Sunni & Syi’ah Sibuk Menjadi Ya’juj & Ma’juj

Standar

Pernah mendengar Ya’juj Ma’juj? Kedua istilah ini digambarkan oleh Allah dalam surat Al-Anbiya’ ayat 96-97 sebagai sesuatu yang nyata, sesuatu yang benar adanya pada masa akhir kehidupan manusia di dunia. Mereka akan muncul membelalakan mata orang-orang kafir sehingga mengejutkan mereka hingga panik.

Dalam beberapa kisah, kedua makhluk ini merupakan makhluk yang akan merusak alam dunia dengan sikapnya yang serakah, rakus, tamak, dan seterusnya. Sehingga hancurlah bumi ini. Kerusakan tersebut akan berakibat fatal dalam sejarah akhir kehidupan manusia.

Pada era modern kini, tepatnya tahun 2015, saya sebagai muslim menyaksikan sendiri dengan mata kepala bagaimana transformasi kedamaian semakin lama mengarah pada kehancuran total oleh manusianya itu sendiri. Terutama dari dalam kubu Islam itu sendiri, akibat dari dua aliran keagamaan yang memecah kesatuan Islam, yakni Sunni dan Syi’ah. Kedua aliran ini merobek secara membabi buta tubuh Islam yang damai, sejuk, dan indah. Meskipun saya memahami bagaimana kedua aliran keagamaan ini telah ada sejak Rasulullah S.A.W. wafat. Namun, saya baru menyaksikannya kini secara langsung bagaimana kedua aliran keagamaan ini memisahkan kesatuan persatuan yang dibentuk dan diperjuangkan oleh Nabi Muhammad S.A.W dan nabi nabi maupun rasul lainnya untuk seluruh manusia di muka bumi ini.

Kedua aliran keagamaan ini telah bertransformasi bagi pemahaman saya sebagai bentuk yang telah berusaha menjadikan dirinya sendiri sebagai rupa dari ya’juj dan ma’juj. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana di masa kini mereka muncul secara jelas dan nyata, semakin hebat kerusakan yang mereka ciptakan, saling fitnah, saling berperang, dan seterusnya, hingga menyebabkan orang-orang kafir terbelalak ketakutan, bahkan sangat bersemangat untuk ikut campur memusnahkan kedua aliran keagamaan ini.

Maka saya berpendapat, baiknya umat Islam kini harus mengingat kembali dimana mereka meletakan seragamnya yang suci dan indah itu. Seragam Islam, seragam kesatuan pembawa perdamaian dan keamanan bagi seluruh anggotanya, seragam yang satu yang akan mengarahkan pemakainya menuju kedamaian yang abadi.

Hendaklah mereka melepas atribut Sunni dan Syi’ah demi menjauhi sifat-sifat perpecahan yang dimiliki Ya’juj dan Ma’juj. Mari kita malu kepada kafir yang menjadikan kita seolah sebagai boneka yang dapat dimainkan sesuka hati, dilempar kesana kemari, dibuang kesana kemari, kemudian terkejut ketika mereka melihat bonek itu sadar dan hidup, sehingga merusak keaadaan yang telah mereka (kafir) ciptakan. Marilah kita sadar akan musuh abadi kita, yakni syaitan, hawa nafsu, dan kafir yang merusak dan memusuhi Islam. Marilah kita perjuangkan ilmu, iman, dan ketakwaan kepada Allah. Lupakanlah sistem Monarki, Demokrasi, Kapitalisme, Marxisme, Liberalisme, Humanisme, Eksistensialisme, dan seterusnya yang merupakan ciptaan manusia-manusia menakjubkan namun nihil moral, akal sehat, dan seterusnya. Maka kembalilah kepada sistem yang telah Allah ajarkan kepada Rasulnya dan yang telah diteruskan kepada kita umatnya, yakni sistem Syari’at Islam. Melalui sistem itu, maka cara yang paling masuk akal untuk menciptakan perdamaian bagi umat Islam dan seluruh dunia adalah bersatu, ambil kekuasaan tertinggi, kelola masyarakat dan alam secara adil, didiklah mereka, dan ingatkanlah mereka kepada kekuasaan sang raja maha raja atas muka bumi ini.

Ideologi sebagai Oksigen Politik Bangsa

Standar

Dulu, Indonesia hidup, hidup sebagai bangsa yang bergerak dinamis kearah perubahan yang nyata. Indonesia bernafas segar dengan bahan-bahan segar yang menghidupkan, yakni Ideologi.

Kita saksikan bagaimana dahulu bangsa kita harum oleh para ideolog bangsa di kancah internasional. Bapak-bapak bangsa yang bergerak menggunakan pondasi ideologinya yang kental, yang mengarahkan pola pikirnya, yang berjalan dengan senter ideologinya, dan yang berucap dengan toa ideologinya, bertebar di seluruh pelosok negeri luar.

Meskipun kenyataan jelas menjabarkan bahwa ideologi mampu merenggangkan berbagai macam hubungan antar para aktornya dalam satu wilayah yang sama. Namun, ideologi ini menghidupkan secara nyata tumbuh kembangnya wilayah yang di diami para ideolog tersebut. Bagaimana kita lihat trio ganda negarawan bangsa (Soekarno-Hatta, Sutan Sjahrir-Amir Sjarifuddin, dan Tan Malaka-Soedirman) dengan macam-macam ideologi yang mereka anut sendiri secara berbeda-beda, mereka tetap mampu meng-obori arah bangsa dengan semangat ideologinya tersebut. Ideologi itu menjadikan bangsa ini hidup, hidup secara lahir maupun hidup secara batin. Keberagaman Ideologi tersebut menjadi mesin penggerak bangsa, sehingga bangsa ini hidup, hidup sebagai bangsa yang beradab.

