Gak Ada Judul Cuma Ngedumel

Standar

Words only represent something else. They are not real things. They are only symbols. According to the philosophy of enlightenment, everything is a symbol. The reality of symbols is an illusory reality. Nonetheless, it is the one in which we live. -Gery Zukav-

Agama itu doktrin, kalo bukan doktrin bukan agama namanya. Soalnya isinya hukum.

Agama itu rancu, kalo gak rancu bukan agama namanya. Soalnya isinya tentang sebab akibat yang sangat kompleks, baik yang di luar nalar manusia, maupun sesuai.

Agama itu sempit, kalo gak sempit bukan agama namanya. Karena isinya seputar kehidupan dan kematian, tidak lebih.

tapi…

Agama itu petunjuk, pembimbing, dan pengajak, kalo gak memberi petunjuk, bimbingan, dan ajakan, bukan agama namanya. Soalnya isinya menujukan, mengajak, dan membimbing tentang hukum-hukum alam di dunia, baik yang bersifat irasional maupun rasional.

Agama itu logis, kalo gak logis bukan agama namanya. Soalnya isinya ilmu yang dapat dipahami manusia, penjelasan yang sangat terang bederang dan sangat indah dalam menjawab segala persoalan dan pertanyaan.

Agama itu luas, kalo gak luas bukan agama namanya. Soalnya isinya tidak sebatas kata kehidupan dan kematian saja, tapi jauh kedalam kata tersebut, karena isinya seputar penjabaran kongkrit dan gamblang persoalan kehidupan dan kematian. Panjang, lebar dan sangat luas, karna seluas alam dari kedua kata tersebut, tidak terbatas ruang dan waktu yang dibahasnya.

Agama yang dimaksud barusan tentu agama yang terakhir. Karena tidak ada yang seperti di atas kalo bukan yang di akhir. karena yang di akhir itu selalu bersifat penyempurna dan penetap. Sehingga mustahil adanya yang di awal dan di tengah bersifat seperti agama di atas. Agama yang terakhir tentu adalah Islam.

Tidak jelas, ya karna ini cuma kata-kata, seperti yang dikatakan Gery Zukav dalam The Dancing Wu Li Master, An Overview of the New Physics, halaman 270 “Words only represent something else. They are not real things.” Sekian~

Iklan

Kritik Islam Terhadap Marxisme

Standar

Hanya mengutip dari bukunya Ali Syari’ati halaman 119 yang berjudul Kritik Islam Terhadap Marxisme dan Sesat-Pikir Barat Lainnya. Dia mengatakan bahwa,

Tidak mengherankan bahwa setelah jatuhnya borjuis dan kemenangan komunisme, dialektika Marx terpaksa berhenti dalam sejarah, dan perjuangan tesis dan anti-tesis mencapai puncak dalam semacam koeksistensi damai! Marx tak berdaya menunjukan kemana , setelah komunisme, nasib manusia akan menuju dalam dunia ini; apa lagi dunia nanti (hari kemudian). Inilah masalah yang tidak dapat dipecahkan baik oleh materialisme lama maupun materialisme dialektika. Karena, seperti yang dikatakan Rene Guenon: “apabila dunia tanpa arti dan tujuan, maka manusia pun tanpa arti dan tujuan,” Marx mengakui bahwa kemanusiaan semacam itu tidak mempunyai nasib “nyata.”

Islam, dipihak lain, berbuat lebih dari sekedar memberi kemanusiaan suatu kedudukan terhormat dalam alam, “Telah Kami muliakan anak cucu Adam.” (QS 17:70). Ini lebih dari sekedar menyangkal bahwa Tuhan menjadikan manusia makhluk yang tak berdaya , kehilangan dirinya, mencari kekuatan dan nilai-nilainya sendiri dalam wujud Tuhan dan menuntut nilai-nilai itu dari-Nya dengan “keluhan dan air mata.” Islam menganggap bahwa Tuhan menyerahkan amanataNya kepada kemanusiaan: “Kami tawarkan amanat pada langit, bumi dan gunung-gunung, dan mereka menolak untuk menanggungnya (memikulnya) karena takut, dan manusialah yang melakukannya. (QS 33:70)” Islam telah menunjukan bahwa manusia diciptkan sebagai wakil Allah dalam alam: “Sesungguhnya hendak Ku tempatkan di bumi seorang Khalifah.” (QS 33:30)

TETUA KAMI, SANG AGAMAWAN PENGOLOK

Standar

Kami sedikit terusik ketika para tetua kami yang memahami betul konsep-konsep agama Islam, saling mengolok satu dengan yang lainnya mengenai cara pandang dan pemahamannya masing-masing (secara umum yang menggunakan label Syi’ah dan Sunni) mengenai agama Islam yang mereka yakini sama-sama.

