Gak Ada Judul Cuma Ngedumel

Standar

Words only represent something else. They are not real things. They are only symbols. According to the philosophy of enlightenment, everything is a symbol. The reality of symbols is an illusory reality. Nonetheless, it is the one in which we live. -Gery Zukav-

Agama itu doktrin, kalo bukan doktrin bukan agama namanya. Soalnya isinya hukum.

Agama itu rancu, kalo gak rancu bukan agama namanya. Soalnya isinya tentang sebab akibat yang sangat kompleks, baik yang diluar nalar manusia, maupun sesuai.

Agama itu sempit, kalo gak sempit bukan agama namanya. Karena isinya seputar kehidupan dan kematian, tidak lebih.

tapi…

Agama itu petunjuk, pembimbing, dan pengajak, kalo gak memberi petunjuk, bimbingan, dan ajakan, bukan agama namanya. Soalnya isinya menujukan, mengajak, dan membimbing tentang seruannya, baik yang bersifat irasional maupun rasional.

Agama itu logis, kalo gak logis bukan agama namanya. Soalnya isinya ilmu yang dapat dipahami manusia, penjelasan yang sangat terang bederang dan sangat indah dalam menjawab segala persoalan dan pertanyaan.

Agama itu luas, kalo gak luas bukan agama namanya. Soalnya isinya tidak sebatas kata kehidupan dan kematian saja, tapi jauh kedalam kata tersebut, karena isinya seputar penjabaran kongkrit dan gamblang persoalan kehidupan dan kematian. Panjang, lebar dan sangat luas, karna seluas alam dari kedua kata tersebut, tidak terbatas ruang dan waktu yang dibahasnya.

Agama yang dimaksud barusan tentu agama yang terakhir. Karena tidak ada yang seperti di atas kalo bukan yang di akhir. karena yang di akhir itu selalu bersifat penyempurna dan penetap. Sehingga mustahil adanya yang di awal dan di tengah bersifat seperti agama di atas. Agama yang terakhir tentu adalah Islam.

Tidak jelas, ya karna ini cuma kata-kata, seperti yang dikatakan Gery Zukav dalam The Dancing Wu Li Master, An Overview of the New Physics, halaman 270 ( seperti yang diatas sekali) “Words only represent something else. They are not real things.” Sekian~Assalamualaikum.

 

TETUA KAMI, SANG AGAMAWAN PENGOLOK

Standar

Kami sedikit terusik ketika para tetua kami yang memahami betul konsep-konsep agama Islam, saling mengolok satu dengan yang lainnya mengenai cara pandang dan pemahamannya masing-masing (secara umum yang menggunakan label Syi’ah dan Sunni) mengenai agama Islam yang mereka yakini sama-sama.

Dewasa ini, urat leher para agamawan/tetua kami, terutama yang melabeli dirinya sebagai Sunni gencar-gencarnya menciptakan propaganda “terstruktur, sistematis, dan massive” mengenai keburukan saudaranya sendiri se-agama yang bersebrangan cara pandang yakni yang berlebelkan Syi’ah.

Propaganda tersebut kami pahami dan sadari sebagai suatu rupa cacian dan olokan yang tidak bermartabat dan tidak mencerminkan keagamawan para tetua kami yang kami sangka mengenal betul ajaran agama kami yang luhur, bermartabat, dan bermoral ini.

Pemahaman label Syi’ah yang mereka katakan sesat tersebut, mereka olok-olok membabi-buta tanpa pandang bulu serta tanpa saringan yang logis & bermartabat terhadap orang-orang muslim lainnya yang mereka lebeli Syi’ah. Mereka mengkafirkan para saudara mereka sendiri, mereka menghina saudara mereka sendiri, mereka menyuruh kami menjauhinya, mereka menutup mata, telinga, dan otak kami untuk berinteraksi kepada tetua kami yang bersebrangan pemahaman itu, sehingga kami yang awam dan tidak tahu apa -apa ini hanya bisa mengangguk dan mengangguk saja mengimani ucapan para tetua kami. Hal itu menyebabkan tertanam dalam perilaku kami su’udzon, pemarah, kolot, bodoh, bahkan penghina yang semakin memperburuk akhlak kami sebagai pemuda Islam.

