Asimiles

Standar
Jane Paul Sartre, dalam kata pengantarnya untuk buku Les Damnes De la Terre, karya Francois Nellino, menuturkan: “Kita pilih beberapa orang pemuda Afrika dan Asia untuk kita kirim beberapa bulan lamanya ke Amsterdam, Paris, London, dan Brussel. Sesudah beberapa waktu mereka kita beri baju dengan model Eropa, kita suapkan istilah-istilah Eropa, dan kita kuliti mereka dari peradabannya. Sesudah itu, kita ubah mereka menjadi bebek-bebek dan kerbau-kerbau, dan itulah saatnya bagi mereka untuk siap dikirm pulang. Dengan demikian, mereka akan menjadi bebek-bebek yang dengan setia menyuarakan segala sesuatu yang kita ucapkan tanpa mereka sendiri tahu artinya. Segala sesuatu yang kita kerjalan akan mereka tiru, dan mereka dengan bangga mengatakan bahwa telah berkata dan berbuat sesuatu dari dirinya sendiri. Mereka itulah yang kita sebut dengan Assimiles.
 
(Ali Syariáti, dalam Ummah dan Imamah: Suatu TInjauan Sosiologis, 1989, h. 73).

​Antara Fathimah Az-Zahra, Abu Bakar As-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib

Standar

Pasca meninggalnya Rasullullah, Fathimah Az-Zahra menagih Tanah Fandak (sebidang kebun di luar Madinah yang menurut fatimah telah menjadi hak warisnya dari ayahnya, yakni Rasulullah) kepada Khalifah Abu Bakar.

Khalifah Abu Bakar menolak Tanah Fandak tersebut diperlakukan sebagai tanah warisan dengan mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Kami, para nabi, tidak akan mewariskan emas, perak, rumah, dan juga ladang. Kami mewariskan kitab, hikmah, ilmu, dan kenabian. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”
Akibat dari keputusan Khalifah Abu Bakar tersebut, Fatimah Az-Zahra mengatakan, “Apakah kalian (ketika itu Umar bin Khatab juga sedang menemani Khalifah Abu Bakar) tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keridaan Fatimah adalah ridaku, kemurkaan Fatimah adalah kemurkaan ku. Barang siapa mencintai Fatimah, putriku, berarti dia telah mencintaiku, barangsiapa membuat ridha Fatimah, putriku, berarti dia telah membuatku rida, barang siapa membuat Fathimah murka, berarti dia telah membuatku murka.'” Abu bakar dan Umar menjawab, “Ya, kami telah mendengar hadis itu dari Rasulullah.” Kemudian, Fathimah melanjutkan, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan malaikatnya, kalian telah membuatku murka. Aku tidak rida kepada kalian berdua. Seandainya aku bertemu dengan Rasulullah, aku akan mengadukan kalian kepadanya. Sungguh, aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya.” 