Pemuda masa itu yang menyaksikan langsung bagaimana bangsa ini dikelola oleh politikus yang berideologi, terbakar pula semangatnya untuk mengupas kembali pemikiran-pemikiran mereka, atau meng-estafetkan Ideologi yang telah ditelannya, sehingga perjalanan bangsa ini ketika itu hidup, hidup dengan aroma wangi di kancah internasional.

Namun, sekarang Bangsa ini mati, kering, dan tak berbentuk karena hilangnya ideologi. Bapak bangsa atau para politikus pasca kemerdekaan yang tak berideologi, hidup namun mati layaknya mayat hidup yang bergerak sebatas bergerak tuntutan alam, bergerak tanpa arah hanya mencari makan atau persoalan material yang mereka kehendaki. Tidak ada tujuan, tidak ada pondasi yang meng-khaskan politik bangsa. Bangsa ini hening, pemuda linglung, masyarakat luntang-lantung.

Organisasi yang ada kini hanya sebagai organisasi massa, organisasi pencari dan penjilat kekuasaan. Tidak punya arah, tidak punya pencerah. Hanya kumpulan anak ayam yang mengikuti induk ayam untuk dibesarkan menjadi ayam potong bagi para peternak.

KKN KATULISTIWA

Standar

Kesan dan Pesan

Pengalaman KKN di tahun 2015 ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Dimulai dari pengalaman bagaimana diajar oleh lingkungan secara umum, hingga mengajar untuk lingkungan itu sendiri. Tidak ada ilmu sosial yang paling berharga dan bermakna tanpa melalui usaha terjun kelingkungan masyarakat itu sendiri secara langsung, dan program KKN ini mewadahi hal tersebut.

Selanjutnya, syukur tiada tara dari saya kepada Allah S.W.T karena saya dimasukkan dalam kelompok KKN KATULISTIWA, serta ucapan terimakasih kepada PPM yang memberikan ruang untuk membentuk kelompok KKN sendiri, sehingga kita dapat membangun secara kuat tim/kelompok KKN yang padu. Kelompok KKN KATULISTIWA merupakan kelompok yang paling terikat batinnya antar anggotanya sepengalaman saya. Hal itu saya rasakan dari bagaimana cepatnya kita menjadi sebuah keluarga yang sangat harmonis hanya dalam hitungan bulan membangun komunikasi, dan kami sebagian besar baru kenal satu dengan lainnya hanya dalam kelompok KKN ini. Ikatan batin yang selama 6 tahun saya bangun dan rasakan dalam pesantren dulu bersama teman-teman se-asrama, saya rasakan pula dalam kelompok kecil KKN ini yang hanya terbangun dalam jangka waktu singkat. Maka dari itu, kami seluruhnya menjadikan Kelompok KKN KATULISTIWA ini sebagai keluarga kecil kami yang sangat besar nilainya.

Sebelum masuk kedalam kesan selama perjalanan KKN, saya terlebih dahulu ingin menyampaikan keritik saya terhadap penyelenggara program KKN ini. Disebabkan ada satu hal yang secara umum dirasakan oleh kelompok KKN lainnya menjadi batu sandungan mereka dalam mengabdi kepada masyarakat akibat kekeliruan penyelenggara dalam menyelenggarakan program KKN ini.

Persoalan tersebut adalah persoalan finansial/pendanaan kampus untuk program KKN. Menurut saya, berdasarkan pada sharing teman-teman dari kelompok lain. Hambatan besar mereka dalam merealisasikan usaha-usaha pengabdiannya terhadapa masyarakat desa adalah tidak jelasnya pendanaan bantuan yang diberikan pihak kampus terhadap tiap-tiap kelompok KKN. Tidak jelas disini saya maksutkan adalah pada persoalan hak yang memperoleh dana bantuan kampus tersebut, karna haknya diberikan kepada dosen pembimbing yang secara nyata tidak berkontribusi besar terhadap usaha pembangunan dan pengabdian pada masyarakat desa. Padahal jelas dan nyata, sesungguhnya yang berkontribusi dalam membangun dan mengabdi kepada desa adalah masing-masing kelompok KKN yang ada, dan bahkan mengharumkan nama UIN di desa yang menjadi objek masing-masing.

Namun, secara terang-terangan disini saya sampaikan bahwa kelompok KKN KATULISTIWA sangat bersyukur memiliki dosen pembimbing ibu Dewi Sukarti, disebabkan ibu Dewi sangat menyadari urgensi dari dana bantuan tersebut untuk usaha kami menerapkan rancangan kerja kami, sehingga Ibu Dewi membantu dan membimbing kami dalam mengolah dana bantuan kampus tersebut secara jelas dan utuh, dan karenanya program kami terlaksana dengan baik. Lain halnya dengan informasi dari kelompok KKN lainnya yang menyatakan sangat sulit memperoleh pendanaan bantuan tersebut, disebabkan beberapa dosen pembimbing yang mereka dapat menyatakan bahwa pendanaan tersebut adalah hak penelitian dosen yang bersangkutan. Sehingga hal itu menjadi salah satu batu sandungan dalam program KKN mereka.

