Mata ma tamat a

Standar

Teropong dunia, Teropong segala bentuk realitas material. Teropong tanpa batas untuk menatap segala hal yang terbatas. Teropong paling jernih untuk melihat yang sifatnya tak jernih. Teropong penjelas segala sesuatu yang sifatnya dijelaskan.

Terbuka, segala tabir terbentang. Terbuka, fakta-realita-tipu daya-kepalsuan berbaur bersatu menjadi kejelasan. Terbuka, ide-spiritual-mimpi-angan-dan harapan terabaikan, terbenamkan, dan hilang ditakpedulikan.

Segala rendahan, teragungkan dengan mata. Segala terhina, tersembah dengan mata. Terlalu rapuh, terlalu lemah. Miskin realita hakiki, kaya realita semu. penyaji singkat, penyaji sesaat. Penamat, segalanya tamat sekejap diawal tatap, segalanya tamat dengan awal singkat, segalanya tamat dengan sesaat.

Mata mu, tamat mu.

Agamawan, Negarawan, Cendikiawan Pembusuk Negeri Saya

Standar

13368706651971331695leader_165365Helpful

Semakin banyak berfikir, semakin banyak merenung.

Semakin banyak berbicara, semakin lemah berfikir.

semakin banyak bercuap berdebat, semakin buta hati semakin mantap ego.

Dinegeri ku, orang yang ditinggikan oleh jabatan, ilmu, dan sebagainya, jatuh tersungkur terhembus angin karena lupa akhlak, lupa tuhan, lupa langit, lupa moral, dan parahnya, kejatuhannya tersebut menimpa pewarisnya, menularkannya, dan ikut membusukannya.

maka terjadi ke estafetan membusuknya akhlak,

yang pintar bercuap dan berdebat, bangga akan hal tersebut, cuap-cuap kiri kanan komentar kiri kanan, akhirnya matinya tertelan ludah cuapnya yang berkumpul dimulutnya karena terlalu banyaknya bercuap.

yang pintar menggurui, bangga akan kepintarannya menggurui, sampai lupa untuk turun kebawah, mengaplikaskan, dan mencontohkan. menggurui sebatas menyenteri, tanpa mau menemani dijalan jurang gelap. akhirnya yang digurui mati terperosok jatuh kejurang, dengan kebutaannya, dengan kesendiriannya.

yang mengaku paling dekat dengan tuhan, bangga dengan perasaan kedekatannya, bangga untuk mengomentari kdekatan orang lain dengan tuhannya, tuhannya dirasa sahabatnya sendiri, sehingga CARA ORANG UNTUK MENDEKATI TUHANNYA, dianggap KAFIR, BID’AH, dan KELUAR JALUR. Akhirnya orang tersebut dia dimatikan atas nama agamanya atas nama tuhannya.

yang paling parah adalah orang-orang pintar tersebut, mereka membusukan negeri saya, dengan kebusukan mereka, mereka mewariskan kebusukannya, kepada pewarisnya. Negeri saya kini, dibusukan oleh segala aspek, dibusukan oleh agamawan, dibusukan oleh negarawan, dan dibusukan oleh cendikiawan.

Dulu dinegeri saya, Nabi Muhammad mengajarkan, orang dihukum karena tindakan kesalahan sosialnya. Agamawan, negarawan, dan cendikiawan sepakat menghukum atas nama penegakan keadilan sosial, kedamaian, dan ketentraman bermasyarakat.

Tapi sekarang, di negeri saya, orang dihukum karena tindakan agamanya bukan lagi tindakan sosial. Agamawan, negarawan, dan cendikiawan sepakat untuk menjadi tuhan, sehingga matilah kami ditangan tuhan-tuhan dunia.

Masa Uji Masyarakat

Standar

abul-ala-al-maududi-2

Mengutip dari kalimat Abul A’la al-Maududi dalam bukunya Worship in Islam, tentang makna puasa di bulan Ramadhan dalam masyarakat Muslim.

“Bila seseorang dalam keadaan koma, dan akan di uji apakah masih ada kehidupan dalam dirinya atau apakah dia benar-benar telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, maka didepan lubang hidungnya diletakan cermin. jika cermin tersebut menjadi kabur sekalipun sangat samar, kita tahu bahwa orang tersebut belum meninggal dunia. Jika tidak, kita tahu, bahwa nafas kehidupannya telah tiada dan dia bukan apa-apa lagi;

Jika siapa saja yang ingin melakukan suatu ujian yang sama terhadap suatu masyarakat Islam untuk melihat apakah masyarakat itu masih hidup ataukah masih mempunyai tanda-tanda kehidupan, dia harus melihatnya pada bulan Ramadhan. Jika dia melihat banyaknya bukti dari taqwa, dari rasa takut dan Tuhan, dan dari dorongan untuk berbuat baik, maka dia boleh dengan aman menyimpulkan bahwa masyarakat tersebut masih mempunyai kehidupan. Akan tetapi, jika dilain pihak dia melihat bahwa kebaikan telah berada didasar surut, dosa serta kejahatan sangat meluas, dan semangat islam banyak yang mati, maka dia dapat mengatakan Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un, karena jelas masyarakat tersebut hampir mati sebagai suatu kesatuan islam.”

Dalam perumpamaan tersebut, Abul A’la berusaha menggambarkan urgensi dari ibadah puasa Ramadhan terhadap komunitas Muslim seluruhnya. Disana ia menggambarkan bahwa, salah satu ruh Islam kedua setelah shalat yakni puasa, tidak hanya dapat ditafsirkan dampaknya sebatas terhadap per-individu saja, namun secara kolektif memiliki pengaruh yang lebih kuat dan besar terhadap masyarakat muslim itu sendiri. Puasa menjadi salah satu pembuktian dari kekuatan dan kekokohan masyarakat muslim, serta menjadi landasan penting untuk menciptakan masyarakat muslim yang Islam secara murni.