Asimiles

Standar
Jane Paul Sartre, dalam kata pengantarnya untuk buku Les Damnes De la Terre, karya Francois Nellino, menuturkan: “Kita pilih beberapa orang pemuda Afrika dan Asia untuk kita kirim beberapa bulan lamanya ke Amsterdam, Paris, London, dan Brussel. Sesudah beberapa waktu mereka kita beri baju dengan model Eropa, kita suapkan istilah-istilah Eropa, dan kita kuliti mereka dari peradabannya. Sesudah itu, kita ubah mereka menjadi bebek-bebek dan kerbau-kerbau, dan itulah saatnya bagi mereka untuk siap dikirm pulang. Dengan demikian, mereka akan menjadi bebek-bebek yang dengan setia menyuarakan segala sesuatu yang kita ucapkan tanpa mereka sendiri tahu artinya. Segala sesuatu yang kita kerjalan akan mereka tiru, dan mereka dengan bangga mengatakan bahwa telah berkata dan berbuat sesuatu dari dirinya sendiri. Mereka itulah yang kita sebut dengan Assimiles.
 
(Ali Syariáti, dalam Ummah dan Imamah: Suatu TInjauan Sosiologis, 1989, h. 73).

Kritik Islam Terhadap Marxisme

Standar

Hanya mengutip dari bukunya Ali Syari’ati halaman 119 yang berjudul Kritik Islam Terhadap Marxisme dan Sesat-Pikir Barat Lainnya. Dia mengatakan bahwa,

Tidak mengherankan bahwa setelah jatuhnya borjuis dan kemenangan komunisme, dialektika Marx terpaksa berhenti dalam sejarah, dan perjuangan tesis dan anti-tesis mencapai puncak dalam semacam koeksistensi damai! Marx tak berdaya menunjukan kemana , setelah komunisme, nasib manusia akan menuju dalam dunia ini; apa lagi dunia nanti (hari kemudian). Inilah masalah yang tidak dapat dipecahkan baik oleh materialisme lama maupun materialisme dialektika. Karena, seperti yang dikatakan Rene Guenon: “apabila dunia tanpa arti dan tujuan, maka manusia pun tanpa arti dan tujuan,” Marx mengakui bahwa kemanusiaan semacam itu tidak mempunyai nasib “nyata.”

Islam, dipihak lain, berbuat lebih dari sekedar memberi kemanusiaan suatu kedudukan terhormat dalam alam, “Telah Kami muliakan anak cucu Adam.” (QS 17:70). Ini lebih dari sekedar menyangkal bahwa Tuhan menjadikan manusia makhluk yang tak berdaya , kehilangan dirinya, mencari kekuatan dan nilai-nilainya sendiri dalam wujud Tuhan dan menuntut nilai-nilai itu dari-Nya dengan “keluhan dan air mata.” Islam menganggap bahwa Tuhan menyerahkan amanataNya kepada kemanusiaan: “Kami tawarkan amanat pada langit, bumi dan gunung-gunung, dan mereka menolak untuk menanggungnya (memikulnya) karena takut, dan manusialah yang melakukannya. (QS 33:70)” Islam telah menunjukan bahwa manusia diciptkan sebagai wakil Allah dalam alam: “Sesungguhnya hendak Ku tempatkan di bumi seorang Khalifah.” (QS 33:30)

Ali Syari’ati

Standar

008_2

ingatkah engaku ketika seorang cendikiawan muslim Iran yang memperjuangkan secara keseluruhan aspek kehidupan masyarakatnya sendiri, bahkan juga masyarakat dunia ke-3. Seseorang tersebut yang lahir dalam keadaan “JIHAD” yang sesungguhnya, dan mati pula dalam keadaan “JIHAD” yang sesungguhnya. Beliau yang bernama Dr. Ali Syariati.

Ya, beliau sebagai seorang cendikiawan memiliki kesadaran mendalam tentang pentingnya perjuangan menegakan kebenaran, dan kebenaran itu merupakan kebenaran yang dilandasi pada sesuatu yang ia sebut sebagai ideologi, serta ideologi tersebut yang berakar kepada sesuatu yang sangat suci, yakni agama. oleh karena hal itulah ia sebagi seorang cendikiawan rela berkorban jiwa dan raga, hidup dan mati, demi membangkitkan kembali kepada seluruh masyarakat yang pada eranya kehilangan sesuatu yang disebut dengan Kebudayaan., dan kebudayaan itu yang diakibatkan oleh hilangnya kesadaran akan ideologi.

lain halnya dengan cendikiawan yang disistemkan oleh orang-orang barat (Eropa). mereka melantangkan kesana kemari pemakanaan cendikiwan sebagai seseorang yang sikapnya netral terhadap seluruh aspek, dan sebatas -seperti yang disampaikan Ali Syariati- menjadi sebuah Mercusuar, yang hanya memberikan cahaya kepada kapal-kapal, namun hanya berdiam diri, tak bergerak. mau salah atau pun benar jalannya kapal itu, mercusuar hanyalah bersikap diam dan diam.

hal itulah yang coba didobrak Ali Syari’ati, ia terus berjuang untuk menyadarkan para pemuda untuk bangkit menjadi menjadi seseorag yang kualitas nya di atas para ilmuan dan cendikiawan, yakni Rausyanfikr. Rausyanfikr itu sendiri merupakan suatu sifat yang ditujukan kepada para ilmuan/seorang yang ilmuan (dalam hal ini tidak dapat disandingkan arti ilmuan/cendikawan tersebut terhadap rausyanfikr) yang pikirannya dan hatinya telah tercerahkan, dan telah tersadarkan, untuk tidak hanya diam dan termenung secara sendiri, tapi seorang ilmuan yang sadar dan bergerak untuk membangkitkan dan menerangi kesadaran masyarakat secara utuh terhadap sesuatu yang benar.

namun, pada akhirnya Ali Syariati pun meniggal pada 19 Juni 1977 di London, akibat dibunuh oleh SAVAK. beliaupun pergi sebelum menyaksikan para ulama, dan kaum intelektual memimpin rakyat untuk menumbangkan  rezim yang otoriter; sebelum menyaksikan pemuda-pemudi Rausyanfikr turn dari bangku kuliahnya yang sejuk dan nyaman, menuju perkampungan rakyat miskin yang gersang dan kumuh, demi mencerahkan dan menyediakan segala kebutuhan yang menjadi hak seluruh rakyat.

beliaupun pergi, pergi dengan mewariskan semangat perjuangan membela agama, ideologi, dan kebudayaan lokal diseluruh peradaban belahan dunia manapun.