Benar apabila baiknya kami memperoleh dana bantuan dengan mengajukan proposal ke perusahaan-perusahaan besar. Namun disini saya tegaskan bahwa, kami membawa almamater UIN Jakarta dalam program kemasyarakatan ini, termasuk PPM sebagai induk dari acara KKN kepada masyarakat desa. Nama kampus kami yang tercinta berkibar hangat dimata masyarakat desa dengan pembawaan kami masing masing anggota kelompok KKN. Maka tidaklah etis apabila kami tidak bisa bergantung secara jelas terhadap pendanaan kampus. Jika ketakutan bahwa dana ini disalah gunakan nantinya terhadap program KKN kami, apa bedanya jika penyaluran dana tersebut disalurkan kepada dosen pembimibing, yang nota-benenya sama-sama belum jelas awal usahanya dalam melakukan pengabdian kepada desa. Maka dari itu saya harapakan dengan sungguh-sungguh, program pengabdian kedesa ini dapat dikelola dengan baik oleh penyelenggara, sehingga memudahkan kami sebagai mahasiswa dalam mengabdi dan membangun masyarakat dibawah almamater dan naungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kemudian, kesan saya menjalankan program KKN ini sangat luar biasa, karena nilai-nilai yang saya dapat, baik material maupun non-material, sangat-sangat tidak terhitung dan tidak terhingga sama sekali banyaknya.

Hal itu bermula sejak kami secara resmi dilepas oleh pihak kampus untuk mengabdi kepada desa tujuan kami, tepatnya di desa Sukaharja. Pihak kampus memberikan pesan yang sangat kuat menurut saya kepada kami seluruhnya bahwa, program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan usaha kampus untuk menjadikan mahasiswa UIN Jakarta menjadi intelek yang bermasyarakat, dalam artian memahami betul kondisi masyarakat bangsa sendiri, serta keluhan-keluhan dan problematika masyarakat yang harus mampu diperbaiki atau dicarikan solusinya secara nyata, langsung, dan cepat. Sehingga, diharapkan bekal terjun kemasyarakat ini dapat terus membekas hingga nanti dapat menjadi intelek yang beradab dan kuat cintanya terhadap rakyat bangsa Indonesia. Berbekal dengan pesan yang kuat tersebut, kami berangkat dengan semangat juang untuk tulus mengabdi kepada masyarakat.

Perjalanan kami menuju kesana alhamdulillah sangat lancar dan aman, disebabkan kami sudah 3 kali survei desa, sehingga kami memahami betul perjalanan kami menuju lokasi.  Disamping itu, 3 kali survei tersebut sangat membantu kami dalam menjalin relasi awal yang kuat dengan seluruh perangkat desa, baik yang kelembagaan, maupun kemasyarakatan pada umumnya. Kami sangat beruntung memiliki divisi Humas yang sangat kompeten dalam bidangnya, yakni saudara saya yang tercinta Haris Mauludin dari FIDKOM, dan Yunisa Azzahra dari FST. Mereka berdua menjadi lidah kami dalam membuka interaksi yang hangat dengan seluruh perangkat desa, yang kebetulan pula mereka berdua sangat baik dalam berbicara dalam bahasa sunda, sehingga memudahkan kami dalam berkomunikasi.

Kemudian sesampainya disana, kami langsung merapikan lingkungan tempat tinggal kami, yakni dirumah pak Haji Dani, seorang tokoh terkemuka masyarakat desa Sukaharja. Di Desa itu kami juga sangat terbantu oleh peran keluarga beliau, terutama anak beliau, yakni aa Yogi Ginanjar, yang menjadi ketua karang taruna desa tersebut, dan menjadi tokoh pemuda yang sangat baik. Keluarga besar beliau-beliau sangat hangat menyambut kami, dan sangat besar perannya dalam membantu kinerja KKN kami.

Selesainya merapikan pekarangan rumah, kami melakukan kunjunan kembali kerumah RT dan RW sekitar tempat tinggal kami. Demi tujuan meminta izin dan konfirmasi kembali mengenai sudah sahnya keberadaan kami di desa tersebut selama sebulan penuh dari pihak kampus. Kehangatan dan rasa penghargaan yang besar terhadap tamu sangat-sangat kuat diberikan masyarakat kepada kami, meskipun kami telah berkunjung 3 kali kepada desa tersebut, namun kehangatan sambutan yang diberikan tidak berkurang dari mereka. Pelajaran itupun yang mejadi kesan awal saya terhadap masyarakat desa, toleransi, menghargai setiap orang, sopan dan santun masing kental pekat melekat di adab masyarakat desa. Bangsa ini masih sangat beruntung dengan adanya orang-orang desa ini, karena rasa dari hal-hal ini tidak saya peroleh lagi dikota-kota besar yang telah saya kunjungi.