Dewasa ini, urat leher para agamawan/tetua kami, terutama yang melabeli dirinya sebagai Sunni gencar-gencarnya menciptakan propaganda “terstruktur, sistematis, dan massive” mengenai keburukan saudaranya sendiri se-agama yang bersebrangan cara pandang yakni yang berlebelkan Syi’ah.

Propaganda tersebut kami pahami dan sadari sebagai suatu rupa cacian dan olokan yang tidak bermartabat dan tidak mencerminkan keagamawan para tetua kami yang kami sangka mengenal betul ajaran agama kami yang luhur, bermartabat, dan bermoral ini.

Pemahaman label Syi’ah yang mereka katakan sesat tersebut, mereka olok-olok membabi-buta tanpa pandang bulu serta tanpa saringan yang logis & bermartabat terhadap orang-orang muslim lainnya yang mereka lebeli Syi’ah. Mereka mengkafirkan para saudara mereka sendiri, mereka menghina saudara mereka sendiri, mereka menyuruh kami menjauhinya, mereka menutup mata, telinga, dan otak kami untuk berinteraksi kepada tetua kami yang bersebrangan pemahaman itu, sehingga kami yang awam dan tidak tahu apa -apa ini hanya bisa mengangguk dan mengangguk saja mengimani ucapan para tetua kami. Hal itu menyebabkan tertanam dalam perilaku kami su’udzon, pemarah, kolot, bodoh, bahkan penghina yang semakin memperburuk akhlak kami sebagai pemuda Islam.

Mulanya, tetua kami tersebut merasa risih dan terancam akibat adanya hembusan pemahaman yang bersebrangan dari para ekstrimis pencinta Ali bin Abi Thalib, dan turunannya, serta imam-imam yang dijalurnya. Para ekstrimis itu mencintai orang-orang tersebut melebihi cintanya terhadap Rasulullah S.A.W itu sendiri, para nabi, para sahabat nabi, bahkan terhadap ajaran dan kitab-kitab nabi yang diturunkan oleh Allah sendiri. Sehingga para ekstrimis ini memberikan nuansa menyeleweng yang sangat kental terhadap agama mereka itu sendiri yakni Islam.

Sialnya, para ekstrimis tersebut (yakni orang awam yang berlebihan dalam menjalankan ajaran dan tanpa ilmu) memiliki kemiripan paham dengan golongan yang menyatakan sebagai barisan pendukung Ali/Ahlul Bait, yang dikenal dengan label Syi’ah. Padahal, awalnya dukungan tersebut tercipta atas dasar ketika keluarga nabi S.A.W  mengalami pelecehan secara tidak bermartabat oleh orang-orang tertentu, terutama pasca wafatnya nabi S.A.W. Dan pembelanyapun adalah orang-orang islam itu sendiri, yang terdiri dari para sahabat, keluarga nabi S.A.W, dan sebagainya, yang dikenal dengan Syi’ah, atau yang berarti “Pengikut” yang dalam konteks ini merujuk pada شيعة علي. Namun, hal itu diserap oleh para ekstrimis yang turut melebeli dirinya sendiri sebagai Syi’ah. Sehingga pembelaannya tersebut tanpa ilmu, dan tanpa sebab, yang akhirnya melencengkan pembelaan yang mulanya  lururs tersebut.

Maka munculah para golongan yang berusaha meluruskan ajaran Islam kembali kepada jalurnya, serta mengembalikan rasa cinta terhadap nabi dan sahabat dan lainnya sesuai dengan batas-batas cinta yang telah disajikan rasul, yakni golongan yang kita kenal dengan lebel Sunni, ahlussunnah wal jama’ah. Golongan ini semangat awalnya pun sama, yakni baik. Mereka berjuang dengan moral, akhlak, dan perilaku yang lurus. mereka berusaha sekuat tenaga dan akal fikiran untuk MEMPERINGATI yang keliru, dan MEMERANGI yang telah keluar jalur dan merusak Islam. Namun, lagi-lagi muncul para esktrimis, yakni ekstrimis Sunni yang dalam hal ini ekstrim dalam bertindak yang salah, berperilaku yang salah, demi menegakkan kembali ajaran Islam yang disalah praktekan oleh Syi’ah ekstrimis.

