Sang Imam Bertinta Emas

Standar

Imam Al Ghazali berkata:
Yang singkat itu – “waktu”
Yang menipu itu – “dunia”
Yang dekat itu – “kematian”
Yang besar itu – “hawa nafsu”
Yang berat itu – “amanah”
Yang sulit itu – “ikhlas”
Yang mudah itu – “berbuat dosa”
Yang susah itu – “sabar”
Yang lupa itu – “bersyukur”
Yang membakar amal itu – “mengumpat”
Yang ke neraka itu – “lidah”
Yang berharga itu – “iman”
Yang mententeramkan hati itu – “teman sejati”
Yang ditunggu Allah SWT itu -“TAUBAT”

Kritik Islam Terhadap Marxisme

Standar

Hanya mengutip dari bukunya Ali Syari’ati halaman 119 yang berjudul Kritik Islam Terhadap Marxisme dan Sesat-Pikir Barat Lainnya. Dia mengatakan bahwa,

Tidak mengherankan bahwa setelah jatuhnya borjuis dan kemenangan komunisme, dialektika Marx terpaksa berhenti dalam sejarah, dan perjuangan tesis dan anti-tesis mencapai puncak dalam semacam koeksistensi damai! Marx tak berdaya menunjukan kemana , setelah komunisme, nasib manusia akan menuju dalam dunia ini; apa lagi dunia nanti (hari kemudian). Inilah masalah yang tidak dapat dipecahkan baik oleh materialisme lama maupun materialisme dialektika. Karena, seperti yang dikatakan Rene Guenon: “apabila dunia tanpa arti dan tujuan, maka manusia pun tanpa arti dan tujuan,” Marx mengakui bahwa kemanusiaan semacam itu tidak mempunyai nasib “nyata.”

Islam, dipihak lain, berbuat lebih dari sekedar memberi kemanusiaan suatu kedudukan terhormat dalam alam, “Telah Kami muliakan anak cucu Adam.” (QS 17:70). Ini lebih dari sekedar menyangkal bahwa Tuhan menjadikan manusia makhluk yang tak berdaya , kehilangan dirinya, mencari kekuatan dan nilai-nilainya sendiri dalam wujud Tuhan dan menuntut nilai-nilai itu dari-Nya dengan “keluhan dan air mata.” Islam menganggap bahwa Tuhan menyerahkan amanataNya kepada kemanusiaan: “Kami tawarkan amanat pada langit, bumi dan gunung-gunung, dan mereka menolak untuk menanggungnya (memikulnya) karena takut, dan manusialah yang melakukannya. (QS 33:70)” Islam telah menunjukan bahwa manusia diciptkan sebagai wakil Allah dalam alam: “Sesungguhnya hendak Ku tempatkan di bumi seorang Khalifah.” (QS 33:30)

Sunni & Syi’ah Sibuk Menjadi Ya’juj & Ma’juj

Standar

Pernah mendengar Ya’juj Ma’juj? Kedua istilah ini digambarkan oleh Allah dalam surat Al-Anbiya’ ayat 96-97 sebagai sesuatu yang nyata, sesuatu yang benar adanya pada masa akhir kehidupan manusia di dunia. Mereka akan muncul membelalakan mata orang-orang kafir sehingga mengejutkan mereka hingga panik.

Dalam beberapa kisah, kedua makhluk ini merupakan makhluk yang akan merusak alam dunia dengan sikapnya yang serakah, rakus, tamak, dan seterusnya. Sehingga hancurlah bumi ini. Kerusakan tersebut akan berakibat fatal dalam sejarah akhir kehidupan manusia.

Pada era modern kini, tepatnya tahun 2015, saya sebagai muslim menyaksikan sendiri dengan mata kepala bagaimana transformasi kedamaian semakin lama mengarah pada kehancuran total oleh manusianya itu sendiri. Terutama dari dalam kubu Islam itu sendiri, akibat dari dua aliran keagamaan yang memecah kesatuan Islam, yakni Sunni dan Syi’ah. Kedua aliran ini merobek secara membabi buta tubuh Islam yang damai, sejuk, dan indah. Meskipun saya memahami bagaimana kedua aliran keagamaan ini telah ada sejak Rasulullah S.A.W. wafat. Namun, saya baru menyaksikannya kini secara langsung bagaimana kedua aliran keagamaan ini memisahkan kesatuan persatuan yang dibentuk dan diperjuangkan oleh Nabi Muhammad S.A.W dan nabi nabi maupun rasul lainnya untuk seluruh manusia di muka bumi ini.

Kedua aliran keagamaan ini telah bertransformasi bagi pemahaman saya sebagai bentuk yang telah berusaha menjadikan dirinya sendiri sebagai rupa dari ya’juj dan ma’juj. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana di masa kini mereka muncul secara jelas dan nyata, semakin hebat kerusakan yang mereka ciptakan, saling fitnah, saling berperang, dan seterusnya, hingga menyebabkan orang-orang kafir terbelalak ketakutan, bahkan sangat bersemangat untuk ikut campur memusnahkan kedua aliran keagamaan ini.

Maka saya berpendapat, baiknya umat Islam kini harus mengingat kembali dimana mereka meletakan seragamnya yang suci dan indah itu. Seragam Islam, seragam kesatuan pembawa perdamaian dan keamanan bagi seluruh anggotanya, seragam yang satu yang akan mengarahkan pemakainya menuju kedamaian yang abadi.

Hendaklah mereka melepas atribut Sunni dan Syi’ah demi menjauhi sifat-sifat perpecahan yang dimiliki Ya’juj dan Ma’juj. Mari kita malu kepada kafir yang menjadikan kita seolah sebagai boneka yang dapat dimainkan sesuka hati, dilempar kesana kemari, dibuang kesana kemari, kemudian terkejut ketika mereka melihat bonek itu sadar dan hidup, sehingga merusak keaadaan yang telah mereka (kafir) ciptakan. Marilah kita sadar akan musuh abadi kita, yakni syaitan, hawa nafsu, dan kafir yang merusak dan memusuhi Islam. Marilah kita perjuangkan ilmu, iman, dan ketakwaan kepada Allah. Lupakanlah sistem Monarki, Demokrasi, Kapitalisme, Marxisme, Liberalisme, Humanisme, Eksistensialisme, dan seterusnya yang merupakan ciptaan manusia-manusia menakjubkan namun nihil moral, akal sehat, dan seterusnya. Maka kembalilah kepada sistem yang telah Allah ajarkan kepada Rasulnya dan yang telah diteruskan kepada kita umatnya, yakni sistem Syari’at Islam. Melalui sistem itu, maka cara yang paling masuk akal untuk menciptakan perdamaian bagi umat Islam dan seluruh dunia adalah bersatu, ambil kekuasaan tertinggi, kelola masyarakat dan alam secara adil, didiklah mereka, dan ingatkanlah mereka kepada kekuasaan sang raja maha raja atas muka bumi ini.