Dulu, Indonesia Hidup!!!! Ideologi sebagai Oksigen Politik Bangsa

Standar

Dulu, Indonesia Hidup. Hidup sebagai bangsa yang bergerak dinamis kearah perubahan yang nyata. Indonesia bernafas segar dengan bahan-bahan segar yang menghidupkan, yakni Ideologi.

Kita saksikan bagaimana dulu bangsa kita harum oleh para ideolog bangsa di kancah internasional. Bapak-bapak bangsa yang bergerak menggunakan pondasi ideologinya yang kental, yang mengarahkan pola pikirnya, yang berjalan dengan senter ideologi, dan yang berucap dengan spiker ideologinya, bertebar di seluruh pelosok negeri luar.

Meskipun kenyataan jelas menjabarkan bahwa ideologi merenggangkan berbagai macam hubungan antar para aktornya dalam satu wilayah yang sama. Namun, ideologi ini menghidupkan secara nyata tumbuh kembangnya wilayah yang didiami para ideolog tersebut. Bagaimana kita lihat trio negarawan (Soekarno-Hatta, Sutan Sjahrir-Amir Sjarifuddin, dan Tan Malaka-Soedirman) dengan macam-macam ideologi yang mereka anut sendiri secara berbeda-beda, mereka tetap mampu mengobori arah bangsa dengan semangat ideologinya tersebut yang bergelora kuat. Ideologi tersebut menjadikan bangsa ini hidup. Hidup secara lahir maupun hidup secara batin. Keberagaman Ideologi tersebut menjadi mesin penggerak bangsa, sehingga bangsa ini hidup, hidup sebagai bangsa yang beradab.

Pemuda masa itu yang menyaksikan langsung bagaimana bangsa ini dikelola oleh politikus yang berideologi, terbakar pula semangatnya untuk mengupas kembali, atau meng-estafetkan Ideologi yang ditelannya. Sehingga perjalanan bangsa ini ketika itu hidup, hidup dengan aroma wangi di kancah internasional.

Namun, sekarang Bangsa ini mati, kering, dan tak berbentuk karena hilangnya ideologi. Bapak bangsa pasca kemerdekaan yang tak berideologi hidup namun mati, layaknya mayat hidup yang bergerak sebatas bergerak tuntutan alam, bergerak tanpa arah hanya mencari makan atau persoalan material yang mereka kehendaki. Tidak ada tujuan, tidak ada pondasi yang meng-khaskan politik bangsa. Bangsa ini hening, pemuda linglung, masyarakat luntang-lantung.

Organisasi yang ada kini hanya sebagai organisasi massa, organisasi pencari dan penjilat kekuasaan. Tidak punya arah, tidak punya pencerah. Hanya kumpulan anak ayam yang mengikuti induk ayam untuk dibesarkan menjadi ayam potong bagi para peternak.

Ali Syari’ati

Standar

008_2

ingatkah engaku ketika seorang cendikiawan muslim Iran yang memperjuangkan secara keseluruhan aspek kehidupan masyarakatnya sendiri, bahkan juga masyarakat dunia ke-3. Seseorang tersebut yang lahir dalam keadaan “JIHAD” yang sesungguhnya, dan mati pula dalam keadaan “JIHAD” yang sesungguhnya. Beliau yang bernama Dr. Ali Syariati.

Ya, beliau sebagai seorang cendikiawan memiliki kesadaran mendalam tentang pentingnya perjuangan menegakan kebenaran, dan kebenaran itu merupakan kebenaran yang dilandasi pada sesuatu yang ia sebut sebagai ideologi, serta ideologi tersebut yang berakar kepada sesuatu yang sangat suci, yakni agama. oleh karena hal itulah ia sebagi seorang cendikiawan rela berkorban jiwa dan raga, hidup dan mati, demi membangkitkan kembali kepada seluruh masyarakat yang pada eranya kehilangan sesuatu yang disebut dengan Kebudayaan., dan kebudayaan itu yang diakibatkan oleh hilangnya kesadaran akan ideologi.

lain halnya dengan cendikiawan yang disistemkan oleh orang-orang barat (Eropa). mereka melantangkan kesana kemari pemakanaan cendikiwan sebagai seseorang yang sikapnya netral terhadap seluruh aspek, dan sebatas -seperti yang disampaikan Ali Syariati- menjadi sebuah Mercusuar, yang hanya memberikan cahaya kepada kapal-kapal, namun hanya berdiam diri, tak bergerak. mau salah atau pun benar jalannya kapal itu, mercusuar hanyalah bersikap diam dan diam.

hal itulah yang coba didobrak Ali Syari’ati, ia terus berjuang untuk menyadarkan para pemuda untuk bangkit menjadi menjadi seseorag yang kualitas nya di atas para ilmuan dan cendikiawan, yakni Rausyanfikr. Rausyanfikr itu sendiri merupakan suatu sifat yang ditujukan kepada para ilmuan/seorang yang ilmuan (dalam hal ini tidak dapat disandingkan arti ilmuan/cendikawan tersebut terhadap rausyanfikr) yang pikirannya dan hatinya telah tercerahkan, dan telah tersadarkan, untuk tidak hanya diam dan termenung secara sendiri, tapi seorang ilmuan yang sadar dan bergerak untuk membangkitkan dan menerangi kesadaran masyarakat secara utuh terhadap sesuatu yang benar.

namun, pada akhirnya Ali Syariati pun meniggal pada 19 Juni 1977 di London, akibat dibunuh oleh SAVAK. beliaupun pergi sebelum menyaksikan para ulama, dan kaum intelektual memimpin rakyat untuk menumbangkan  rezim yang otoriter; sebelum menyaksikan pemuda-pemudi Rausyanfikr turn dari bangku kuliahnya yang sejuk dan nyaman, menuju perkampungan rakyat miskin yang gersang dan kumuh, demi mencerahkan dan menyediakan segala kebutuhan yang menjadi hak seluruh rakyat.

beliaupun pergi, pergi dengan mewariskan semangat perjuangan membela agama, ideologi, dan kebudayaan lokal diseluruh peradaban belahan dunia manapun.