Mulanya, tetua kami tersebut merasa risih dan terancam akibat adanya hembusan pemahaman yang bersebrangan dari para ekstrimis pencinta Ali bin Abi Thalib, dan turunannya, serta imam-imam yang dijalurnya. Para ekstrimis itu mencintai orang-orang tersebut melebihi cintanya terhadap Rasulullah S.A.W itu sendiri, para nabi, para sahabat nabi, bahkan terhadap ajaran dan kitab-kitab nabi yang diturunkan oleh Allah sendiri. Sehingga para ekstrimis ini memberikan nuansa menyeleweng yang sangat kental terhadap agama mereka itu sendiri yakni Islam.

Sialnya, para ekstrimis tersebut (yakni orang awam yang berlebihan dalam menjalankan ajaran dan tanpa ilmu) memiliki kemiripan paham dengan golongan yang menyatakan sebagai barisan pendukung Ali/Ahlul Bait, yang dikenal dengan label Syi’ah. Padahal, awalnya dukungan tersebut tercipta atas dasar ketika keluarga nabi S.A.W  mengalami pelecehan secara tidak bermartabat oleh orang-orang tertentu, terutama pasca wafatnya nabi S.A.W. Dan pembelanyapun adalah orang-orang islam itu sendiri, yang terdiri dari para sahabat, keluarga nabi S.A.W, dan sebagainya, yang dikenal dengan Syi’ah, atau yang berarti “Pengikut” yang dalam konteks ini merujuk pada شيعة علي. Namun, hal itu diserap oleh para ekstrimis yang turut melebeli dirinya sendiri sebagai Syi’ah. Sehingga pembelaannya tersebut tanpa ilmu, dan tanpa sebab, yang akhirnya melencengkan pembelaan yang mulanya  lururs tersebut.

Maka munculah para golongan yang berusaha meluruskan ajaran Islam kembali kepada jalurnya, serta mengembalikan rasa cinta terhadap nabi dan sahabat dan lainnya sesuai dengan batas-batas cinta yang telah disajikan rasul, yakni golongan yang kita kenal dengan lebel Sunni, ahlussunnah wal jama’ah. Golongan ini semangat awalnya pun sama, yakni baik. Mereka berjuang dengan moral, akhlak, dan perilaku yang lurus. mereka berusaha sekuat tenaga dan akal fikiran untuk MEMPERINGATI yang keliru, dan MEMERANGI yang telah keluar jalur dan merusak Islam. Namun, lagi-lagi muncul para esktrimis, yakni ekstrimis Sunni yang dalam hal ini ekstrim dalam bertindak yang salah, berperilaku yang salah, demi menegakkan kembali ajaran Islam yang disalah praktekan oleh Syi’ah ekstrimis.

Sayang sungguh disayang, dinegara kami yang dikenal dengan mayoritas muslim terbesar didunia ini, disusupi para pegiat yang ekstrimis ini, keduanya sama-sama ekstrimis baik Syi’ah, maupun Sunni. Walaupun mereka semua tidak mau dianggap keduanya, namun dalam cara pandang kami mereka semua itu adalah keduanya.

Tetua Syi’ah kami. Mereka mengajarkan yang ekstrim terhadap kami, mereka atas nama Syi’ahnya merusak para cendikiawan Muslim Syi’ah dan pejuang Muslim Syi’ahnya yang mati-matian berkorban untuk memerangi orang-orang kafir sesungguhnya (Secara umum, para orang-orang kafir di ISRAEL, AMERIKA, maupun EROPA) yang dicontohkan kaum Syi’ah Iran. Mereka mengatas namakan Muslim Syi’ah Iran (yang sebagian besar ber Syi’ah secara lurus dan menjadi mayoritas dinegaranya) dalam proses mengajarkan Syi’ahnya, sehingga kami pun menjadi keliru dalam memahami para Ulama Iran yang sebenarnya keilmuan dunia dan akhiratnya sangat-sangat seimbang dan baik, serta sangat mencintai Islam secara utuh selayaknya ahlussunnah waljamaah. Bahkan mereka melebihi Ahlussunnah  waljamaah dalam berperilaku politik di kancah internasional, mereka berani memerangi kafir yang sebenarnya, dan menentang kafir yang sebenarnya.

