Modern itu bukan seperti itu !

Standar

Saya pikir, modern itu bukanlah menggantikan peran pekerja dengan alat-alat modern, namun sebaliknya, yakni alat-alat modern tersebut memudahkan si pekerja itu untuk bekerja. Saya kira, sangat keliru jika manusia meniru sistem modern yang ditawarkan oleh kaum kapitalis, karna modern yang mereka hasilkan tersebut tidak menjadi sebuah solusi bagi umat manusia, malah menjadikan sebuah persoalan yang sangat besar. Kita dapat membuktikannya dari masyarakat yang ada di negara-negara modern, seperti eropa dan amerika serikat. Tampak secara permukaan negara mereka begitu makmur dan indah, namun jika kita memasuki ke dalam seluruh sendi-sendi kemasyarakatan mereka, akan sangat jelas terlihat bagaimana kesenjangan antar umat manusia itu tercipta, kesenjangan antar kelas proletar dan kapitalis.

Dan hal ini yang sangat saya sesali akan terjadi di kampus tercinta saya, yakni UIN Jakarta. Mekanisme modern itu akan di ambil oleh mereka dalam persoalan yang paling sepele, yakni sistem parkir. Mesin-mesin karcis parkir yang begitu modern akan mereka terapkan dan menggantikan peran kerja dari para tukang karcis parkir. Saya sempat mengobrol sedikit dengan salah satu tukang karcis parkir disana, mereka sangat kecewa dan sangat khawati akan hilangnya pekerjaan mereka. Bahkan mereka menanyakan kok tidak ada yang membela atau menuntuk dari pihak mahasiswa terkait hal tersebut.

Oleh karenanya, seharusnya UIN sebagai salah satu universitas islam yang menjadi basis masyarakat islam untuk maju dan berkembang melalui sistem islam, melihat modernitas itu dalam kacamata sistem modern islam, bukan malah sebaliknya berkaca dari sistem modern barat. Sangat menyedihkan sekali bilamana konsep pemikiran islam ditinggalkan cuma-cuma oleh institusi akademis yang meminjam kata islam dalam nama institusinya, dan sangat terlena oleh pemikiran-pemikiran ilmu barat.

Jika ada yang keliru mohon diluruskan karena keterbatasan saya dalam melihat informasi secara nyata hehehe

Gak Ada Judul Cuma Ngedumel

Standar

Words only represent something else. They are not real things. They are only symbols. According to the philosophy of enlightenment, everything is a symbol. The reality of symbols is an illusory reality. Nonetheless, it is the one in which we live. -Gery Zukav-

Agama itu doktrin, kalo bukan doktrin bukan agama namanya. Soalnya isinya hukum.

Agama itu rancu, kalo gak rancu bukan agama namanya. Soalnya isinya tentang sebab akibat yang sangat kompleks, baik yang diluar nalar manusia, maupun sesuai.

Agama itu sempit, kalo gak sempit bukan agama namanya. Karena isinya seputar kehidupan dan kematian, tidak lebih.

tapi…

Agama itu petunjuk, pembimbing, dan pengajak, kalo gak memberi petunjuk, bimbingan, dan ajakan, bukan agama namanya. Soalnya isinya menujukan, mengajak, dan membimbing tentang seruannya, baik yang bersifat irasional maupun rasional.

Agama itu logis, kalo gak logis bukan agama namanya. Soalnya isinya ilmu yang dapat dipahami manusia, penjelasan yang sangat terang bederang dan sangat indah dalam menjawab segala persoalan dan pertanyaan.

Agama itu luas, kalo gak luas bukan agama namanya. Soalnya isinya tidak sebatas kata kehidupan dan kematian saja, tapi jauh kedalam kata tersebut, karena isinya seputar penjabaran kongkrit dan gamblang persoalan kehidupan dan kematian. Panjang, lebar dan sangat luas, karna seluas alam dari kedua kata tersebut, tidak terbatas ruang dan waktu yang dibahasnya.

Agama yang dimaksud barusan tentu agama yang terakhir. Karena tidak ada yang seperti di atas kalo bukan yang di akhir. karena yang di akhir itu selalu bersifat penyempurna dan penetap. Sehingga mustahil adanya yang di awal dan di tengah bersifat seperti agama di atas. Agama yang terakhir tentu adalah Islam.

Tidak jelas, ya karna ini cuma kata-kata, seperti yang dikatakan Gery Zukav dalam The Dancing Wu Li Master, An Overview of the New Physics, halaman 270 ( seperti yang diatas sekali) “Words only represent something else. They are not real things.” Sekian~Assalamualaikum.