Pengilmu Keliru

Standar

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ulumuddiin berpendapat bahwa, “Cendikiawan tiruan itu memberikan gambaran kepada masyarakat, bahwa tidak ada ilmu agama selain fatwa-fatwa pemerintahan yang digunakan hakim untuk memutuskan perkara kalah-menang dikalangan masyarakat awam | atau  ilmu perdebatan yang digunakan oleh orang yang mencari kebanggaan, supaya unggul dan melindih lawan | atau ilmu mengatur pembicaraan dengan hiasan, yang dapat dipakai oleh orang yang senang berpidato, buat menarik orang-orang awam.”

Jika mau jujur terhadap nurani, keadaan malang ini sedang berlangsung dalam kondisi pengilmu negara muslim terbesar didunia ini. Hal itu tergambar jelas dalam sistem pendidikan yang terbudayakan dinegara tersebut. Terutama dalam sistem pendidikan tingkat tertinggi dan termulianya, yakni universitas.

Disalah satu universitasnya, yaitu universitas yang disangka paling memahami agama yang diajarkan orang termulia “Muhammad S.A.W”, menganggap orang yang pandai bercuap berdebat takkaruan demi menunjang kebanggan, sebagai yang paling mulia tingkatannya.

Cuapan tersebut lahir dari alat yang paling munafik, yakni mulut. Emasnya mulut menjadi tolak ukur mulianya seseorang. Jika mau jujur tehadap hati dan akal sebagai manusia kotor dan hina, seluruh kata-kata yang lahir dari silatan lidah yang membabibuta tidak mungkin lahir dari kesingkronan hati dan akal. Hal itu yang menciptakan perbedaaan setiap manusia dalam berpendapat terhadap suatu objek yang ia lihat.

Persoalan tersebut dapat kita buktikan dari suatu contoh yang sangat umum, yakini: ketika suatu botol, diletakan didepan 4 orang yang melingkar mengelilinginya, maka ketika anda tanya satu persatu apa yang mereka lihat, mereka akan menjawab dengan berbagai variasi yang mereka serap dari pengamatannya, dan diterjemahkan oleh akalnya. hal itu tercipta akibat dari hilangnya peran hati dalam individu tersebut dalam mengolah pandangannya. Maka, terciptalah variasi perkataan yang berusaha menghasilkan fakta yang paling dapat diterima oleh masyarakat umum, yakni fakta hasil silat lidah tanpa hati/moral.

maka terciptalah masyarakt-masyarakat immoral dinegaranya. yang memahami ilmu hukum, berhukum tanpa moral, maka terciptalah institusi hukum yang menjalankan hukum sesuai akal saja tanpa moral. yang memahami ilmu seni, berseni tanpa moral, maka terciptalah institusi seni yang menjalankan seni sesuai akal saja tanpa moral (wanita telanjang, penghinaan, dan sebagainya). dan yang memahami ilmu agama, beragama tanpa moral, maka terciptalah institusi agama yang menjalankan agama sesuai akal saja tanpa moral (menjadi tuhan dunia dalam berfatwa, menjadi tuhan dunia dalam menghakimi manusia, menjadi pengolok agama lain tanpa tindakan). Semua mekar dinegara ini