Sayang sungguh disayang, dinegara kami yang dikenal dengan mayoritas muslim terbesar didunia ini, disusupi para pegiat yang ekstrimis ini, keduanya sama-sama ekstrimis baik Syi’ah, maupun Sunni. Walaupun mereka semua tidak mau dianggap keduanya, namun dalam cara pandang kami mereka semua itu adalah keduanya.

Tetua Syi’ah kami. Mereka mengajarkan yang ekstrim terhadap kami, mereka atas nama Syi’ahnya merusak para cendikiawan Muslim Syi’ah dan pejuang Muslim Syi’ahnya yang mati-matian berkorban untuk memerangi orang-orang kafir sesungguhnya (Secara umum, para orang-orang kafir di ISRAEL, AMERIKA, maupun EROPA) yang dicontohkan kaum Syi’ah Iran. Mereka mengatas namakan Muslim Syi’ah Iran (yang sebagian besar ber Syi’ah secara lurus dan menjadi mayoritas dinegaranya) dalam proses mengajarkan Syi’ahnya, sehingga kami pun menjadi keliru dalam memahami para Ulama Iran yang sebenarnya keilmuan dunia dan akhiratnya sangat-sangat seimbang dan baik, serta sangat mencintai Islam secara utuh selayaknya ahlussunnah waljamaah. Bahkan mereka melebihi Ahlussunnah  waljamaah dalam berperilaku politik di kancah internasional, mereka berani memerangi kafir yang sebenarnya, dan menentang kafir yang sebenarnya.

Tidak seperti para tetua kami yang mengaku sebagai Sunni namun berperilaku seperti tidak ahlussunnah wal jamaah. Mereka berperilaku bahkan lebih menyimpang dari yang mereka anggap menyimpang, mereka inilah para Sunni yang ekstrimis, yang berperilaku ekstrim dalm berbuat menyimpang seperti yang saya sebutkan diawal.

Sebagai pengelurus ajaran yang menyimpang, mereka malah melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Mereka melakukan olok-olok terhadap ekstrimis Syi’ah, mereka malah mengumbar kesalahan-kesalahan ekstrimis Syi’ah tanpa meluruskannya, sekedar mencela dan mencela. Ketika mereka sadar bahwa ekstrimis Syi’ah keliru, mereka malah menjauhinya dengan mencaci maki mereka, bukannya meluruskan mereka, atau bahkan memerangi mereka. Mereka hanya menyuruh kami yang awam ini menjauhinya tanpa menunjukan kebenarannya kepada kami. Mereka malah mencontohkan kepada kami cara-cara meghina, cara-cara mengolok-olok, cara-cara berpedoman kepada hal-hal yang bathil yang menjadi keyakinan umum tanpa mengkroscek dan memahami ulang dengan baik sumber permasalahannya.

Padahal mereka sendiripun telah memahami bahwa, perlakuan mereka itulah yang telah diterapkan oleh para JAHILIYAH dalam memerangi ajaran ISLAM dahulu. Pada masa itu, para jahiliyah hanya bisa mengolok-olok ajaran Rasul, para jahiliyah hanya bisa melecehkan ajaran Rasul tanpa mampu mengajarkan akhlak dan moral yang lebih baik dari ajaran yang mereka anggap salah tersebut.

Berlainan denga yang dicontohkan Rasul ketika menghadapi para jahiliyah tersebut. Beliau mencontohkan kepada kami bahwa, yang salah (si Jahiliyan nan Kafir) itu harus diluruskan, yakni dengan cara, pertama dengan LISAN, memperingati kepada yang berbuat salah, bukan mengolok-olok yang berbuat salah, dan mengajak orang lain untuk menjauhi yang berbuat salah dan mengajaknya untuk mengihinanya. Tidak, nabi kami tidak mengajarkan itu, nabi kami mengajarkan untuk menceramahi face by face yang berbuat salah dan memperingatinya.

