Ideologi sebagai Oksigen Politik Bangsa

Standar

Dulu, Indonesia hidup, hidup sebagai bangsa yang bergerak dinamis kearah perubahan yang nyata. Indonesia bernafas segar dengan bahan-bahan segar yang menghidupkan, yakni Ideologi.

Kita saksikan bagaimana dahulu bangsa kita harum oleh para ideolog bangsa di kancah internasional. Bapak-bapak bangsa yang bergerak menggunakan pondasi ideologinya yang kental, yang mengarahkan pola pikirnya, yang berjalan dengan senter ideologinya, dan yang berucap dengan toa ideologinya, bertebar di seluruh pelosok negeri luar.

Meskipun kenyataan jelas menjabarkan bahwa ideologi mampu merenggangkan berbagai macam hubungan antar para aktornya dalam satu wilayah yang sama. Namun, ideologi ini menghidupkan secara nyata tumbuh kembangnya wilayah yang di diami para ideolog tersebut. Bagaimana kita lihat trio ganda negarawan bangsa (Soekarno-Hatta, Sutan Sjahrir-Amir Sjarifuddin, dan Tan Malaka-Soedirman) dengan macam-macam ideologi yang mereka anut sendiri secara berbeda-beda, mereka tetap mampu meng-obori arah bangsa dengan semangat ideologinya tersebut. Ideologi itu menjadikan bangsa ini hidup, hidup secara lahir maupun hidup secara batin. Keberagaman Ideologi tersebut menjadi mesin penggerak bangsa, sehingga bangsa ini hidup, hidup sebagai bangsa yang beradab.

Pemuda masa itu yang menyaksikan langsung bagaimana bangsa ini dikelola oleh politikus yang berideologi, terbakar pula semangatnya untuk mengupas kembali pemikiran-pemikiran mereka, atau meng-estafetkan Ideologi yang telah ditelannya, sehingga perjalanan bangsa ini ketika itu hidup, hidup dengan aroma wangi di kancah internasional.

Namun, sekarang Bangsa ini mati, kering, dan tak berbentuk karena hilangnya ideologi. Bapak bangsa atau para politikus pasca kemerdekaan yang tak berideologi, hidup namun mati layaknya mayat hidup yang bergerak sebatas bergerak tuntutan alam, bergerak tanpa arah hanya mencari makan atau persoalan material yang mereka kehendaki. Tidak ada tujuan, tidak ada pondasi yang meng-khaskan politik bangsa. Bangsa ini hening, pemuda linglung, masyarakat luntang-lantung.

Organisasi yang ada kini hanya sebagai organisasi massa, organisasi pencari dan penjilat kekuasaan. Tidak punya arah, tidak punya pencerah. Hanya kumpulan anak ayam yang mengikuti induk ayam untuk dibesarkan menjadi ayam potong bagi para peternak.

Iklan