​Antara Fathimah Az-Zahra, Abu Bakar As-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib

Standar

Pasca meninggalnya Rasullullah, Fathimah Az-Zahra menagih Tanah Fandak (sebidang kebun di luar Madinah yang menurut fatimah telah menjadi hak warisnya dari ayahnya, yakni Rasulullah) kepada Khalifah Abu Bakar.

Khalifah Abu Bakar menolak Tanah Fandak tersebut diperlakukan sebagai tanah warisan dengan mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Kami, para nabi, tidak akan mewariskan emas, perak, rumah, dan juga ladang. Kami mewariskan kitab, hikmah, ilmu, dan kenabian. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”
Akibat dari keputusan Khalifah Abu Bakar tersebut, Fatimah Az-Zahra mengatakan, “Apakah kalian (ketika itu Umar bin Khatab juga sedang menemani Khalifah Abu Bakar) tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keridaan Fatimah adalah ridaku, kemurkaan Fatimah adalah kemurkaan ku. Barang siapa mencintai Fatimah, putriku, berarti dia telah mencintaiku, barangsiapa membuat ridha Fatimah, putriku, berarti dia telah membuatku rida, barang siapa membuat Fathimah murka, berarti dia telah membuatku murka.'” Abu bakar dan Umar menjawab, “Ya, kami telah mendengar hadis itu dari Rasulullah.” Kemudian, Fathimah melanjutkan, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan malaikatnya, kalian telah membuatku murka. Aku tidak rida kepada kalian berdua. Seandainya aku bertemu dengan Rasulullah, aku akan mengadukan kalian kepadanya. Sungguh, aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya.” 


Abu Bakar kemudian menangis dan menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaannya dan kemurkaan mu, Fathimah. Sungguh aku tidak akan meninggalkan mu Fathimah.” kemudian Khalifah Abu Bakar, mengulang hadis Rasulullah yang mengatakan bahwa para nabi tidaklah meninggalkan warisan. Namun, Fathimah tidak menjawab lagi. 
Akibat dari hal itu, kemudian Khalifah Abu Bakar berdiri di depan semua orang. Dengan lantang ia menyampaikan, “Wahai manusia! Pecatlah aku! Setiap kalian tidur dengan memeluk istri-istri kalian, gembira dengan keluarga kalian, dan kalian meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak butuh baiat kalian.”
Kemudian seorang sahabat berteriak, “Wahai Khalifah, sungguh masalah ini tidak akan tegak. Engkaulah yang paling mengetahui hal ini. Sungguh, jika saja ini tidak dilakukan, agama Allah tidak akan berdiri.”
Abu Bakar merespons, “Sungguh, jika tidak demikian, aku tidak takut dengan kelunakan ikatan ini. Aku tidak bisa tidur waktu malam, sedangkan pada leher seorang Muslim terdapat baiat. Terutama setelah apa yang aku dengatr dan aku lihat dari Fathimah.” 
Kemudian, Ali bin Abi Thalib yang pada awalnya masih belum mau untuk memberikan baiatnya kepada Khalifah Abu Bakar, berdiri dan berkata dengan kata-kata tertata, “Wahai Khalifah, kami tidak akan memecatmu dan kami juga tidak memintamu untuk dipecat selamanya. Rasulullah telah mengajukanmu untuk mempersatukan agama kita. Siapakah orang yang menundamu untuk mengawasi duniawi kita?”
Disarikan dari (Muhammad jilid 2, oleh Tasaro GK. Dengan dirujuknya dari O. Hashem, “Saqifah”, Bab Abu Bakar dan Fathimah serta Abdurrahman Asy-Syarqawi, “Ali bin Abi Thalib, The Glorious, Bab Bersama Abu Bakar).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s