KKN KATULISTIWA

Standar

Kesan dan Pesan

Pengalaman KKN di tahun 2015 ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Dimulai dari pengalaman bagaimana diajar oleh lingkungan secara umum, hingga mengajar untuk lingkungan itu sendiri. Tidak ada ilmu sosial yang paling berharga dan bermakna tanpa melalui usaha terjun kelingkungan masyarakat itu sendiri secara langsung, dan program KKN ini mewadahi hal tersebut.

Selanjutnya, syukur tiada tara dari saya kepada Allah S.W.T karena saya dimasukkan dalam kelompok KKN KATULISTIWA, serta ucapan terimakasih kepada PPM yang memberikan ruang untuk membentuk kelompok KKN sendiri, sehingga kita dapat membangun secara kuat tim/kelompok KKN yang padu. Kelompok KKN KATULISTIWA merupakan kelompok yang paling terikat batinnya antar anggotanya sepengalaman saya. Hal itu saya rasakan dari bagaimana cepatnya kita menjadi sebuah keluarga yang sangat harmonis hanya dalam hitungan bulan membangun komunikasi, dan kami sebagian besar baru kenal satu dengan lainnya hanya dalam kelompok KKN ini. Ikatan batin yang selama 6 tahun saya bangun dan rasakan dalam pesantren dulu bersama teman-teman se-asrama, saya rasakan pula dalam kelompok kecil KKN ini yang hanya terbangun dalam jangka waktu singkat. Maka dari itu, kami seluruhnya menjadikan Kelompok KKN KATULISTIWA ini sebagai keluarga kecil kami yang sangat besar nilainya.

Sebelum masuk kedalam kesan selama perjalanan KKN, saya terlebih dahulu ingin menyampaikan keritik saya terhadap penyelenggara program KKN ini. Disebabkan ada satu hal yang secara umum dirasakan oleh kelompok KKN lainnya menjadi batu sandungan mereka dalam mengabdi kepada masyarakat akibat kekeliruan penyelenggara dalam menyelenggarakan program KKN ini.

Persoalan tersebut adalah persoalan finansial/pendanaan kampus untuk program KKN. Menurut saya, berdasarkan pada sharing teman-teman dari kelompok lain. Hambatan besar mereka dalam merealisasikan usaha-usaha pengabdiannya terhadapa masyarakat desa adalah tidak jelasnya pendanaan bantuan yang diberikan pihak kampus terhadap tiap-tiap kelompok KKN. Tidak jelas disini saya maksutkan adalah pada persoalan hak yang memperoleh dana bantuan kampus tersebut, karna haknya diberikan kepada dosen pembimbing yang secara nyata tidak berkontribusi besar terhadap usaha pembangunan dan pengabdian pada masyarakat desa. Padahal jelas dan nyata, sesungguhnya yang berkontribusi dalam membangun dan mengabdi kepada desa adalah masing-masing kelompok KKN yang ada, dan bahkan mengharumkan nama UIN di desa yang menjadi objek masing-masing.

Namun, secara terang-terangan disini saya sampaikan bahwa kelompok KKN KATULISTIWA sangat bersyukur memiliki dosen pembimbing ibu Dewi Sukarti, disebabkan ibu Dewi sangat menyadari urgensi dari dana bantuan tersebut untuk usaha kami menerapkan rancangan kerja kami, sehingga Ibu Dewi membantu dan membimbing kami dalam mengolah dana bantuan kampus tersebut secara jelas dan utuh, dan karenanya program kami terlaksana dengan baik. Lain halnya dengan informasi dari kelompok KKN lainnya yang menyatakan sangat sulit memperoleh pendanaan bantuan tersebut, disebabkan beberapa dosen pembimbing yang mereka dapat menyatakan bahwa pendanaan tersebut adalah hak penelitian dosen yang bersangkutan. Sehingga hal itu menjadi salah satu batu sandungan dalam program KKN mereka.