Lalu yang kedua, nabi kami mengajarkan untuk menegakan kebenaran dengan PERILAKU/CONTOH. Setelah memperingati kepada yang berbuat salah, maka nabi kami mengajarkan untuk terus mengajarkannya mengenai kebenaran, dan mengajarkan kepada kami mengenai kebenaran itu sendiri, bukan mengajarkan untuk melecehkan yang salah, namun mengajarkan kami untuk bertindak dan berperilaku benar dan lurus sesuai dengan ajaran Islam. Nabi kami mengajrkan kami untuk mencontohkan kepada mereka yang salah PERILAKU KAMI YANG BAIK, YANG LEBIH BERMORAL, DAN ISLAMIketimbang sibuk mengajarkan kami berperilaku untuk menjauhi yang salah. Nabi kami tidak menjauhi yang salah, namun meluruskan yang salah.

Serta yang terakhir, nabi kami mengajarkan untuk memerangi yang mengancam kehidupan kami, yang merusak keamanan kami dalam menerapkan ajaran kami, dan yang mengancam kemurnian ajaran kami. Bukan mengajarkan kami untuk hanya sebatas menjauhi dan mengolok-oloknya. Maka dari itu menanglah Islam dizaman nabi kami, dizaman khalifaturrasyidin kami, dan dizaman keemasan kami.

Namun sekarang, dinegara kami sendiri, ajaran islam tidak dibanggakan oleh kami sebagai pemuda. Ajaran islam menjadi agama norak dan tidak bermoral bagi kalangan kami. Kami sebagai pemuda malah melecehkan dan memperkosa budaya, ajaran, dan ilmu agama kami sendiri, yakni agama ISLAM YANG HAK dan AGUNG. Islam lenyap ditangan kami.

Ini semua akibat dari contoh yang anda-anda ajarkan duhai tetua kami yang lebih dahulu mempelajari agama kami. Engkau hanya pandai memplokamirkan negara khilafah, engkau hanya pandai meproklamirkan penegakan Syari’at, dan engkau hanya pandai menyuarakan Jihad. Tapi tidak pandai mengajarkan kami apa itu negara khilafah, bagai mana cara kerjanya, apa untungnya bagi kami sebagai pemuda untuk menegakannya ketimbang demokrasi dan sebagainya yang diajarkan musuh anda. Anda tidak pandai mengajarkan kami apa itu Syari’at, apa baiknya dari pada UUD, dimana sisi moralnya yang harus kami perjuangkan, bagaimana anda mencontohkan penegakan Syari’at dari sisinya yang mulia dimata kami. Dan anda tidak pandai mengajarkan kepada kami apa itu Jihad, bagaimana cara kerjanya, serta penerapan seperti apa yang diajarkan Rasul kami mengenai Jihad.

Semua itu terbutakan dari kami, sehingga kami membencinya. Padahal kami meyakini bahwa, semua itu adalah kebenaran ajaran Islam dan mampu membangkitkan Islam. Kami meyakini, bentuk khilaf itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda mengajarkannya benar kepada kami. Hukum Syari’at itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda mengajarkannya benar kepada kami. Jihad itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda benar mengajarkan dan mencontohkannya kepada kami.

Sampai matipun kami akan berjuang mati-matian menegakannya duhai tetua bila kalian mau mundur dari cara-cara kalian yang hanya sebatas saling olok-mengolok, dan membiarkan kami bangkit dari kebutaan kami yang kalian butakan.

Meng-Islamkan Demokrasi

Standar

Bagaimana kalau kita mengislamkan saja demokrasi itu? bagaimana jika kita masyarakat muslim dunia menghapus secara menyeluruh ego masing-masing untuk membuka mata kembali, merebut kembali, dan menyadarkan kembali bahwa suatu sistem yang telah diajarkan nabi Muhammad dan para khalifah mengenai politik yang telah direbut serta di transformasikan namanya oleh barat menjadi nama demokrasi.

Baiklah jika sebelumnya 3 jagoan Yunani, Socrates, Plato, dan Aristoteles pada masa sekita 500-an SM telah menyinggung sistem demokrasi. Namun mereka tidak mengindahkan sistem ini, karena menurut mereka sistem inilah sistem terburuk dalam politik dikarenakan sistem ini menyerahkan urusan negara kepada banyak kepala, sehingga keputusan yang tercipta tidak se-efektif dan se-efisien dari pengambilan keputusan negara. Bagi mereka sistem ini rapuh, dapat cepat memunculkan konflik, dikerenakan persoalan tadi, banyak kepala maka akan banyak benturan ide dan sebagainya.