Singkat cerita, setelah melakukan pembukaan secara resmi di kantor desa Sukahrja, tepatnya tanggal 3 Agustus 2015, bersama dengan kepala Desa Santoso, yang sangat kami cintai dan hormati, kami mulai melaksanakan program kerja kami di desa ini selama sebulan. Saya sangat bersyukur dengan adanya saudara-saudari saya yang sangat kompeten dan kreatif dalam divisi Acara, yakni Joni Rolis dari FEB, Vita Ditya dari FSH, dan Annisaa Fachriyah dari FISIP. Mereka secara cermat dan kreatif menyusunkan proker kami berdasarkan pada kebutuhan-kebutuhan desa yang telah kami observasi selama 3 kali survei. Pada awalnya kami memiliki 8 program kerja, yakni: Pembangunan jembatan di RW 01 (Gang Ace), peremajaan musholla, mengajar di Sekolah, Rumah Pintar, penyuluhan sikat gigi, dan cuci tangan, senam pagi, penyluhan narkoba, penyuluha kreasi sampah, serta santunan anak yatim dan dhuafa. Namun, seiring berjalannya waktu ada beberapa proker yang kami kembangkan dan ada proker yang kami alihkan karena tidak lagi dirasa penting untuk dilaksanakan. Contohnya adalah seperti proker kami membangun jembatan yang nantinya kami alihkan pada pembangunan jalan. Dialihkannya pembangunan jembatan tersebut dikarenakan tidak adanya kerjasama yang baik dari ketua RT & RW di gang Ace dengan kami, karena mereka tidak melakukan kejelasan dalam menuliskan rancangan dana pembangunan jembatan, ketidak jelasan disini saya maksutkan adalah adanya peningkatan jumlah dana dari awal kami berbincang saat survei dengan ketika kami membuka pembicaraan kembali mengani masalah pembangunan jembatan tersebut ketika sudah menetap di desa. Disini saya sangat bangga dengan ketua KKN kami yakni saudara Shafwan Aziz dari FEB dan bendahara kami Inaya Ats’aqafiyah dari FEB, mereka dengan sangat cermat melakukan audit keuangan setiap program pembangunan yang kami rencanakan sehingga alokasi dana yang kami kucurkan jelas dan tepat.

Selain itu peremajaan musholla, dan penyuluhan sikat gigi kami alihkan ke program lain karena kami menemukan ketidak efektifan dalam program tersebut setelah kami obeservasi mendalam di desa dan melakukan rapat evaluasi setiap malamnya.

Pada akhirnya, selama berproses di desa tersebut kami total memiliki 17 program kerja termasuk pembukaan dan penutupan KKN, yaitu: Rumah Pintar, Mengajar di Sekolah Dasar, Melatih siswa SD menjadi Reporter Cilik, Mengajak siswa SD Wisata Sejarah yang ada di Desa Sukaharja, Nonton bareng film perjuangan, Senam/Olahraga pagi, Peremajaan Perpustakaan SD Sukaharja 01, Perbaikan jalan di RT 006/RW 002, dan di RT 004/RW 007, Renovasi MCK di Tapos, Penyambutan Bupati Bogor dalam acara Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat, Penyelenggara dan Panitia 17 Agustus di kantor desa Sukaharja, Santunan anak Yatim dan Lansia, Penyuluhan Narkoba, Penyuluhan Kreasi Sampah, dan Penyuluhan Pernikahan Dini.

Pengalaman yang sangat berkesan bagi saya sebagai anggota dari divisi Pubdekdok bersama dengan dua saudara saya, yakni Zaky N. U. Mawardy, dari FISIP dan Mohammad Miqdad dari FIDKOM adalah Penyuluhan Narkoba, Penyuluhan Kreasi Sampah, Penyuluhan Pernikahan Dini, Penyambutan Bupati Bogor dalam acara Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat, Penyelenggara dan Panitia 17 Agustus di kantor desa Sukaharja, Nonton bareng film perjuangan, Rumah Pintar, dan Reporter Cilik, karena di acara-acara tersebut peran kami sangat signifikan dimana menjadi penanggung jawab secara utuh dalam menyelenggarakan acara-acara besar desa tersebut. Alhamdulillah kami semua suksek dalam melaksanakan kegiatan kami terutama acara-acara besar desa, sehingga relasi kami dengan kepala desa Bapak Santoso sangat erat dan kuat.

Untuk proker pribadi saya, yakni “memperkenalkan dan memberikan pemahaman mengenai informasi mancanegara, melalui media visual, tulis, elektronik dan sebagainya, dengan tujuan memberikan wawasan yang lebih luas kepada masyarakat desa, dan menguatkan rasa nasionalisme pada akhirnya”, membuat saya terkesan dengan bagaimana kuatnya antusiasme masyarakat terhadap informasi-informasi tersebut. Proker ini saya sajikan bersamaan dengan menyelenggarakan nonton bareng film perjuangan, film kartun barat yang memiliki nilai implisit mengenai nasionalisme, pendidikan, dan sebagainya, serta melakukan story telling mengenai kisah nabi dan sahabat rasul di Rumah Pintar.

Selama kehidupan kami sehari-hari, meskipun kami memiliki jadwal piket untuk melaksanakan tugas sehari-hari seperti masak, rapi-rapi rumah, belanja kepasar, dan sebagainya, saya sangat berterimakasih dengan adanya seksi konsumsi yang sangat baik dalam mengatur dan mengelola kebutuhan dapur, diantaranya yakni Siti Nurasiyah dari FSH,  Anita Rachmawati dari FST, Nurul Ulya dari FAH. Sehingga keuangan kami untuk kebutuhan pangan sangat baik dan tidak kekurangan sama sekali. Selain itu untuk kedua sekretaris kami yakni Windy Septiana Dewi dari FST dan Givela Nur Khaleda dari FSH, saya sangat bersyukur dengan adanya mereka, sehingga dalam persoalan keadministrasian kami sangat lancar memperoleh yang kami mau, khususnya dalam persoalan surat menyurat dan sebagainya.