Benar apabila baiknya kami memperoleh dana bantuan dengan mengajukan proposal ke perusahaan-perusahaan besar. Namun disini saya tegaskan bahwa, kami membawa almamater UIN Jakarta dalam program kemasyarakatan ini, termasuk PPM sebagai induk dari acara KKN kepada masyarakat desa. Nama kampus kami yang tercinta berkibar hangat dimata masyarakat desa dengan pembawaan kami masing masing anggota kelompok KKN. Maka tidaklah etis apabila kami tidak bisa bergantung secara jelas terhadap pendanaan kampus. Jika ketakutan bahwa dana ini disalah gunakan nantinya terhadap program KKN kami, apa bedanya jika penyaluran dana tersebut disalurkan kepada dosen pembimibing, yang nota-benenya sama-sama belum jelas awal usahanya dalam melakukan pengabdian kepada desa. Maka dari itu saya harapakan dengan sungguh-sungguh, program pengabdian kedesa ini dapat dikelola dengan baik oleh penyelenggara, sehingga memudahkan kami sebagai mahasiswa dalam mengabdi dan membangun masyarakat dibawah almamater dan naungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kemudian, kesan saya menjalankan program KKN ini sangat luar biasa, karena nilai-nilai yang saya dapat, baik material maupun non-material, sangat-sangat tidak terhitung dan tidak terhingga sama sekali banyaknya.

Hal itu bermula sejak kami secara resmi dilepas oleh pihak kampus untuk mengabdi kepada desa tujuan kami, tepatnya di desa Sukaharja. Pihak kampus memberikan pesan yang sangat kuat menurut saya kepada kami seluruhnya bahwa, program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan usaha kampus untuk menjadikan mahasiswa UIN Jakarta menjadi intelek yang bermasyarakat, dalam artian memahami betul kondisi masyarakat bangsa sendiri, serta keluhan-keluhan dan problematika masyarakat yang harus mampu diperbaiki atau dicarikan solusinya secara nyata, langsung, dan cepat. Sehingga, diharapkan bekal terjun kemasyarakat ini dapat terus membekas hingga nanti dapat menjadi intelek yang beradab dan kuat cintanya terhadap rakyat bangsa Indonesia. Berbekal dengan pesan yang kuat tersebut, kami berangkat dengan semangat juang untuk tulus mengabdi kepada masyarakat.

Perjalanan kami menuju kesana alhamdulillah sangat lancar dan aman, disebabkan kami sudah 3 kali survei desa, sehingga kami memahami betul perjalanan kami menuju lokasi.  Disamping itu, 3 kali survei tersebut sangat membantu kami dalam menjalin relasi awal yang kuat dengan seluruh perangkat desa, baik yang kelembagaan, maupun kemasyarakatan pada umumnya. Kami sangat beruntung memiliki divisi Humas yang sangat kompeten dalam bidangnya, yakni saudara saya yang tercinta Haris Mauludin dari FIDKOM, dan Yunisa Azzahra dari FST. Mereka berdua menjadi lidah kami dalam membuka interaksi yang hangat dengan seluruh perangkat desa, yang kebetulan pula mereka berdua sangat baik dalam berbicara dalam bahasa sunda, sehingga memudahkan kami dalam berkomunikasi.

Kemudian sesampainya disana, kami langsung merapikan lingkungan tempat tinggal kami, yakni dirumah pak Haji Dani, seorang tokoh terkemuka masyarakat desa Sukaharja. Di Desa itu kami juga sangat terbantu oleh peran keluarga beliau, terutama anak beliau, yakni aa Yogi Ginanjar, yang menjadi ketua karang taruna desa tersebut, dan menjadi tokoh pemuda yang sangat baik. Keluarga besar beliau-beliau sangat hangat menyambut kami, dan sangat besar perannya dalam membantu kinerja KKN kami.

Selesainya merapikan pekarangan rumah, kami melakukan kunjunan kembali kerumah RT dan RW sekitar tempat tinggal kami. Demi tujuan meminta izin dan konfirmasi kembali mengenai sudah sahnya keberadaan kami di desa tersebut selama sebulan penuh dari pihak kampus. Kehangatan dan rasa penghargaan yang besar terhadap tamu sangat-sangat kuat diberikan masyarakat kepada kami, meskipun kami telah berkunjung 3 kali kepada desa tersebut, namun kehangatan sambutan yang diberikan tidak berkurang dari mereka. Pelajaran itupun yang mejadi kesan awal saya terhadap masyarakat desa, toleransi, menghargai setiap orang, sopan dan santun masing kental pekat melekat di adab masyarakat desa. Bangsa ini masih sangat beruntung dengan adanya orang-orang desa ini, karena rasa dari hal-hal ini tidak saya peroleh lagi dikota-kota besar yang telah saya kunjungi.