Tetapi ketidakpengindahan yang dilakukan 3 jagoan Barat tersebut terhadap Demokrasi dirubah 360 derajat oleh masyarakat Barat era pencerahan. Mereka tersadarkan akan pentingnya kebebasan bagi seluruh individu. Mereka merasa sudah tidak sesuai dengan sistem (yang dinilai baik oleh 3 pemikir tersebut) monarki ataupun aristokrasi. Dua sistem itu pada zamannya malah merusak masyarakat, malah menginjak-injak nilai kemanusiaan, nilai nilai keilmuan dan sebagainya karena telah tertuhankan raja maupun pendeta-pendeta pada masa itu yang menyebabkannya bertingkah sewenang wenang tanpa adanya pengawas dari setiap kebijakan mereka.

oleh karenanya munculah orang-orang seperti Martin Luther dan John Calvin.

Öèôðîâàÿ ðåïðîäóêöèÿ íàõîäèòñÿ â èíòåðíåò-ìóçåå gallerix.ru john-calvin-1.jpg

Martin Luther                                         John Calvin

Mereka menentang dominasi tunggal Gereja maupun kerejaan yang bertindak sewenang wenang atas nama agama yang menjadikan mereka sebagai perwakilan Tuhan bertindak sewenang wenang terhadap rakyat. Mereka berdua berusaha menyadarkan masyarakat untuk memecah dominasi gereja maupun raja, dan pada akhirnya mereka menyadarkan masyrakat sehingga peperangan untuk nama demokrasi, kebebasan, dan sebagainya muncul untuk menghancurkan sistem monarki maupun aristokrasi.

Dari hal itu, dunia barat mulai mencekoki keseluruh belahan dunia mengenai sistem demokrasi. Sistem modern yang paling baik dan efektif menurutnya.

Sistem itu pun secara serampangan diterima oleh seluruh negara. Mereka secara bulat-bulat menerima dan memperjuangkan sistem ini ke dalam negaranya, tanpa mengindahkan agama, budaya, adat istiadat, dan kebiasaan lokal. Negara-negara tersebut mengambilnya dengan kebutaan dan kebodohan. Mereka menerima tanpa berfikir.

Hal itu juga dirasakan oleh kaum muslimin seluruh dunia. Pemimpin mereka dan cendikiawan- cendikiawannya juga menerima demokrasi tersebut secara bulat-bulat tanpa mengindahkan sejarah, tanpa mengindahkan kebudayaannya, tanpa mengindahkan pemikiran dan peradabannya sendiri. Mereka menerima begitu saja apa yang di ajarkan oleh sistem Barat. Mereka lupa bahwa agama mereka, ajaran mereka adalah Islam yang berbeda sama sekali dengan ajaran yang disampaikan oleh agama buatan Barat terdahulu, yakni kristen. hal itu yang menyebabkan mereka berfikir sama untuk memisahkan antara agama dengan persoalan dunia (politik) yang dikenal dengan sekulerisme.

Sekulerisme/ pemisahan tersebut pada masa awal Luther dan Calvin disebabkan oleh kelelahan mereka oleh tindakan gereja yang mengatas namakan agama sewenang-wenang merubah dan mempelintirkan ayat-ayat tuhan demi menggapai kepentingan politik seperti jabatan, kekayaan, dan sebagainya yang kemudian juga menjadikan mereka berlaku biadab terhadap rakyat. Oleh karenanya Luther memisahkan itu agar perpolitikan yang tercipta terbebas dari kesewenang-wenangan atas nama agama.

Berbeda dengan islam yang sejak zaman Nabi Muhammad tetap  menjaga ajaran Tuhan hingga secara estafet dijaga pula oleh para penerusnya yakni Khalifah Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) RadhiAllahu Anhu. Ajaran islam yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah juga telah dijanjikan oleh Allah untuk dijaga oleh “dirinya sendiri” hingga hari Akhir. Hal itu dapat ditelusuri dan dibuktikan secara fakta oleh setiap individu yang tidak yakin pada persoalan tersebut. Setiap manusia yang berakal dan sabar dalam meneliti dan membuka mata maupun hati akan menerima hukum-hukum Islam dalam Al-Qur’an dengan yakin bahwa hukum-hukum dalam Al-Qur’an itulah yang asli dari Tuhan, tanpa adanya pemelintiran dan perubahan.