Secara garis besar seluruh cerita yang ada dalam KKN di desa Sukaharja ini sangat tidak mampu saya tuangkan secara indah dalam laporan ini, disebabkan keindahan yang saya rasakan selama KKN ini bersemayam jelas di dalam alam fikiran saya, sehingga dengan keterbatasan yang ada dalam bentuk tulisan ini, kisah 30 hari mengabdi kepada masyarakat tidak mampu saya paparkan secara merinci dalam tulisan ini, setiap kegiatan yang begitu berarti yang kami miliki sangat indah dalam kenangan saya. Terutama mengenai bagaimana perpisahan kami dengan masyarakat desa yang begitu sendu. Adik-adik kami siswa siswi Rumah Pintar dan SD Sukaharja 01 selama tiga hari berturut turut menangis di rumah kami, begitu juga beberapa warga yang dekat dengan kami, mereka semua menangisi kepergian kami, terutama  Kepala Desa kami bapak Santoso yang ketika penutupan menitihkan air matanya melepas kami secara resmi. Oleh-oleh yang berdus-dus diberikan oleh warga kepada kami tidak sepadan dengan yang kami berikan, hanya sedikit yang kami bisa berbuat kepada desa Sukaharja, namun, begitu besar pemberian yang mereka berikan kepada kami sekeluarga, sekeluarga KKN KATULISTIWA.

Pesan saya untuk seluruh akademisi dan penyelenggara pengabdian kepada masyarakat. Pertahankan keberadaaan KKN ini, perbaiki kekurangan kekurangan yang ada dalam penyelenggaraannya, terutama dalam persoalan finansial, dan acara KKN yang tidak berkelanjutan di desa yang menjadi tempat kami berbakti, sehingga tali komunikasi yang kami usahakan sedikit sulit jika tidak diwadahi secara formal.

Pada akhirnya, kesan dan pesan dalam laporan ini tidak akan pernah mampu mengikat seluruh cerita yang saya dan saudara-saudari KATULISTIWA alami selama KKN. Kami KKN KATULISTIWA akan melanjutkan terus perjuangan membangun dan membentuk masyarakat desa demi memajukan setiap individu masyarakat desa.

Gelap yang Menolak Cahaya

Standar

Hitam hati ini menolak sinar cinta sang pemiliki cahaya

Buta mata ini menatap mati kebenaran petunjuk cahaya

Keras jidat ini seolah enggan sujud kepada sajadah cahaya

Tuli Kuping ini mendengar lantunan kata-kata bercahaya

Hidung tak mampu memahami aroma suci pemilik cahaya

Lidah keras membatu melantunkan ayat-ayat cahaya

Kaku indra, kaku gerak, dan kaku rasa

Hilang gairah, Mati membusuk,

Shalat ku lepas… Shalat ku lepas…

Menawarkan Konsep “Perjuangan Kekuasaan Yahudi” Kepada Para Pendamba Khilafah

Standar

Jika kita rujuk pada persoalan-persoalan yang terjadi di dunia kini, khususnya terhadap aktor-aktor islam yang menjalankan peranannya sebagai pengemban amanah langit dalam aspek keduniaannya (terutama para aktor di Timur Tengah, Asia dan Afrika), dapat kita saksikan bagaimana Islam sangat porak-poranda di era moderen kini yang dibawa oleh mereka, dimulai dari akar hingga puncuk tertinggi pengembannya. Maka, hal inilah yang mengusik saya mengenai akuntabilitas para pemeran islamis kini yang notabenenya memahami betul konsep-konsep Islam dalam menjalankan pola-politik kenegaraannya, terutama usaha-usaha membumikan Islam sebagai “rahmatan lil alamin.”

Terjadi kekeliruan yang mendasar dan sangat akut telah dilakukan oleh mereka. Oleh karenanya, atas dasar persoalan-persoalan tersebut saya mencoba menyarikan bagaimana konsep-konsep duniawi yang dijalankan para non-Muslim, khususnya orang-orang Yahudi, dalam memperoleh kekuasaannya dalam mengelola dunia internasionalnya kini, yang sebenarnya dari dulu sudah diterapkan oleh Islam dan dicontohkan oleh nabi Muhammad S.A.W, namun dilupakan oleh para muslim yang haus akan kekuasaan sempit duniawi. Hingga rezim internasional direnggut oleh para yahudi-yahudi tersebut.

Hal itu tergambarkan dari peta politik keamanan yang terjadi di Timur Tengah, Asia, maupun di Afrika. Timur Tengah yang secara awam kita pahami sebagai regional yang menjadi awal mula bagaimana konsep agama-agama samawi (agama-agama yang diyakini langsung dari Allah, yakni Islam, Kristen dan Yahudi) diturunkan dimuka bumi, khususnya agama Islam yang secara eksklusif pertama kali di turunkan melalui nabi Muhammad S.A.W. di kawasan tersebut. Kawasan ini  megalami kemunduran peradaban, ekonomi, politik, sosial, dan ideologi yang sangat akut di era kini, hingga menimbulkan perang saudara yang berkepanjangan antar sesama penganut agama Islam. Kita ambil contoh mengenai sekte-sekte Islam disana, yakni Sunni dan Syi’ah yang secara jelas di kukuhkan dalam perang antara Arab Saudi maupun negara-negara teluk lainnya, melawan pengaruh Syi’ah Iran dan negara-negara penganut lainnya, serta organisasi-organisasi Islam yang memecah belah paham kesatuan Islam yang sebelumnya tidak pernah diajarkan Nabi S.A.W. Hal-hal tersebut mengotori kedamaian islam yang sebenarnya menjadi cita-cita kolektif umat manusia. Begitu juga di kawasan Asia dan Afrika, kawasan ini turut bergejolak akibat terbelah-belahnya pemahaman akan islam ini.

