Mencintai Cinta Sang Pemilik Cinta

Standar

Aku menatap keatas, maka terlihat oleh ku seorang raja dengan gagahnya berdiri tegak diatas suatu istana. Bergetar tak tertahan raga ini membayangkan masa muda sang raja yang kokoh dan gagah bagaikan tegak berdirinya kini. Maka kutelusuk sejarahnya, benar nian, tahta harta dari bapaknya mengokohkan pondasi kaki dan tulang belulang raja tersebut untuk menjadikannya seperti saat ini. Sehingga paham akal ini bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Maka jadilah aku pendesak orang tuaku, agar supaya kaya harta keturunan ku.

Maju beberapa langkah, kembali ku tengadahkan kepala ini keatas, maka kulihat kembali seorang raja dengan gagahnya berdiri tegak diatas suatu istana. Kali ini bergetar akal fikiran menanyakan pembenaran cara pandang ku yang pertama. Maka kutelusuk sejarahnya, benar nian, bertolak belakang jalan cerita raja ini. Beliau menumpahkan banyak darah dan keringat untuk mengokohkan pondasi kaki dan tulang belulangnya demi menggapai tahta raja yang dia tapaki kini. Sehingga pahamlah akal ku bahwa perjuangan akan menghasilkan penggapaian yang diperjuangkan. maka berjuanglah aku menggapainya.

Maju kembali ku beberapa langkah, lalu aku merunduk kebawah. Kulihat seorang gelandangan kumuh dan berbau tak sedap menggali gali tumpukan sampah demi mencari sesuatu yang dapat mengganjal rasa lapar perutnya. Bergetar hati ini melihat begitu malangnya nasib orang ini, maka kutelusuk sejarahnya. Aneh nian, gelandangan ini memiliki sejarah yang menakjubkan dengan harta benda yang membanjirinya dimasa mudanya yang diperoleh dari orang tuanya. Maka tersimpul oleh akal ku bahwa masa mudanya tak ada perjuangan untuk mempertahankan kekayaannya. Sehingga akupun berkesimpulan untuk tetap berjuang.

Lalu ku maju lagi beberapa langkah, ku tundukan kepala ku kebawah, dan kulihat seorang gelandangan kumuh sedang menggali-gali tumpukan sampah untuk dimakannya demi mengganjal rasa laparnya. Kali ini bergetar akal fikiran menanyakan pembenaran cara pandang ku yang pertama. Aneh nian, gelandangan tersebut berjuang tiada henti pada masa mudanya untuk merubah nasib agar menjadi lebih baik bahkan agar menjadi seorang raja, hebat betul perjuangannya, otaknya pun cerdas. Maka tersimpul oleh akal ku bahwa, gelandangan ini tidak memiliki dana untuk meneruskan perjuangannya tersebut. Sehingga akupun berkesimpulan bahwa aku harus menekan orang tuaku agar menjadi kaya terlebih dahulu dan bertahta sebelum aku harus menanggung semuanya.

lalu akhirnya aku berenti sejenak untuk menerapkan segala kesimpulan ku, sial nian, tak ada yang berjalan sesuai dugaan ku satu pun. Aku berjuang setengah mati, jalan ku tetap saja berbatu, dan kutatap kesamping, taman ku berjalan lunglai dan nyaman dari dana orang tuanya menuju masa depannya dengan gemilang. maka akupun mencoba jalan lunglai dan nyaman dari dana orang tuaku, namun hancur pula masa depanku, gelandangan pula aku jadinya. Sehingga aku pun berjuang dengan dana dan tenaga, ku kombinasikan keduanya, aneh betul, tetap saja ku terperosok, tapi ku tatap teman disebelah ku yang sama usahanya, sukses pula dia.

Pada akhirnya aku menatap keatas kebawah tiada henti dan begitu cepat. maka kutemui jalan lurus bercahaya didepan ku, bahwa bukan karna tahta, harta, dan usaha yang membentangkan masa depan ku yang gemilang sesuai harapan ku, ada kekuatan eksternal yang maha besar dan maha agung yang menggerakan masa depan, dia sang pemilik masa depan, masa sekarang, dan masa lalu. aku menyadarinya bahwa ada kekuatan eksternal yang menggerakan alam semesta ini. Maka aku tersadarkan, mengapa tidak kukerahkan saja seluruh kemampuan harta usaha ku untuk meminta perhatian sang pemilik alam semesta ini? sekalipun aku gagal akupun mengemis bukan kepada sesuatu yang ada dalam alam ku ini, aku mengemis dan menjalani hidup sepenuhnya kepada sesuatu yang melampaui alam ku ini, sesuatu yang diluar alam ku ini, sesuatu yang memiliki alam ku ini. maka ketika matipun aku, aku berharap berada didekapannya.

lain halnya bila ku sukses menyita perhatiannya, dan aku beruntung mendapat perhatiannya di alam ini, aku pun menjadi raja layaknya raja raja tadi. namun ku rasa aku tidak akan menghina orang-orang dibawah ku, karna aku tahu bahwa ada yang mengizinkan aku untuk mencapai posisi ku ini.

Maka akupun hanyut mencintai sang pemilik segala sesuatu ini, nafsu geloro ini tersalurkan seluruhnya untuk mengemis dan mengharap cinta dan belas kasihan sang pemiliki semua ini. Maka tak terasa dan tak mencemaskan ku segala yang ada dialam ku ini, alam material yang rendahan ini. aku sibuk mencintai sang pemiliki cinta dan Allah lah sang pemilik cinta tersebut.

Iklan