Tidak seperti para tetua kami yang mengaku sebagai Sunni namun berperilaku seperti tidak ahlussunnah wal jamaah. Mereka berperilaku bahkan lebih menyimpang dari yang mereka anggap menyimpang, mereka inilah para Sunni yang ekstrimis, yang berperilaku ekstrim dalm berbuat menyimpang seperti yang saya sebutkan diawal.

Sebagai pengelurus ajaran yang menyimpang, mereka malah melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Mereka melakukan olok-olok terhadap ekstrimis Syi’ah, mereka malah mengumbar kesalahan-kesalahan ekstrimis Syi’ah tanpa meluruskannya, sekedar mencela dan mencela. Ketika mereka sadar bahwa ekstrimis Syi’ah keliru, mereka malah menjauhinya dengan mencaci maki mereka, bukannya meluruskan mereka, atau bahkan memerangi mereka. Mereka hanya menyuruh kami yang awam ini menjauhinya tanpa menunjukan kebenarannya kepada kami. Mereka malah mencontohkan kepada kami cara-cara meghina, cara-cara mengolok-olok, cara-cara berpedoman kepada hal-hal yang bathil yang menjadi keyakinan umum tanpa mengkroscek dan memahami ulang dengan baik sumber permasalahannya.

Padahal mereka sendiripun telah memahami bahwa, perlakuan mereka itulah yang telah diterapkan oleh para JAHILIYAH dalam memerangi ajaran ISLAM dahulu. Pada masa itu, para jahiliyah hanya bisa mengolok-olok ajaran Rasul, para jahiliyah hanya bisa melecehkan ajaran Rasul tanpa mampu mengajarkan akhlak dan moral yang lebih baik dari ajaran yang mereka anggap salah tersebut.

Berlainan denga yang dicontohkan Rasul ketika menghadapi para jahiliyah tersebut. Beliau mencontohkan kepada kami bahwa, yang salah (si Jahiliyan nan Kafir) itu harus diluruskan, yakni dengan cara, pertama dengan LISAN, memperingati kepada yang berbuat salah, bukan mengolok-olok yang berbuat salah, dan mengajak orang lain untuk menjauhi yang berbuat salah dan mengajaknya untuk mengihinanya. Tidak, nabi kami tidak mengajarkan itu, nabi kami mengajarkan untuk menceramahi face by face yang berbuat salah dan memperingatinya.

Lalu yang kedua, nabi kami mengajarkan untuk menegakan kebenaran dengan PERILAKU/CONTOH. Setelah memperingati kepada yang berbuat salah, maka nabi kami mengajarkan untuk terus mengajarkannya mengenai kebenaran, dan mengajarkan kepada kami mengenai kebenaran itu sendiri, bukan mengajarkan untuk melecehkan yang salah, namun mengajarkan kami untuk bertindak dan berperilaku benar dan lurus sesuai dengan ajaran Islam. Nabi kami mengajrkan kami untuk mencontohkan kepada mereka yang salah PERILAKU KAMI YANG BAIK, YANG LEBIH BERMORAL, DAN ISLAMIketimbang sibuk mengajarkan kami berperilaku untuk menjauhi yang salah. Nabi kami tidak menjauhi yang salah, namun meluruskan yang salah.

Serta yang terakhir, nabi kami mengajarkan untuk memerangi yang mengancam kehidupan kami, yang merusak keamanan kami dalam menerapkan ajaran kami, dan yang mengancam kemurnian ajaran kami. Bukan mengajarkan kami untuk hanya sebatas menjauhi dan mengolok-oloknya. Maka dari itu menanglah Islam dizaman nabi kami, dizaman khalifaturrasyidin kami, dan dizaman keemasan kami.

Namun sekarang, dinegara kami sendiri, ajaran islam tidak dibanggakan oleh kami sebagai pemuda. Ajaran islam menjadi agama norak dan tidak bermoral bagi kalangan kami. Kami sebagai pemuda malah melecehkan dan memperkosa budaya, ajaran, dan ilmu agama kami sendiri, yakni agama ISLAM YANG HAK dan AGUNG. Islam lenyap ditangan kami.