Maka, dari contoh-contoh nyata dan faktual tersebut, dapat kita pahami menganai aspek-aspek apa saja yang melemahkan perjuangan kekuasaan umat Islam dalam mengelola persoalan-persoalan duniawi di dunia internasional ini. Pertama, umat Muslim di era Modern ini (khususnya para petinggi-petinggi umat Islam) sudah jauh akan kesadaraan posisi mereka sebagai budak abadi Allah S.W.T. Hal ini menciptakan bagaimana pemimpin-pemimpin muslim kita sangat haus akan jabatan-jabatan kekuasaan yang sangat personal, seperti para raja-raja Arab Saudi, dan para pemimpin umat Islam pada umumnya (Ulama, Kyai, Habib, Ustad dan sebagainya) yang fokus pada persoalan-persoalannya sendiri/institusinya sendiri, bukan Islam secara keseluruhan, sehingga persoalan-persoalan sepele yang sifatnya sistematis saja menjadi persoalan yang besar dan menjadi fokus, sehingga aspek-aspek keseluruhan umat Islam hilang dari pandangannya. ( dapat dilihat dalam Konflik Yaman, Palestina, Rohingya, Bokoharam, Isis, Afghanistan, dan lainnya), dan fokus pada persoalan (Bacaan Qiraat, Pertengkaran persoalan fikih, dan sebagainya) mereka lupa akan musuh utama dan tujuan islam di muka bumi ini. Kedua, Umat islam modern kini lupa akan bahaya pembentukan golongan-golongan (sekte-sekte maupun organisasi-organisasi) yang notabenenya dapat menciptakaan kecintaannya terhadap golongan-golongannya itu sendiri, sehingga kemaslahatan umat islam pada umumnya terlupakan. Oleh karenanya yang hadir adalah kekerasan-kekerasan antar sesama muslim yang menyebabkan mudahnya para pembenci Islam menggunakan momentum ini untuk memporak-porandakannya. Padahal nabi Muhammad sudah menegaskan akan bahaya penggolongan-penggolongan ini, terutama dalam pemehaman-pemahaman keagamaan dan kemaslahatan kolektif (politik). (dapat dilihat dalam Arab Spring, ISIS, Bokoharam, perang Sunni-Syiah, dan sebagainya) mereka lupa akan musuh utama dan tujuan islam di muka bumi ini. dan Ketiga adalah, umat islam lupa akan penggunaan metode Softpower, yakni metode-metode penyampaian melalui dakwah, ataupun peranan-peranana sosial dan kemanusiaan. Sehingga umat muslim kini sangat agresif dibidang penggunaan senjata perang dan sejenisnya maupun konflik-konflik bersenjata, atau dikenal dengan Hardpower. Akibatnya umat kita lebih mengutamakan beraliansi dengan bangsa-bangsa non-muslim lainnya untuk mencari tekhnologi perang dan sebagainya, seperti Nuklir, dan Senjata atau alat berat lainya. Mereka akan lebih mudah berkonflik dengan sesama muslim ketimbang melawan musuh yang nyata (dapat dilihat pada konflik Palestina dan Israel, serta penanganan Muslim Rohingya), mereka lupa akan musuh utama dan tujuan islam di muka bumi ini.

Maka dari problematika tersebut, dapat dipahami bahwa secara garis besar para pemimpin Islam umat modern ini lupa akan adanya Allah S.W.T rajanya seluruh umat, Sang Maha Pengasih, Penyayang, Pelindung, dan Pemberi kedudukan. Pemimpin kita Sibuk akang memperjuangkan jabatannya sendiri. Untuk itu mari kita tengok usaha-usaha duniawi yang dilakukan para yahudi untuk dapat menjadi pengatur dunia internasional kini.

Pertama, sebelum umat yahudi dapat mengelola dunia seperti era modern kini, dalam negara hegemonnya (Amerika, Rusia, China, maupun negara-negara Eropa lainnya) serta Institusi internasionalnya (baik budaya, sosial, politiknya, dalam hal ini PBB, Hollywood, Ilmuan, dan sebagainya), bangsa yahudi sangat terpuruk dalam keberadaannya di dunia internasional ini. Islam ketika itu masih dikelola oleh para pemimpin-pemimpin yang sangat ingat akan Allah, keilmuannya kuat, dan persoalan politik/keduniaannya pun sangat kuat, serta persoalan keagamaan nya yang sangat padu dengan kematerialan. Maka, umat Yahudi tidak melakukan usaha-usaha perang (seperti yang dilakukan ISIS, Bokoharam, dan kawan-kawannya), namun mereka melakukan usaha softpolitic, yakni dengan mencari kelemahan-kelemahan manusiawi seluruh manusia (layaknya iblis). Mereka mengiming-imingi para pemimpin kita/umat manusia dengan keabadian jabatan, kemudahan ases kemanusiaan, kebebasan dalam segala bentuk dan ruang, serta persoalan-persoalan lainnya yang sangat menyentuh persoalan manusiawi dan nafsu hewani masyarakat (feminisme, gender-equality dan sebagainya), sehingga mereka dengan sangat mudah disenangi oleh masyarakat. hal ini dapat kita lihat bagaimana para Yahudi masuk dan mengelola pemerintahan negara-negara, melalui aspek kebudayaannya yang sangat sarat akan pornografi dan sebagainya, serta mereka mengukuhkan eksistensinya dalam institusi-institusi internasioanal. MEREKA TIDAK AMBIL JALAN PERANG DAN SEBAGAINYA YANG JAUH DARI PERSOALAN KEMANUSIAAN. Kedua, mereka para yahudi/zionis, tidak melakukan perpecahan-perpecahan umat seperti yang dilakukan oleh umat kristen dan Islam. mereka tidak membagi-bagi secara terang-terangan akan keberbedaan pendapat antar sesama golongan, dan gila-gilaan melakukan perdebatan internal antar pemaham agamanya. Akibatnya kesoliditasan akan tujuan utamanya jelas, dan dapat mereka perjuangkan dengan sangat jelas pula. MEREKA TIDAK FOKUS PADA PERSOALAN SEPELE, NAMUN BERJUANG UNTUK KEBANGKITAN KOLEKTIF UMATNYA.

