYAH dalam memerangi ajaran ISLAM dahulu. Pada masa itu, para jahiliyah hanya bisa mengolok-olok ajaran Rasul, para jahiliyah hanya bisa melecehkan ajaran Rasul tanpa mampu mengajarkan akhlak dan moral yang lebih baik dari ajaran yang mereka anggap salah tersebut.

Berlainan denga yang dicontohkan Rasul ketika menghadapi para jahiliyah tersebut. Beliau mencontohkan kepada kami bahwa, yang salah (si Jahiliyan nan Kafir) itu harus diluruskan, yakni dengan cara, pertama dengan LISAN, memperingati kepada yang berbuat salah, bukan mengolok-olok yang berbuat salah, dan mengajak orang lain untuk menjauhi yang berbuat salah dan mengajaknya untuk mengihinanya. Tidak, nabi kami tidak mengajarkan itu, nabi kami mengajarkan untuk menceramahi face by face yang berbuat salah dan memperingatinya.

Lalu yang kedua, nabi kami mengajarkan untuk menegakan kebenaran dengan PERILAKU/CONTOH. Setelah memperingati kepada yang berbuat salah, maka nabi kami mengajarkan untuk terus mengajarkannya mengenai kebenaran, dan mengajarkan kepada kami mengenai kebenaran itu sendiri, bukan mengajarkan untuk melecehkan yang salah, namun mengajarkan kami untuk bertindak dan berperilaku benar dan lurus sesuai dengan ajaran Islam. Nabi kami mengajrkan kami untuk mencontohkan kepada mereka yang salah PERILAKU KAMI YANG BAIK, YANG LEBIH BERMORAL, DAN ISLAMIketimbang sibuk mengajarkan kami berperilaku untuk menjauhi yang salah. Nabi kami tidak menjauhi yang salah, namun meluruskan yang salah.

Serta yang terakhir, nabi kami mengajarkan untuk memerangi yang mengancam kehidupan kami, yang merusak keamanan kami dalam menerapkan ajaran kami, dan yang mengancam kemurnian ajaran kami. Bukan mengajarkan kami untuk hanya sebatas menjauhi dan mengolok-oloknya. Maka dari itu menanglah Islam dizaman nabi kami, dizaman khalifaturrasyidin kami, dan dizaman keemasan kami.

Namun sekarang, dinegara kami sendiri, ajaran islam tidak dibanggakan oleh kami sebagai pemuda. Ajaran islam menjadi agama norak dan tidak bermoral bagi kalangan kami. Kami sebagai pemuda malah melecehkan dan memperkosa budaya, ajaran, dan ilmu agama kami sendiri, yakni agama ISLAM YANG HAK dan AGUNG. Islam lenyap ditangan kami.

Ini semua akibat dari contoh yang anda-anda ajarkan duhai tetua kami yang lebih dahulu mempelajari agama kami. Engkau hanya pandai memplokamirkan negara khilafah, engkau hanya pandai meproklamirkan penegakan Syari’at, dan engkau hanya pandai menyuarakan Jihad. Tapi tidak pandai mengajarkan kami apa itu negara khilafah, bagai mana cara kerjanya, apa untungnya bagi kami sebagai pemuda untuk menegakannya ketimbang demokrasi dan sebagainya yang diajarkan musuh anda. Anda tidak pandai mengajarkan kami apa itu Syari’at, apa baiknya dari pada UUD, dimana sisi moralnya yang harus kami perjuangkan, bagaimana anda mencontohkan penegakan Syari’at dari sisinya yang mulia dimata kami. Dan anda tidak pandai mengajarkan kepada kami apa itu Jihad, bagaimana cara kerjanya, serta penerapan seperti apa yang diajarkan Rasul kami mengenai Jihad.

Semua itu terbutakan dari kami, sehingga kami membencinya. Padahal kami meyakini bahwa, semua itu adalah kebenaran ajaran Islam dan mampu membangkitkan Islam. Kami meyakini, bentuk khilaf itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda mengajarkannya benar kepada kami. Hukum Syari’at itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda mengajarkannya benar kepada kami. Jihad itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda benar mengajarkan dan mencontohkannya kepada kami.

Sampai matipun kami akan berjuang mati-matian menegakannya duhai tetua bila kalian mau mundur dari cara-cara kalian yang hanya sebatas saling olok-mengolok, dan membiarkan kami bangkit dari kebutaan kami yang kalian butakan.

Masa Uji Masyarakat

Standar

abul-ala-al-maududi-2

Mengutip dari kalimat Abul A’la al-Maududi dalam bukunya Worship in Islam, tentang makna puasa di bulan Ramadhan dalam masyarakat Muslim.

“Bila seseorang dalam keadaan koma, dan akan di uji apakah masih ada kehidupan dalam dirinya atau apakah dia benar-benar telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, maka didepan lubang hidungnya diletakan cermin. jika cermin tersebut menjadi kabur sekalipun sangat samar, kita tahu bahwa orang tersebut belum meninggal dunia. Jika tidak, kita tahu, bahwa nafas kehidupannya telah tiada dan dia bukan apa-apa lagi;

Jika siapa saja yang ingin melakukan suatu ujian yang sama terhadap suatu masyarakat Islam untuk melihat apakah masyarakat itu masih hidup ataukah masih mempunyai tanda-tanda kehidupan, dia harus melihatnya pada bulan Ramadhan. Jika dia melihat banyaknya bukti dari taqwa, dari rasa takut dan Tuhan, dan dari dorongan untuk berbuat baik, maka dia boleh dengan aman menyimpulkan bahwa masyarakat tersebut masih mempunyai kehidupan. Akan tetapi, jika dilain pihak dia melihat bahwa kebaikan telah berada didasar surut, dosa serta kejahatan sangat meluas, dan semangat islam banyak yang mati, maka dia dapat mengatakan Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un, karena jelas masyarakat tersebut hampir mati sebagai suatu kesatuan islam.”

Dalam perumpamaan tersebut, Abul A’la berusaha menggambarkan urgensi dari ibadah puasa Ramadhan terhadap komunitas Muslim seluruhnya. Disana ia menggambarkan bahwa, salah satu ruh Islam kedua setelah shalat yakni puasa, tidak hanya dapat ditafsirkan dampaknya sebatas terhadap per-individu saja, namun secara kolektif memiliki pengaruh yang lebih kuat dan besar terhadap masyarakat muslim itu sendiri. Puasa menjadi salah satu pembuktian dari kekuatan dan kekokohan masyarakat muslim, serta menjadi landasan penting untuk menciptakan masyarakat muslim yang Islam secara murni.