Ini semua akibat dari contoh yang anda-anda ajarkan duhai tetua kami yang lebih dahulu mempelajari agama kami. Engkau hanya pandai memplokamirkan negara khilafah, engkau hanya pandai meproklamirkan penegakan Syari’at, dan engkau hanya pandai menyuarakan Jihad. Tapi tidak pandai mengajarkan kami apa itu negara khilafah, bagai mana cara kerjanya, apa untungnya bagi kami sebagai pemuda untuk menegakannya ketimbang demokrasi dan sebagainya yang diajarkan musuh anda. Anda tidak pandai mengajarkan kami apa itu Syari’at, apa baiknya dari pada UUD, dimana sisi moralnya yang harus kami perjuangkan, bagaimana anda mencontohkan penegakan Syari’at dari sisinya yang mulia dimata kami. Dan anda tidak pandai mengajarkan kepada kami apa itu Jihad, bagaimana cara kerjanya, serta penerapan seperti apa yang diajarkan Rasul kami mengenai Jihad.

Semua itu terbutakan dari kami, sehingga kami membencinya. Padahal kami meyakini bahwa, semua itu adalah kebenaran ajaran Islam dan mampu membangkitkan Islam. Kami meyakini, bentuk khilaf itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda mengajarkannya benar kepada kami. Hukum Syari’at itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda mengajarkannya benar kepada kami. Jihad itu benar dan mampu membangkitkan Islam bila anda benar mengajarkan dan mencontohkannya kepada kami.

Sampai matipun kami akan berjuang mati-matian menegakannya duhai tetua bila kalian mau mundur dari cara-cara kalian yang hanya sebatas saling olok-mengolok, dan membiarkan kami bangkit dari kebutaan kami yang kalian butakan.

Pengilmu Keliru

Standar

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ulumuddiin berpendapat bahwa, “Cendikiawan tiruan itu memberikan gambaran kepada masyarakat, bahwa tidak ada ilmu agama selain fatwa-fatwa pemerintahan yang digunakan hakim untuk memutuskan perkara kalah-menang dikalangan masyarakat awam | atau  ilmu perdebatan yang digunakan oleh orang yang mencari kebanggaan, supaya unggul dan melindih lawan | atau ilmu mengatur pembicaraan dengan hiasan, yang dapat dipakai oleh orang yang senang berpidato, buat menarik orang-orang awam.”

Jika mau jujur terhadap nurani, keadaan malang ini sedang berlangsung dalam kondisi pengilmu negara muslim terbesar didunia ini. Hal itu tergambar jelas dalam sistem pendidikan yang terbudayakan dinegara tersebut. Terutama dalam sistem pendidikan tingkat tertinggi dan termulianya, yakni universitas.

Disalah satu universitasnya, yaitu universitas yang disangka paling memahami agama yang diajarkan orang termulia “Muhammad S.A.W”, menganggap orang yang pandai bercuap berdebat takkaruan demi menunjang kebanggan, sebagai yang paling mulia tingkatannya.

Cuapan tersebut lahir dari alat yang paling munafik, yakni mulut. Emasnya mulut menjadi tolak ukur mulianya seseorang. Jika mau jujur tehadap hati dan akal sebagai manusia kotor dan hina, seluruh kata-kata yang lahir dari silatan lidah yang membabibuta tidak mungkin lahir dari kesingkronan hati dan akal. Hal itu yang menciptakan perbedaaan setiap manusia dalam berpendapat terhadap suatu objek yang ia lihat.