kedua hal ini secara terbuka dapat kita pahami menjadi aspek penting bagaimana melakukan perjuangan-perjuangan untuk bangkit, untuk memperkenalkan konsep baru kepada masyarakat internasional. Adanya konstruksi ide mengenai keberadaan perjuangan-perjuangan ini sagat efektif dalam memikat hati rakyat secara gelobal, sehingga arus akses masuk pada pola pikir dan pola tindaknya sangat mudah diserap. MEREKA TIDAK MENGAMBIL JALAN PERANG/KEKERASAN/REVOLUSI, TAPI USAHA-USAHA NYATA MASUK KEDALAM SISTEM DAN MENGUBAHNYA DARI DALAM HINGGA BERHASIL MENGAMBIL ALIHNYA.

Hal inilah yang tidak dilakukan umat kita. Kita sibuk akan keterburu-buruan untuk mengambil jatah kekuasaan kita dalam mengelola dunia ini. Padahal konsep-konsep diatas (jika kita lepas aspek-aspek non-morilnya yang jauh dari Syari’at Islam) nabi Muhammad telah mengajarkan bagaimana pencapaian akan menangnya Islam dalam mengelola bumi Allah ini dengan metode Softpowernya, sangat jauh dari aspek perang, konflik, dan sebagainya. Pertama kali nabi mengajarkan akan kemurnia Islam, nabi masuk kedalam sistem arab ketika itu, dengan melakukan pengajaran-pengajaran yang intensif dan konsisten kepada umatnya. Nabi tidak langsung melakukan revolusi, perang atau menolak sistem dan mengacuhkannya, melainkan nabi masuk kedalamnya dan mengubah seluruhnya sesuai dengan Syari’at Islam, maka menanglah nabi kita. Perlakuan perang ketika itu adalah pada saat Islam diserang oleh eksternal, dan demi melindungi seluruh umat manusia yang ridho akan Islam, maka cepat diterimalah Islam. Nabi tidak pernah melakukan pemaksaan pemahaman dan ekspansi kekuasaan, hal itu tergambar bagaimana nabi tidak pernah menyerang kewilayah atau individu lainnya untuk mendoktrinkan pemahamannya, melainkan nabi hanya mengabarkan dan menegaskannya dalam hukum (fathul mekah tidak termasuk ekspansi karena nabi menjemput tanah milik muslim yang sebenarnya). Selanjutnya, nabi hanya mengajarkan untuk mencintai Allah dalam Islam setunggal-tunggalnya, dan semurni-murninya, maka organisasi-organisasi/sekte-sekte diluar itu tidak memiliki ruang. Akibatnya manusia seluruhnya mencintai umat islam secara kolektif, dan kepentingan-kepntingan duniawi terfokuskan berdasarkan kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Persoalan Islam dikembalikan pada AL-QUR’AN dan HADIS, bukan pada PAHAM GOLONGAN.

Pada akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa pemimpin dan para tetua kita lupa akan konsep perjuangan kekuasaan yang terlah diajarkan Allah melalui para Rasulnya, sehingga Islam kini sangat porak-poranda dan hina ditengah masyarakat internasional.

Mereka Bilang Perspektif

Standar

Dia bilang A, dia bilang B, dia bilang C, dia bilang D, dia bilang E, dia bilang F, dia bilang G, dia bilang H, dia bilang I, dia bilang J, dia bilang K, dia bilang L, dia bilang M, dia bilang N, dia bilang O, dia bilang P, dia bilang Q, dia bilang R, dia bilang S, dia bilang T, dia bilang U, dia bilang V, dia bilang W, dia bilang X, dia bilang Y, dia bilang Z, lalu ku timpali balik dengan pernyataan yang serupa namun dimulai dari “aku bilang Z”, Tetap sama tidak ujungnya | Berbeda kan yah | Tetap sama tidak prosesnya | sama kan yah| Tetap sama tidak hasilnya | Tergantungkan yah | Lalu untuk apa beradu mulut/argumen dalam menetapkan ujungnya kalo tahu hasilnya berbeda | lalu untuk apa beradu mulut/argumen kalo tahu prosesnya sama saja | lalu untuk apa beradu mulut/argumen kalau hasil  dari kesimpulan semuanya tidak pasti dan selalu tergantung sebab akibatnya | Ya ini semua karena lupa Tuhan yang maha Esa, lupa akan keagungan dan keluasan Ilmu Tuhan.