Abu Bakar kemudian menangis dan menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaannya dan kemurkaan mu, Fathimah. Sungguh aku tidak akan meninggalkan mu Fathimah.” kemudian Khalifah Abu Bakar, mengulang hadis Rasulullah yang mengatakan bahwa para nabi tidaklah meninggalkan warisan. Namun, Fathimah tidak menjawab lagi. 
Akibat dari hal itu, kemudian Khalifah Abu Bakar berdiri di depan semua orang. Dengan lantang ia menyampaikan, “Wahai manusia! Pecatlah aku! Setiap kalian tidur dengan memeluk istri-istri kalian, gembira dengan keluarga kalian, dan kalian meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak butuh baiat kalian.”
Kemudian seorang sahabat berteriak, “Wahai Khalifah, sungguh masalah ini tidak akan tegak. Engkaulah yang paling mengetahui hal ini. Sungguh, jika saja ini tidak dilakukan, agama Allah tidak akan berdiri.”
Abu Bakar merespons, “Sungguh, jika tidak demikian, aku tidak takut dengan kelunakan ikatan ini. Aku tidak bisa tidur waktu malam, sedangkan pada leher seorang Muslim terdapat baiat. Terutama setelah apa yang aku dengatr dan aku lihat dari Fathimah.” 
Kemudian, Ali bin Abi Thalib yang pada awalnya masih belum mau untuk memberikan baiatnya kepada Khalifah Abu Bakar, berdiri dan berkata dengan kata-kata tertata, “Wahai Khalifah, kami tidak akan memecatmu dan kami juga tidak memintamu untuk dipecat selamanya. Rasulullah telah mengajukanmu untuk mempersatukan agama kita. Siapakah orang yang menundamu untuk mengawasi duniawi kita?”
Disarikan dari (Muhammad jilid 2, oleh Tasaro GK. Dengan dirujuknya dari O. Hashem, “Saqifah”, Bab Abu Bakar dan Fathimah serta Abdurrahman Asy-Syarqawi, “Ali bin Abi Thalib, The Glorious, Bab Bersama Abu Bakar).

Modern Itu Bukan Seperti Itu

Standar

Saya pikir, modern itu bukanlah menggantikan peran pekerja dengan alat-alat modern, namun sebaliknya, yakni alat-alat modern tersebut memudahkan si pekerja untuk bekerja. Saya kira, sangat keliru jika manusia meniru sistem modern yang ditawarkan oleh kaum kapitalis, karna modern yang mereka hasilkan tersebut tidak menjadi sebuah solusi bagi umat manusia, malah menjadikan sebuah persoalan yang sangat besar. Kita dapat membuktikannya dari masyarakat yang ada di negara-negara modern, seperti eropa dan amerika serikat. Tampak secara permukaan negara mereka begitu makmur dan indah, namun jika kita memasuki ke dalam seluruh sendi-sendi kemasyarakatan mereka, akan sangat jelas terlihat bagaimana kesenjangan antar umat manusia itu tercipta, kesenjangan antar kelas proletar dan kapitalis.

Dan hal ini yang sangat saya sesali akan terjadi di kampus tercinta saya, yakni UIN Jakarta. Mekanisme modern itu akan di peroleh oleh mereka dalam persoalan yang paling sepele, yakni sistem parkir. Mesin-mesin karcis parkir yang begitu modern akan mereka terapkan dan menggantikan peran kerja dari para tukang karcis parkir. Saya sempat mengobrol sedikit dengan salah satu tukang karcis parkir disana, mereka sangat kecewa dan sangat khawatir akan hilangnya pekerjaan mereka. Bahkan mereka menanyakan kok tidak ada yang membela atau menuntuk dari pihak mahasiswa terkait hal tersebut.

Oleh karenanya, seharusnya UIN sebagai salah satu universitas islam yang menjadi basis masyarakat islam untuk maju dan berkembang melalui sistem islam, melihat modernitas itu dalam kacamata sistem modern islam, bukan malah sebaliknya berkaca dari sistem modern barat. Sangat menyedihkan sekali bilamana konsep pemikiran islam ditinggalkan cuma-cuma oleh institusi akademis yang meminjam kata islam dalam nama institusinya, dan sangat terlena oleh pemikiran-pemikiran ilmu barat.

Gak Ada Judul Cuma Ngedumel

Standar

Words only represent something else. They are not real things. They are only symbols. According to the philosophy of enlightenment, everything is a symbol. The reality of symbols is an illusory reality. Nonetheless, it is the one in which we live. -Gery Zukav-

Agama itu doktrin, kalo bukan doktrin bukan agama namanya. Soalnya isinya hukum.

Agama itu rancu, kalo gak rancu bukan agama namanya. Soalnya isinya tentang sebab akibat yang sangat kompleks, baik yang di luar nalar manusia, maupun sesuai.

