Pendahuluan “Tangan dan Segumpal Benang”

Standar

Cerita ini tercipta bukan dipondasikan pada usaha untuk mendoktrinkan ide-ide utopis yang mengkonstruksikan pola hayal yang menjatuhkan, bukan, sama sekali bukan | Cerita ini diusahakan semaksimal mungkin untuk mengkonstruksikan pemahaman sang pemuda, sang pemula sejarah, sang pengawal hidup, dan sang penyusun pola pikir, tentang ide-ide sebagai salah satu realitas yang nyata, dan bahkan paling nyata, dalam tingkatannya.

Iklan

Dialektis Materialistis

Standar

Seperti ungkapan para pemaham Dialektis Materialistis, tesis lahir maka anti-tesis akan muncul mengikutinya dan saling berbenturan sehingga menghasilkan sintesis baru. Hal itu merupakan bentuk penjewantahan dari teori yang lebih spesifik mengenai keabsolutan hasil dari proses, dimana ada aksi disana ada reaksi. Oleh karenanya, hadapi aja om. #gakjelas

Faktor Luck (Keputusan/Keridhoan Allah) Only

Standar

Nih yah buat kawan-kawan yang disana saya cuma bisa membantu mengatakan, saya tidak mempercayai kalo orang BERJUANG akan mendapatkan sesuatu yang dia inginkan, tidak akan pernah. Mau soal cinta, kerja, jabatan, dan sebagainya, tidak bisa digapai dengan perjuangan. Hanya bisa tercapai kalo lu itu BERUNTUNG. Mengapa?

Karena kehidupan materiil ini (kehidupan dunia) dalam hukum naturalnya (hukum alami yang universal) secara keseluruhan merupakan hasil dari interaksi-interaksi setiap individu dengan individu lainnya. Individu-individu lain memiliki cara pandang sendiri, perilaku sendiri, dan penilaian sendiri, dan parahnya setiap orang tidak akan pernah Objektif dalam menilai, itu pasti, karena nilai, ideologi, atau believe system mempengaruhi proses penilaian tadi, proses ketika dia memandang, memahami, menanggapi, dan sejenisnya, sekeras apapun dia mengatakan bahwa dia menilai secara objektif, maka ketika itu hatinya menolak, dan itu membuat nilai-nilai MORAL dia tekan dan lenyapkan, untuk mencapai penilaian objektif tadi. Oleh karenanya, sekeras apapun lu berjuang untuk hal-hal yang berbau MATERI, secara keseluruhan lu akan kecewa dan mati lemes, karena lu berjuang dan menggantungkan harapan lu ke materi itu. Kalo mau bukti empiris coba amati orang-orang atau temen-temen lu yang berjuang dengan jalur tadi di bidang cinta, jabatan, kerja, dan sebagainya tadi. ketika memperoleh hasilnya (hasil negatif) mereka kecawa, mati lemes, malah yang mendapatkannya (hasil positif) gak puas, gak betah, dan kecewa juga, karena perlakuan yang didapat biasanya sangat AMORAL.

Maka saya cuma mau mengingatkan, bahwa cuma faktor LUCK saja yang bisa menyelamatkan mimpi dan cita-cita lu, harapan, keinginan, dan sebagainya. Mengapa?

Faktor luck merupakan ungkapan yang dipahami secara keseluruhan oleh masyarakat sebagai faktor eksternal/faktor non-materiil yang tidak dapat diterima akal logika, karena sifatnya yang halus, lembut, spiritualistis, tiba-tiba, transendental dan sebagainya. Semuanya bermain di level “ketuhanan”, mistis dan tak berwujud. Faktor ini saya yakini sebagai faktor tunggal yang dapat menentukan setiap wujud mimpi, harapan, dan sebagainya itu, karena saya merasakan sendiri, dan memahami dari kawan-kawan semuanya, bahwa sekeras apa pun berjuan hasil tak mungkin sama dengan ekspektasi, semuanya terbatas oleh faktor penilai yang pasti yakni keberuntungan. Tengok saja temen lu yang udah berjuang sungguh-sungguh cari kerja, hasil nya nihil, trus pas dia pasrah dan tiba-tiba ada faktor luck yang nunjukin dia, kalo dia harus bisnis/usaha dagang, tiba-tiba dia ngelakuin itu, dan berjuang dengan faktor luck itu dan faktor luck terus ngikutin dia sampe akhirnya dia beruntung, gitu juga temen gue yang ngejar cintanya, pas dia pengen dapetin cewe, dia berjuang mati-matian, malahan udah 6 tahun dia berjuang, tapi hasilnya? dia pernah diterima juga akhirnya, karena cewenya nilai dia udah berjuang, tapi nyatanya mereka pacaran gak nyaman, karena yang satu gak pake hati/nilai-nilai moral ngelakuinnya, dan akhirnya putus. Tapi temennya yang satu cuma babibu aja dapetin cewe itu cuma sehari dua hari, padahal sama-sama ganteng dua duanya.