Persoalan tersebut dapat kita buktikan dari suatu contoh yang sangat umum, yakini: ketika suatu botol, diletakan didepan 4 orang yang melingkar mengelilinginya, maka ketika anda tanya satu persatu apa yang mereka lihat, mereka akan menjawab dengan berbagai variasi yang mereka serap dari pengamatannya, dan diterjemahkan oleh akalnya. hal itu tercipta akibat dari hilangnya peran hati dalam individu tersebut dalam mengolah pandangannya. Maka, terciptalah variasi perkataan yang berusaha menghasilkan fakta yang paling dapat diterima oleh masyarakat umum, yakni fakta hasil silat lidah tanpa hati/moral.

maka terciptalah masyarakt-masyarakat immoral dinegaranya. yang memahami ilmu hukum, berhukum tanpa moral, maka terciptalah institusi hukum yang menjalankan hukum sesuai akal saja tanpa moral. yang memahami ilmu seni, berseni tanpa moral, maka terciptalah institusi seni yang menjalankan seni sesuai akal saja tanpa moral (wanita telanjang, penghinaan, dan sebagainya). dan yang memahami ilmu agama, beragama tanpa moral, maka terciptalah institusi agama yang menjalankan agama sesuai akal saja tanpa moral (menjadi tuhan dunia dalam berfatwa, menjadi tuhan dunia dalam menghakimi manusia, menjadi pengolok agama lain tanpa tindakan). Semua mekar dinegara ini

Ali Syari’ati

Standar

008_2

ingatkah engaku ketika seorang cendikiawan muslim Iran yang memperjuangkan secara keseluruhan aspek kehidupan masyarakatnya sendiri, bahkan juga masyarakat dunia ke-3. Seseorang tersebut yang lahir dalam keadaan “JIHAD” yang sesungguhnya, dan mati pula dalam keadaan “JIHAD” yang sesungguhnya. Beliau yang bernama Dr. Ali Syariati.

Ya, beliau sebagai seorang cendikiawan memiliki kesadaran mendalam tentang pentingnya perjuangan menegakan kebenaran, dan kebenaran itu merupakan kebenaran yang dilandasi pada sesuatu yang ia sebut sebagai ideologi, serta ideologi tersebut yang berakar kepada sesuatu yang sangat suci, yakni agama. oleh karena hal itulah ia sebagi seorang cendikiawan rela berkorban jiwa dan raga, hidup dan mati, demi membangkitkan kembali kepada seluruh masyarakat yang pada eranya kehilangan sesuatu yang disebut dengan Kebudayaan., dan kebudayaan itu yang diakibatkan oleh hilangnya kesadaran akan ideologi.

lain halnya dengan cendikiawan yang disistemkan oleh orang-orang barat (Eropa). mereka melantangkan kesana kemari pemakanaan cendikiwan sebagai seseorang yang sikapnya netral terhadap seluruh aspek, dan sebatas -seperti yang disampaikan Ali Syariati- menjadi sebuah Mercusuar, yang hanya memberikan cahaya kepada kapal-kapal, namun hanya berdiam diri, tak bergerak. mau salah atau pun benar jalannya kapal itu, mercusuar hanyalah bersikap diam dan diam.

hal itulah yang coba didobrak Ali Syari’ati, ia terus berjuang untuk menyadarkan para pemuda untuk bangkit menjadi menjadi seseorag yang kualitas nya di atas para ilmuan dan cendikiawan, yakni Rausyanfikr. Rausyanfikr itu sendiri merupakan suatu sifat yang ditujukan kepada para ilmuan/seorang yang ilmuan (dalam hal ini tidak dapat disandingkan arti ilmuan/cendikawan tersebut terhadap rausyanfikr) yang pikirannya dan hatinya telah tercerahkan, dan telah tersadarkan, untuk tidak hanya diam dan termenung secara sendiri, tapi seorang ilmuan yang sadar dan bergerak untuk membangkitkan dan menerangi kesadaran masyarakat secara utuh terhadap sesuatu yang benar.

namun, pada akhirnya Ali Syariati pun meniggal pada 19 Juni 1977 di London, akibat dibunuh oleh SAVAK. beliaupun pergi sebelum menyaksikan para ulama, dan kaum intelektual memimpin rakyat untuk menumbangkan  rezim yang otoriter; sebelum menyaksikan pemuda-pemudi Rausyanfikr turn dari bangku kuliahnya yang sejuk dan nyaman, menuju perkampungan rakyat miskin yang gersang dan kumuh, demi mencerahkan dan menyediakan segala kebutuhan yang menjadi hak seluruh rakyat.

beliaupun pergi, pergi dengan mewariskan semangat perjuangan membela agama, ideologi, dan kebudayaan lokal diseluruh peradaban belahan dunia manapun.