Singkat cerita, setelah melakukan pembukaan secara resmi di kantor desa Sukahrja, tepatnya tanggal 3 Agustus 2015, bersama dengan kepala Desa Santoso, yang sangat kami cintai dan hormati, kami mulai melaksanakan program kerja kami di desa ini selama sebulan. Saya sangat bersyukur dengan adanya saudara-saudari saya yang sangat kompeten dan kreatif dalam divisi Acara, yakni Joni Rolis dari FEB, Vita Ditya dari FSH, dan Annisaa Fachriyah dari FISIP. Mereka secara cermat dan kreatif menyusunkan proker kami berdasarkan pada kebutuhan-kebutuhan desa yang telah kami observasi selama 3 kali survei. Pada awalnya kami memiliki 8 program kerja, yakni: Pembangunan jembatan di RW 01 (Gang Ace), peremajaan musholla, mengajar di Sekolah, Rumah Pintar, penyuluhan sikat gigi, dan cuci tangan, senam pagi, penyluhan narkoba, penyuluha kreasi sampah, serta santunan anak yatim dan dhuafa. Namun, seiring berjalannya waktu ada beberapa proker yang kami kembangkan dan ada proker yang kami alihkan karena tidak lagi dirasa penting untuk dilaksanakan. Contohnya adalah seperti proker kami membangun jembatan yang nantinya kami alihkan pada pembangunan jalan. Dialihkannya pembangunan jembatan tersebut dikarenakan tidak adanya kerjasama yang baik dari ketua RT & RW di gang Ace dengan kami, karena mereka tidak melakukan kejelasan dalam menuliskan rancangan dana pembangunan jembatan, ketidak jelasan disini saya maksutkan adalah adanya peningkatan jumlah dana dari awal kami berbincang saat survei dengan ketika kami membuka pembicaraan kembali mengani masalah pembangunan jembatan tersebut ketika sudah menetap di desa. Disini saya sangat bangga dengan ketua KKN kami yakni saudara Shafwan Aziz dari FEB dan bendahara kami Inaya Ats’aqafiyah dari FEB, mereka dengan sangat cermat melakukan audit keuangan setiap program pembangunan yang kami rencanakan sehingga alokasi dana yang kami kucurkan jelas dan tepat.

Selain itu peremajaan musholla, dan penyuluhan sikat gigi kami alihkan ke program lain karena kami menemukan ketidak efektifan dalam program tersebut setelah kami obeservasi mendalam di desa dan melakukan rapat evaluasi setiap malamnya.

Pada akhirnya, selama berproses di desa tersebut kami total memiliki 17 program kerja termasuk pembukaan dan penutupan KKN, yaitu: Rumah Pintar, Mengajar di Sekolah Dasar, Melatih siswa SD menjadi Reporter Cilik, Mengajak siswa SD Wisata Sejarah yang ada di Desa Sukaharja, Nonton bareng film perjuangan, Senam/Olahraga pagi, Peremajaan Perpustakaan SD Sukaharja 01, Perbaikan jalan di RT 006/RW 002, dan di RT 004/RW 007, Renovasi MCK di Tapos, Penyambutan Bupati Bogor dalam acara Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat, Penyelenggara dan Panitia 17 Agustus di kantor desa Sukaharja, Santunan anak Yatim dan Lansia, Penyuluhan Narkoba, Penyuluhan Kreasi Sampah, dan Penyuluhan Pernikahan Dini.

Pengalaman yang sangat berkesan bagi saya sebagai anggota dari divisi Pubdekdok bersama dengan dua saudara saya, yakni Zaky N. U. Mawardy, dari FISIP dan Mohammad Miqdad dari FIDKOM adalah Penyuluhan Narkoba, Penyuluhan Kreasi Sampah, Penyuluhan Pernikahan Dini, Penyambutan Bupati Bogor dalam acara Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat, Penyelenggara dan Panitia 17 Agustus di kantor desa Sukaharja, Nonton bareng film perjuangan, Rumah Pintar, dan Reporter Cilik, karena di acara-acara tersebut peran kami sangat signifikan dimana menjadi penanggung jawab secara utuh dalam menyelenggarakan acara-acara besar desa tersebut. Alhamdulillah kami semua suksek dalam melaksanakan kegiatan kami terutama acara-acara besar desa, sehingga relasi kami dengan kepala desa Bapak Santoso sangat erat dan kuat.