Sehingga bila ingin mensekulerkan Islam dari persoalan dunia (politik dan sebagainya), merupakan bencana yang besar bagi keberadaan umat manusia, khususnya umat Islam. Islam tidak patut untuk di sekulerkan. Islam merupakan ruh kehidupan yang sulit di pisahkan. Islam adalah dunia, dan dunia adalah Islam. Ada beberapa cendikiawan yang berusaha mensucikan agama Islam dengan cara memisahkannya dari segala persoalan duniawi seperti politik dan sebagainya. Namun mereka lupa bahwa, kotor dan tidak sucinya persoalan dunia adalah karena melepaskan Islam. Islam tidak akan kotor dengan noda-noda hal sepele itu. Bolehlah jika terroris yang menggunakan Islam sebagai politiknya menyebabkan Islam tercemar, tapi anda lupa jika itu karena umat muslim sendiri yang tidak pernah memperjuangkan secara murni ajaran islam keseluruh aspek dunia, sehingga orang-orang yang diluar islam memperdayakan islam untuk menggapai kepentingan mereka, dan itu merupakan kesalahan kita.

Ajaran Demokrasi yang kita pahami sekarang dari barat, pada dasarnya sama dengan apa yang telah di ajarakan Nabi Muhammad pada masa kepemimpinannya. seperti halnya tema pokok yang diajarkan nabi yakni Musyawarah. musyawarah dalam islam sangat dijunjung tinggi dalam mengambil keputusan, dan hal itu telah diterpkan nabi seperti ketika penyusunan strategi perang khandak, nabi menerima usulan sahabatnya dalam musyawarah yakni Salman Al-Farisi untuk menggali parit.

Selanjutnya adalah pengawasan umum yang dilakukan oleh masyarakat terhadap pemipin baik dalam memilihnya maupun dalam perjalanan kepemimpinannya. umat Islam diajarkan untuk berbai’at kepada pemimpin yang ia Ridhoi dan dia percayai, dan bila pemimpin tersebut tidak mendapat bai’at dari rakyatnya, maka pemimpin tersebut tidak mendapatkan kekuatan pada posisi kepemimpinan. mengenai pengawasan terhadap segala tindakan pemimpin juga diajarkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, khalifa pertama Muslim, sepeninggal Nabi Muhammad. Ketika dalam pidato pengangkatannya beliau berucap,

“Hadirin sekalian, saya diangkat menjadi pemimpin kalian, namun begitu saya bukanlah yang terbaik diantara kalian. Bila kalian melihat saya berbuat kebatilan, maka luruskanlah saya. Bila kalian melihat saya mengikuti kebenaran, maka dukunglah saya. Patuhilah saya selama saya mematuhi Allah dalam mengurus urusan kalian. Bila saya durhaka kepada Allah, maka janganlah ikuti saya.”dikutip dari buku Dr. Yusuf Qardhawy yang berjudul Fiqih Negara, terjemahan, hal. 175.

———————————————————————————————————————

Demokrasi merupakan suatu sistem politik yang muncul dari pengalaman-pengalam sistem politik sebelumnya yakni monarki dan aristokrasi. Pada masa kekhalifahan di tengah masyarakat muslimin, kesalahan-kesalahan dari sistem monarki juga sering mencuat, karena rapuhnya pemimpin yang menjadi tonggak kepemimpinan. Saya mengambil contoh mengenai masa Jabatan yang memiliki batas dalam sistem demokrasi untuk mengungkap kesalahan sistem monarki pada masa Kekhalifahan Islam. kesalahan ini terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan, yang menjabat kepemimpinan pada usia, sekitar 70 tahun. pada usia nya yang renta tersebut, khalifah Utsman banyak menerima Fitnah disebabkan oleh kepemimpinannya yang banyak dirasuki bisikan bisikan kerabatnya seperti Marwan bin Hakam. Karna kelemahan oleh umur dan sifatnya yang lemah lembut pemerintahan Utsman juga cepat goyah dan hancur. Akibat banyak fitnah yang muncul di masyarakat mengenai pemerintahan Utsman, banyak terjadi gejolak dalam umat islam itu sendiri, sehingga muncul pembunuhan terhadap khalifa Utsman oleh salah seorang khawrij.

hal itu terjadi pula dalam kekhalifahan muawiyah dan seterusnya, jabatan kepemimpinan tanpa waktu batasan bahkan melahirkan suatu sistem yang mewariskan jabatan kepada anak, yang menciptakan monarki absolut dalam pemerintahan islam.