Agama itu sempit, kalo gak sempit bukan agama namanya. Karena isinya seputar kehidupan dan kematian, tidak lebih.

tapi…

Agama itu petunjuk, pembimbing, dan pengajak, kalo gak memberi petunjuk, bimbingan, dan ajakan, bukan agama namanya. Soalnya isinya menujukan, mengajak, dan membimbing tentang hukum-hukum alam di dunia, baik yang bersifat irasional maupun rasional.

Agama itu logis, kalo gak logis bukan agama namanya. Soalnya isinya ilmu yang dapat dipahami manusia, penjelasan yang sangat terang bederang dan sangat indah dalam menjawab segala persoalan dan pertanyaan.

Agama itu luas, kalo gak luas bukan agama namanya. Soalnya isinya tidak sebatas kata kehidupan dan kematian saja, tapi jauh kedalam kata tersebut, karena isinya seputar penjabaran kongkrit dan gamblang persoalan kehidupan dan kematian. Panjang, lebar dan sangat luas, karna seluas alam dari kedua kata tersebut, tidak terbatas ruang dan waktu yang dibahasnya.

Agama yang dimaksud barusan tentu agama yang terakhir. Karena tidak ada yang seperti di atas kalo bukan yang di akhir. karena yang di akhir itu selalu bersifat penyempurna dan penetap. Sehingga mustahil adanya yang di awal dan di tengah bersifat seperti agama di atas. Agama yang terakhir tentu adalah Islam.

Tidak jelas, ya karna ini cuma kata-kata, seperti yang dikatakan Gery Zukav dalam The Dancing Wu Li Master, An Overview of the New Physics, halaman 270 “Words only represent something else. They are not real things.” Sekian~

Kontradiksi System Imamah

Standar

Ketika sedang membaca bukunya Murtadha Muthahari yang berjudul Kepemimpinan Islam, dalam bagian kata pengantar Jalaluddin Rakhmat memberikan pengantar yang sangat membingungkan saya dalam konsep penunjukan kepemimpinan Syi’ah.

Ia menjabarkan bahwa dalam konsep kepemimpinan dalam Islam, menunjuk pemimpin (istikhlaf) pengganti dari pemimpin sebelumnya adalah wajib, dan ini telah dilakukan oleh nabi Muhammad, yang menurut mereka telah menunjuk Ali bin Abi Thalib secara langsung. Hal itu dia landasi dengan mengutip surat al-Maidah ayat 55 dengan berbagai macam tafsiran ulama syi’ah atau sunni. Dia mengatakan bahwa, ulama-ulama di mazhab itu sepakat bahwa Ali-lah yang dimaksut dalam surat al Maidah itu, namun ulama sunni mempertentangkannya karena bentuk kalimat didalamnya adalah berbentuk Jamak. Sedangkan, ulama-ulama sunni ketika menafsirkan ayat lain diluar kepemimpinan banyak yang menunjuk kata-kata jamak untuk seseorang, dan tidak mempertentangkan hal itu. (lebih jelasnya liat kata pengantar dibuku  Murtadha Muthahari tersebut)

Dari hal itu dapat saya pahami (secara sangat-sangat sederhana, atau sesederhana cara pikir orang khawrij) bahwa Syi’ah mengamini konsep kepemimpinan seperti yang diperaktekan sistem kerajaan (meski berbeda jauh siapa yang ditunjuk sebagai penggantinya), dalam hal ini konsep kepemimpinannya yang menunjuk langsung para pemimpinnya oleh pemimpin sebelumnya, seperti di Saudi dan lainnyan, atau  dalam bahasa mereka sistem imamah. Dan mereka menolak sistem demokrasi, seperti yang di contohkan pada sistem pemilihan Abu Bakar sepeninggal nabi. Namun mereka tetap mengamini cara Abu bakar dalam memilih Umar Bin Khattab sebagai penggantinya.

