Kontradiksi

Standar

Ketika sedang membaca bukunya Murtadha Muthahari yang berjudul Kepemimpinan Islam, dalam bagian kata pengantar, Jalaluddin Rakhmat memberikan pengantar yang sangat membingungkan saya dalam konsep penunjukan kepemimpinan Syi’ah. Ia menjabarkan bahwa dalam konsep kepemimpinan dalam Islam, menunjuk pemimpin (istikhlaf) pengganti dari pemimpin sebelumnya adalah wajib, dan ini telah dilakukan oleh nabi Muhammad, yang menurut mereka telah menunjuk Ali bin Abi Thalib secara langsung. Hal itu dia landasi dengan mengutip surat al-Maidah ayat 55 dengan berbagai macam tafsiran ulama syi’ah atau sunni. Dia mengatakan bahwa, ulama-ulama di mazhab itu sepakat bahwa Ali lah yang dimaksut dalam surat al Maidah itu, namun ulama sunni mempertentangkannya karena bentuk kalimat didalamnya adalah berbentuk Jamak. Sedangkan, ulama-ulama sunni ketika menafsirkan ayat lain diluar kepemimpinan banyak yang menunjuk kata-kata jamak untuk seseorang, dan tidak mempertentangkan hal itu. (lebih jelasnya liat kata pengantar dibukuĀ  Murtadha Muthahari tersebut)

Dari hal itu dapat saya pahami (secara sangat-sangat sederhana, atau sesederhana cara pikir orang khawrij) bahwa Syi’ah mengamini konsep kepemimpinan seperti yang diperaktekan sistem kerajaan (meski berbeda jauh siapa yang ditunjuk sebagai penggantinya), dalam hal ini konsep kepemimpinannya yang menunjuk langsung para pemimpinnya oleh pemimpin sebelumnya, seperti di Saudi dan lainnyan, atauĀ  dalam bahasa mereka sistem imamah. Dan mereka menolak sistem demokrasi, seperti yang di contohkan pada sistem pemilihan Abu Bakar sepeninggal nabi. Namun mereka tetap mengamini cara Abu bakar dalam memilih Umar Bin Khattab sebagai penggantinya.

Selanjutnya yang jadi pertanyaan dalam pikir saya yang sangat dangkal ini, kenapa paham Syi’ah kini sangat marah ketika Saudi mengeksekusi mati seoarang ulama Syi’ah yang menyerukan Demokrasi di Saudi, yang berusaha merusak kestabilan politik negara Saudi dengan retorika-retorikanya yang membahayakan sistem kepemimpinanna yang sah, serta ikut campur dalam urusan rumah tangga negara Saudi. Dan bahkan kenapa bisa-bisanya Ulama Syi’ah itu menyerukan untuk pemilihan umum di Saudi, padahal kaum Syi’ah menolak pemilihan umum Abu Bakar.

Di Iran pun terjadi pemilihan umum untuk presidennya, maskipun harus melalui persetujuan 12 Imam (yang saya bingungkan juga dari mana datangnya 12 Imam itu kalo tidak ditunjuk oleh golongan golongannya, bukan seperti penunjukan Ali yang mereka pahami. Malah lebih seperti sistem penunjukan khalifah Abu Bakar). Maka dari itu, dalam pikir saya, sangat tidak lurus pemahaman wilayah/imamah Syi’ah tersebut, terjadi banyak kontradiksi dan seterusnya. Maka jika muslim seluruhnya merujuk pada sistem khilafah akan lebih jelas bentuk dari konsep kepemimpinan Islam tersebut, dan akan lebih searah dengan Syri’at Rasullullah.