pada akhirnya belajar dari kesalah tersebut, sistem demokrasi melahirkan sistem untuk membatasi kepemimpinan pemimpin, seperti di Indonesia yang membatasinya selama 5 tahun semata, dan hanya boleh terjadi lagi selama 2 periode. hal itu secara logika sangatlah baik. sistem itu mengajarkan pemimpin untuk berbuat semaksimal mungkin selama periodenya, dan jika tidak selesai usahanya maka harus diselesaikan penerusnya. sistem estafet tersebut juga telah di ajarakan dalam sistem khalafah rasyidin dahulu.

sehingga menurut saya, sistem demokrasi memiliki kekurangan hanya dalam persoalan pembuatan struktur hukum. demokrasi pada masa kini dan telah merasuki pula umat muslim adalah menigglakan hukum yang paling jelas dan sempurna, yakni hukum yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadis.

kedua sumber hukum dalam islam ini tidak di indahkan oleh umat islam, mereka lebih memilih untuk mengikuti sistem barat dengan menyekulerkan pemerintahan, dan menciptkan hukum sendiri hasil dari perembukan bersama yang tidak di dasari pada Al-Qur’an dan Hadis.kalau saja para Ulama, Cendikiawan, Ilmuan, dan sebagainya sadar untuk mereformasi sistem politik Islam dengan mengukuhkannya dalam suatu konsep yang jelas dan didasari pada Al- Qur’an dan Hadis, sudah menjadi barang tentu bahwa ekstirimis-ekstrimis islam yang tanpa pikiran dan ilmu tidak akan muncul dan dapat dihilangkan pengaruhnya.

egoisme dan nafsu untuk menjadikan sistem kekhalifahan yang dirasa utopis, pastilah dapat dihilangkan, dengan perubahan konsep Demokrasi menjadi konsep Demokrasi Islam, yang menurut saya pengusahaan untuk mengislamkan Demokrasi merupakan tindakan yang lebih nyata untuk menegakan hukum Allah di muka bumi ini, dan pada ujungnya nanti kita umat muslim akan pula dapat secara nyata menciptakan kekhalifahan yang sesungguhnya di muka bumi ini.

dengan sebatas meminjam pemblajaran Demokrasi, dengan hanya sebatas sebagai cara untuk belajar berpolitik, demokrasi harus disikapi untuk proses  mencapai sistem KeKhalifahan yang sebenarnya seperti masa kejayaan kekhalifahan masa lalu.

sistem demokrasi dijadikan landasan untuk menerbangkan sistem Kekhalifahan dimuka bumi.

Mengislamkan demokrasi menjadi batu loncatan untuk menciptakan sistem kekhalifan dimuka bumi ini, dari pada egoisme untuk menciptakan suatu kekhalifahan hanya menimbulkan rasa anti islam, lebih baik meminjam dahulu sistem dari luar untuk menciptakan sistem kekhalifahan yang murni.

Memurnikan Kebebasan

Standar

Kebebasan yang dipahami secara umum oleh masyarakat internasional merupakan kebebasan yang dihadirkan oleh para pemikir Barat. Baik para ahli, cendikiwan, maupun masyarakat umum memahami kebebasan ini seluruhnya dari apa yang disampaikan oleh Barat.

Paham mengenai kebebasan yang disampaikan oleh Barat atau yang biasa dikenal dengan istilah Liberlism, merupakan pandangan yang menegaskan bahwa kebebasan itu merupakan hak setiap individu. Namun, kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan tanpa batas, atau kebebasan yang dimaknai secara sembarang. Kebabasan yang dimaksud disini adalah seperti yang disampaikan oleh John Lock (1632-1704) seorang penggagas Liberalism yakni, “kebebasan yang menyadari bahwa individu lain memiliki pula hak kebabasan tersebut.”

Oleh karena itu, dalam pandangan orang barat kebebasan merupakan tujuan bagi setiap individu, sehingga mereka menyadari pula bahwa setiap kebebasan individu-individu yang ada dalam masyarakat akan saling berbenturan satu sama lain. Robert Jackson & Georg Sorensen dalam bukunya Introduction to International Relation mengatakan bahwa kaum liberal mengakui bahwa sifat alami manusia untuk saling bersaing satu sama lain dalam menggapai suatu hal dan mereka akan saling mementingkan diri sendiri. Maka dari itu, kaum liberal melebarkan konsep atas kepercayaannya bahwa walaupun sifat alamiah manusia seperti itu, namun manusia memiliki prinsip rasional, yang menyebabkan mereka lebih memilih jalan bekerja sama untuk mengambil kepentingan-kepentingannya karena dirasa lebih bermanfaat, Sehingga pada ujungnya mereka akan menciptakan suatu hukum untuk mengikat dan menjaga hak-hak nya masing-masing.