Selanjutnya yang jadi pertanyaan dalam pikir saya yang sangat dangkal ini, kenapa paham Syi’ah kini sangat marah ketika Saudi mengeksekusi mati seoarang ulama Syi’ah yang menyerukan Demokrasi di Saudi, yang berusaha merusak kestabilan politik negara Saudi dengan retorika-retorikanya yang membahayakan sistem kepemimpinanna yang sah, serta ikut campur dalam urusan rumah tangga negara Saudi. Dan bahkan kenapa bisa-bisanya Ulama Syi’ah itu menyerukan untuk pemilihan umum di Saudi, padahal kaum Syi’ah menolak pemilihan umum Abu Bakar.

Di Iran pun terjadi pemilihan umum untuk presidennya, maskipun harus melalui persetujuan 12 Imam. Maka dari itu, dalam pikir saya, sangat tidak lurus pemahaman wilayah/imamah Syi’ah tersebut, terjadi banyak kontradiksi dan seterusnya. Maka jika muslim seluruhnya merujuk pada sistem khilafah akan lebih jelas bentuk dari konsep kepemimpinan Islam tersebut, dan akan lebih searah dengan Syri’at Rasullullah.

Sang Imam Bertinta Emas

Standar

Imam Al Ghazali berkata:
Yang singkat itu – “waktu”
Yang menipu itu – “dunia”
Yang dekat itu – “kematian”
Yang besar itu – “hawa nafsu”
Yang berat itu – “amanah”
Yang sulit itu – “ikhlas”
Yang mudah itu – “berbuat dosa”
Yang susah itu – “sabar”
Yang lupa itu – “bersyukur”
Yang membakar amal itu – “mengumpat”
Yang ke neraka itu – “lidah”
Yang berharga itu – “iman”
Yang mententeramkan hati itu – “teman sejati”
Yang ditunggu Allah SWT itu -“TAUBAT”

Kritik Islam Terhadap Marxisme

Standar

Hanya mengutip dari bukunya Ali Syari’ati halaman 119 yang berjudul Kritik Islam Terhadap Marxisme dan Sesat-Pikir Barat Lainnya. Dia mengatakan bahwa,

Tidak mengherankan bahwa setelah jatuhnya borjuis dan kemenangan komunisme, dialektika Marx terpaksa berhenti dalam sejarah, dan perjuangan tesis dan anti-tesis mencapai puncak dalam semacam koeksistensi damai! Marx tak berdaya menunjukan kemana , setelah komunisme, nasib manusia akan menuju dalam dunia ini; apa lagi dunia nanti (hari kemudian). Inilah masalah yang tidak dapat dipecahkan baik oleh materialisme lama maupun materialisme dialektika. Karena, seperti yang dikatakan Rene Guenon: “apabila dunia tanpa arti dan tujuan, maka manusia pun tanpa arti dan tujuan,” Marx mengakui bahwa kemanusiaan semacam itu tidak mempunyai nasib “nyata.”

Islam, dipihak lain, berbuat lebih dari sekedar memberi kemanusiaan suatu kedudukan terhormat dalam alam, “Telah Kami muliakan anak cucu Adam.” (QS 17:70). Ini lebih dari sekedar menyangkal bahwa Tuhan menjadikan manusia makhluk yang tak berdaya , kehilangan dirinya, mencari kekuatan dan nilai-nilainya sendiri dalam wujud Tuhan dan menuntut nilai-nilai itu dari-Nya dengan “keluhan dan air mata.” Islam menganggap bahwa Tuhan menyerahkan amanataNya kepada kemanusiaan: “Kami tawarkan amanat pada langit, bumi dan gunung-gunung, dan mereka menolak untuk menanggungnya (memikulnya) karena takut, dan manusialah yang melakukannya. (QS 33:70)” Islam telah menunjukan bahwa manusia diciptkan sebagai wakil Allah dalam alam: “Sesungguhnya hendak Ku tempatkan di bumi seorang Khalifah.” (QS 33:30)