Maka dari itu, faktor luck yang saya anggap dengan faktor ketuhanan, merupakan hal yang dapat menentukan segala usaha kita. Jika kita mau menggapai semua yang kita mau, maka berjalanlah dijalan kebruntungan itu, berjalan lah dibawah perintah/bimbingang yang memiliki faktor keberuntungan itu (ALLAH), berjalanlah, berusahalah, dan gantungkan lah cita-cita dan harapan lu untuk menggapai keberuntngan itu. Tunjukin ke yang memiliki faktor luck itu kalo lu PANTES buat dapetin semua yang lu harapin, izinkan diri lu untuk dinilai baik sama Allah, izinkan diri lu pantas mendapatkan penilaian Allah, semua nya milik Allah, dan hanya kepadanyalah semuanya kembali. Berjuang keraslah buat Allah, berjuang keraslah buat ajaran Allah, berjuang keraslah untuk semua bentuk materiil ini dengan harapan ketuhanan.

Kalo lu gagal berarti lu belom pantes buat dapet semuanya itu, maka pantesin diri lu, kalo lu gagal juga berarti hal itu belom baik buat lu, lakuin aja semua yang berbau positif, hal-hal yang udah di ajarin Allah melalui Rasulnya, gantungin harapan lu sama ALLAH only.

SAZIRA

Standar

Merona, mengalir lembut, menjamah kesegala sudut. Sazira senyum dengan hangat dan tulus. Mata bulatnya menghilang ditimpali lipatan-lipatan kelopak mata yang berbenturan, membentuk garis lurus indah dan rapi. Mengembang pipinya terdorong bibir tipis yang melebar lepas dengan batasannya. Enggan menilainya. Usaha menilai rautan wajah tersebut merupakan kekeliruan paling mendasar yang merusak kemurnian dari esensi dari senyum itu. Hanya mampu mati terpaku, pasrah menikmati.

Iran, Keseimbangan antara Intelektual dan Ulama

Standar

Jika ingin menatap dan berkaca terhadap keseimbangan antara kesucian pola-pikir dengan hati, setidaknya intiplah Ulama dan Intelek Iran sebagai penyadar dan pengingat bahwa ajaran ISLAM harus bangkit dalam sistem internasional, sistem negara bangsa, dan sistem intelektual (science, sosial, dan seni). Mereka Syahid membela negara dan agamanya. Mereka rela terjun langsung kelapangan dengan Otak, Hati, dan Tenaga mereka. Mereka Intelektual lapangan, dekat dengan yang membutuhkan, jauh dari kenyamanan ruangan ber-AC, Jabatan, dan harta.

Ayatullah

dari kiri-kekanan:

Ayatullah Baqir Shadr (Ahli Filasafat dan Ekonomi), Ayatullah Khomaeni (Faqih yang mengenal baik filsafat yunani & barat), Sayed Mujtaba Lari (Ulama & Kritikus Peradaban Barat), Ayatullah Muntazeri (Teolog & Ahli sosiologi dan politik internasional), Ayatullah Taleqani (Ulama & Ahli ekonomi), Murthada Muthahari (Ulama & Sosiolog), Sayed Thabataba’i (Mufasir yang Ahli Matematika, filsafat, dan tasawuf), dan Ayatullah Ali Khamaeni (ulama & Intelek), Ali Syariati (ahli sejarah & doktor Sosiolog), Mustafa Chamran (ahli Nuklir)

KASHVA

Kutipan

Katamu, “cinta berarti membiarkan seseorang yang engkau cintai terbang menemui kebahagiaanya, bukan mengikatnya dalam kepicikanmu memaknai cinta.” Kashva menanggapi, “rasa ini tak diciptakan untuk menalimu, tentu.  Namun, apakah itu penyembuh penderitaan telingaku, mengharap rengekanmu sekali waktu? Kehendakku tak mau meringkusmu, tentu. Namun, bagaimanakah agar waktu masih membelah sepenggal dirinya untuk caci makimu, buatku?”