————————————————————-

Namun apakah mereka lupa, ketika mereka menciptakan suatu hukum bersama, atas landasan kepentingan mereka masing-masing apakah akan selalu berjalan sesuai irama satu sama lain? Tidak, tidak akan pernah. kesepakatan akan suatu usaha untuk mereduksi kepentingan-kepentingan satu sama lain akan menumpangtindihkan atau menyisihkan kepentingan atau hak individu lainnya. Ketika mengambil suatu kesepakatan sudah barang tentu, kepentingan keseluruhan individu tidak akan semuanya disatukan atau lebih tepatnya dileburkan bersama, dan hal itu tentu akan memburamkan yang satu dengan lainnya. Manusia akan tetap saja berbenturan satu dengan lainnya, tetap saja melenyapkan fakta- fakta realita dengan menggunakan ide-ide masing-masing, dan ide tersebut akan menjadi fakta yang akan meleburkan ide lainnya disebabkan oleh perjuangan kekuatan dari si individu dominan yang kuat, sehingga istilah Liberalism atau kebebasan akan hak setiap individu malah akan tetap saja membawa kemusnahan, karna dari dasarnya saja ditopangkan pada individu manusai yang kaya akan nafsu, kesalahan, dan sebagainya. Hukum manusia yang diciptakan manusia akan sia-sia dalam menegakan kebenaran. Kerja sama yang diciptakan hanya kerjasama kemunafikan, karena tujuan akhirnya adalah agar sang dominan aman dan terjaga posisinya dari kekuatan lain yang ada dibawahnya.

Lain halnya dengan cara pikir muslim yang tersadarkan. Muslim secara keseluruhan seperti halnya dengan Barat mengidamkan akan kebebasan bagi setiap individunya, bebas dari tindahan individu lain, bebas dari kukungan individu lain, bebas dari jeratan individu lain dan sebagainya. Namun, yang membedakan adalah Islam tidak menyingkirkan akan adanya Tuhan yang maha memiliki kebebasan tersebut. Barat lebih memilih untuk memperjuangkan kebebasan individu secara itu saja, namun ia melupakan akan adanya Tuhan S.W.T. sehingga mereka lebih memilih jalan untuk mempercayai prinsip rasionalitas manusia yang bekerja sama.

Umat Islam memiliki kesadaran penuh untuk mempercayai bahwa mereka merupakan sebatas Hamba Tuhan saja, yakni seorang budak dari “Sang Maha Raja” yang membawahai segala raja dimuka bumi ini. Individu atau manusia seluruhnya adalah budak dari sang pemilik alam semesta, yang bekerja dan bertindak semata untuk memperoleh ridho dan belas kasihan dari Tuhan sebagai pemiliknya.

Dari konsep kepatuhan tunggal terhadap Tuhan itu masyarakat Muslim berjuang keras untuk bebas dari segala kukungan individu lain, untuk berjuang keras lepas dari cengkraman dominasi individu lain. Mereka berjuang demi kebebasan tersebut atas landasan untuk bekerja keras secara jasad dan rohani, untuk mengabdi tunggal kepada Tuhan yang maha tunggal dan suci.

Kebasan ini akan menjadi murni, yakni kebebasan yang sadar akan penyerahan secara tulus akan kebebasan yang dimilikinya kepada sang pemilikinya yakni Tuhan Yang Maha Esa. Dari penyerahan tersebut, secara logika, antara individu yang satu dengan yang lain akan menjauhkan dirinya masing masing dari sifat alami manusia untuk saling bersaing dalam menggapai suatu hal (keinginan atau nafsu materi dalam lingkup dunia) dan dari sifat saling mementingkan diri sendiri, keangkuhan, egois, sombong, dan sebagainya, serta membebaskan secara maksimal individu lain bertindak dan berlaku atas dasar perintah Tuhan. Mereka hanya akan berjuang  atau bersaing semata bukan untuk suatu hal yang sifatnya materi (kecil dan hina seperti dunia jabatan dan sebagainya) namun, mereka berjuang atau bersaing semata hanya untuk pengabdian kepada Allah S.W.T., Tuhan yang maha tunggal dan tak ada yang patut dipersaingkan selain dia.

Kebebasan Murni adalah kesadaran penuh setiap individu akan dirinya sebagai budak dan hamba Allah S.W.T.

maka manusia akan bebas secara utuh dan jelas.