Mencintai Cinta Sang Pemilik Cinta

Standar

Aku menatap keatas, maka terlihat oleh ku seorang raja dengan gagahnya berdiri tegak diatas suatu istana. Bergetar tak tertahan raga ini membayangkan masa muda sang raja yang kokoh dan gagah bagaikan tegak berdirinya kini. Maka kutelusuk sejarahnya, benar nian, tahta harta dari bapaknya mengokohkan pondasi kaki dan tulang belulang raja tersebut untuk menjadikannya seperti saat ini. Sehingga paham akal ini bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Maka jadilah aku pendesak orang tuaku, agar supaya kaya harta keturunan ku.

Maju beberapa langkah, kembali ku tengadahkan kepala ini keatas, maka kulihat kembali seorang raja dengan gagahnya berdiri tegak diatas suatu istana. Kali ini bergetar akal fikiran menanyakan pembenaran cara pandang ku yang pertama. Maka kutelusuk sejarahnya, benar nian, bertolak belakang jalan cerita raja ini. Beliau menumpahkan banyak darah dan keringat untuk mengokohkan pondasi kaki dan tulang belulangnya demi menggapai tahta raja yang dia tapaki kini. Sehingga pahamlah akal ku bahwa perjuangan akan menghasilkan penggapaian yang diperjuangkan. maka berjuanglah aku menggapainya.

Maju kembali ku beberapa langkah, lalu aku merunduk kebawah. Kulihat seorang gelandangan kumuh dan berbau tak sedap menggali gali tumpukan sampah demi mencari sesuatu yang dapat mengganjal rasa lapar perutnya. Bergetar hati ini melihat begitu malangnya nasib orang ini, maka kutelusuk sejarahnya. Aneh nian, gelandangan ini memiliki sejarah yang menakjubkan dengan harta benda yang membanjirinya dimasa mudanya yang diperoleh dari orang tuanya. Maka tersimpul oleh akal ku bahwa masa mudanya tak ada perjuangan untuk mempertahankan kekayaannya. Sehingga akupun berkesimpulan untuk tetap berjuang.

Lalu ku maju lagi beberapa langkah, ku tundukan kepala ku kebawah, dan kulihat seorang gelandangan kumuh sedang menggali-gali tumpukan sampah untuk dimakannya demi mengganjal rasa laparnya. Kali ini bergetar akal fikiran menanyakan pembenaran cara pandang ku yang pertama. Aneh nian, gelandangan tersebut berjuang tiada henti pada masa mudanya untuk merubah nasib agar menjadi lebih baik bahkan agar menjadi seorang raja, hebat betul perjuangannya, otaknya pun cerdas. Maka tersimpul oleh akal ku bahwa, gelandangan ini tidak memiliki dana untuk meneruskan perjuangannya tersebut. Sehingga akupun berkesimpulan bahwa aku harus menekan orang tuaku agar menjadi kaya terlebih dahulu dan bertahta sebelum aku harus menanggung semuanya.

lalu akhirnya aku berenti sejenak untuk menerapkan segala kesimpulan ku, sial nian, tak ada yang berjalan sesuai dugaan ku satu pun. Aku berjuang setengah mati, jalan ku tetap saja berbatu, dan kutatap kesamping, taman ku berjalan lunglai dan nyaman dari dana orang tuanya menuju masa depannya dengan gemilang. maka akupun mencoba jalan lunglai dan nyaman dari dana orang tuaku, namun hancur pula masa depanku, gelandangan pula aku jadinya. Sehingga aku pun berjuang dengan dana dan tenaga, ku kombinasikan keduanya, aneh betul, tetap saja ku terperosok, tapi ku tatap teman disebelah ku yang sama usahanya, sukses pula dia.

Pada akhirnya aku menatap keatas kebawah tiada henti dan begitu cepat. maka kutemui jalan lurus bercahaya didepan ku, bahwa bukan karna tahta, harta, dan usaha yang membentangkan masa depan ku yang gemilang sesuai harapan ku, ada kekuatan eksternal yang maha besar dan maha agung yang menggerakan masa depan, dia sang pemilik masa depan, masa sekarang, dan masa lalu. aku menyadarinya bahwa ada kekuatan eksternal yang menggerakan alam semesta ini. Maka aku tersadarkan, mengapa tidak kukerahkan saja seluruh kemampuan harta usaha ku untuk meminta perhatian sang pemilik alam semesta ini? sekalipun aku gagal akupun mengemis bukan kepada sesuatu yang ada dalam alam ku ini, aku mengemis dan menjalani hidup sepenuhnya kepada sesuatu yang melampaui alam ku ini, sesuatu yang diluar alam ku ini, sesuatu yang memiliki alam ku ini. maka ketika matipun aku, aku berharap berada didekapannya.

lain halnya bila ku sukses menyita perhatiannya, dan aku beruntung mendapat perhatiannya di alam ini, aku pun menjadi raja layaknya raja raja tadi. namun ku rasa aku tidak akan menghina orang-orang dibawah ku, karna aku tahu bahwa ada yang mengizinkan aku untuk mencapai posisi ku ini.

Maka akupun hanyut mencintai sang pemilik segala sesuatu ini, nafsu geloro ini tersalurkan seluruhnya untuk mengemis dan mengharap cinta dan belas kasihan sang pemiliki semua ini. Maka tak terasa dan tak mencemaskan ku segala yang ada dialam ku ini, alam material yang rendahan ini. aku sibuk mencintai sang pemiliki cinta dan Allah lah sang pemilik cinta tersebut.