Untuk proker pribadi saya, yakni “memperkenalkan dan memberikan pemahaman mengenai informasi mancanegara, melalui media visual, tulis, elektronik dan sebagainya, dengan tujuan memberikan wawasan yang lebih luas kepada masyarakat desa, dan menguatkan rasa nasionalisme pada akhirnya”, membuat saya terkesan dengan bagaimana kuatnya antusiasme masyarakat terhadap informasi-informasi tersebut. Proker ini saya sajikan bersamaan dengan menyelenggarakan nonton bareng film perjuangan, film kartun barat yang memiliki nilai implisit mengenai nasionalisme, pendidikan, dan sebagainya, serta melakukan story telling mengenai kisah nabi dan sahabat rasul di Rumah Pintar.

Selama kehidupan kami sehari-hari, meskipun kami memiliki jadwal piket untuk melaksanakan tugas sehari-hari seperti masak, rapi-rapi rumah, belanja kepasar, dan sebagainya, saya sangat berterimakasih dengan adanya seksi konsumsi yang sangat baik dalam mengatur dan mengelola kebutuhan dapur, diantaranya yakni Siti Nurasiyah dari FSH,  Anita Rachmawati dari FST, Nurul Ulya dari FAH. Sehingga keuangan kami untuk kebutuhan pangan sangat baik dan tidak kekurangan sama sekali. Selain itu untuk kedua sekretaris kami yakni Windy Septiana Dewi dari FST dan Givela Nur Khaleda dari FSH, saya sangat bersyukur dengan adanya mereka, sehingga dalam persoalan keadministrasian kami sangat lancar memperoleh yang kami mau, khususnya dalam persoalan surat menyurat dan sebagainya.

Secara garis besar seluruh cerita yang ada dalam KKN di desa Sukaharja ini sangat tidak mampu saya tuangkan secara indah dalam laporan ini, disebabkan keindahan yang saya rasakan selama KKN ini bersemayam jelas di dalam alam fikiran saya, sehingga dengan keterbatasan yang ada dalam bentuk tulisan ini, kisah 30 hari mengabdi kepada masyarakat tidak mampu saya paparkan secara merinci dalam tulisan ini, setiap kegiatan yang begitu berarti yang kami miliki sangat indah dalam kenangan saya. Terutama mengenai bagaimana perpisahan kami dengan masyarakat desa yang begitu sendu. Adik-adik kami siswa siswi Rumah Pintar dan SD Sukaharja 01 selama tiga hari berturut turut menangis di rumah kami, begitu juga beberapa warga yang dekat dengan kami, mereka semua menangisi kepergian kami, terutama  Kepala Desa kami bapak Santoso yang ketika penutupan menitihkan air matanya melepas kami secara resmi. Oleh-oleh yang berdus-dus diberikan oleh warga kepada kami tidak sepadan dengan yang kami berikan, hanya sedikit yang kami bisa berbuat kepada desa Sukaharja, namun, begitu besar pemberian yang mereka berikan kepada kami sekeluarga, sekeluarga KKN KATULISTIWA.

Pesan saya untuk seluruh akademisi dan penyelenggara pengabdian kepada masyarakat. Pertahankan keberadaaan KKN ini, perbaiki kekurangan kekurangan yang ada dalam penyelenggaraannya, terutama dalam persoalan finansial, dan acara KKN yang tidak berkelanjutan di desa yang menjadi tempat kami berbakti, sehingga tali komunikasi yang kami usahakan sedikit sulit jika tidak diwadahi secara formal.

Pada akhirnya, kesan dan pesan dalam laporan ini tidak akan pernah mampu mengikat seluruh cerita yang saya dan saudara-saudari KATULISTIWA alami selama KKN. Kami KKN KATULISTIWA akan melanjutkan terus perjuangan membangun dan membentuk masyarakat desa demi memajukan setiap individu masyarakat desa.

Gelap yang Menolak Cahaya

Standar

Hitam hati ini menolak sinar cinta sang pemiliki cahaya

Buta mata ini menatap mati kebenaran petunjuk cahaya

Keras jidat ini seolah enggan sujud kepada sajadah cahaya

Tuli Kuping ini mendengar lantunan kata-kata bercahaya

Hidung tak mampu memahami aroma suci pemilik cahaya

Lidah keras membatu melantunkan ayat-ayat cahaya

Kaku indra, kaku gerak, dan kaku rasa

Hilang gairah, Mati membusuk,

Shalat ku lepas… Shalat ku lepas…