Tenaga Pendidik Indonesia & Kaum Sofis

Standar

Sepertinya, cendikia, tenaga pendidik, ulama dan sebagainya, yang ada di Indonesia kini, seolah sedang mengembalikan ingatan/gambaran kita tentang kaum Sofis, yakni kaum yang mendidik sebatas untuk menggapai kebutuhan materilnya (uang, tahta, Sanjungan, dan sebagainya). Oleh karenanya, didikannya yang hadir adalah atas dasar simple karena kebutuhan yang di didiknya. Sempit sebatas memenuhi kebutuhan zaman yang di didiknya. Mendidik hanya agar yang di didiknya pandai beretorika, berdebat, berpidato, dan sebagainya. Sehingga yang di didiknya berpuas diri sebatas pada penggapain kebutuhan materiil.

Jauh dari tujuan utama yang digariskan para pengilmu pendahulunya, yang menjadikan ilmu sebagai penyegar gairah ketidak tahuannya terhadap suatu fenomena, agar dapat diserapi segala aspek nilai-nilainya kedalam dirinya sendiri. Dijadikannya sebagai pembentuk karekter yang bervisi jauh kedepan melampaui batas zaman, agar dapat membentuk kebaikan seluruh aspek tatanan yang ada, dan yang akan ada. Sehingga usaha mendidik yang timbul adalah murni untuk menyajikan kebaikan dalam segala aspek. Untuk memenuhi kebutuhan moral agar kehidupan yang ada mencapai pada puncak tatanan yang harmonis.

Kepedulian Pendidik yang ada, murni supaya yang dididik menjadi insan yang lebih baik pada tingkat moral dan akhlak. Agar yang di didik lebih mengenal alam semesta secara mendalam. Sehingga, dari kesemuanya bermuara pada tujuan akhir yang kongkrit, menjadikan yang di didiknya mengenal siapa dirinya, siapa yang menciptakannya, apa tujuan yang menciptakannya menjadikan dirinya sebagi dirinya yang ada sekarang. Agar yang di didik mencapai pengenalan batinnya terhadap Tuhan yang maha Esa. Sehingga menjadikan yang didiknya manusia bebas secara utuh. Bebas dari segala bentuk cengkraman materil, yang menghambatnya untuk terus berdekatan dengan Tuhannya. Bebas semata untuk mentaati apa yang telah di gariskan Tuhan yang maha Esa. Bebas untuk menjaga kebebasan yang telah ditentukan oleh Allah, Tuhannya yang maha Esa, agar bebas dan tidak merusak/menggagu kebebasan individu lainnya.

Hal inilah yang hilang dari tenaga pendidik Indonesia kini. Hilang bersama tujuan-tujuan murni keberadaan Ilmu.