Ali Syari’ati

Standar

008_2

Ingatkah engaku ketika seorang cendikiawan muslim Iran yang memperjuangkan secara keseluruhan aspek kehidupan masyarakatnya sendiri, bahkan juga masyarakat dunia ke-3 (negara-negara berkembang). Seseorang itu yang lahir dalam keadaan jihad dan mati pula dalam keadaan jihad. Beliau yang bernama Dr. Ali Syariati.

Ya, beliau sebagai seorang cendikiawan memiliki kesadaran mendalam tentang pentingnya perjuangan menegakan kebenaran dan kebenaran itu merupakan kebenaran yang dilandasi pada sesuatu yang ia sebut sebagai ideologi, serta ideologi tersebut yang berakar kepada sesuatu yang sangat suci, yakni agama. Oleh karena hal itulah ia sebagi seorang cendikiawan rela berkorban jiwa dan raga, hidup dan mati, demi membangkitkan kembali sesuatu yang hilang dalam masyarakat pada eranya, yaitu yang disebut dengan kesadaran akan ideologi sendiri.

Lain halnya dengan cendikiawan yang termakan kebudayaan dan ideologi impor. Mereka melantangkan kesana kemari pemaknaan cendikiwan sebagai seseorang yang sikapnya netral terhadap seluruh aspek, dan sebatas -seperti yang disampaikan Ali Syariati- menjadi sebuah Mercusuar yang hanya memberikan cahaya kepada kapal-kapal, namun hanya berdiam diri, tak bergerak. Salah atau pun benar jalannya kapal itu, mercusuar hanyalah bersikap diam tak dapat bergerak membimbing.

Hal itulah yang coba didobrak Ali Syari’ati, ia terus berjuang untuk menyadarkan para pemuda untuk bangkit menjadi menjadi seseorang yang kualitasnya di atas para ilmuan dan cendikiawan, yakni Rausyanfikr. Rausyanfikr itu sendiri merupakan suatu sifat yang ditujukan kepada orang yang terdidik yang pikirannya dan hatinya telah tercerahkan dan tersadarkan untuk tidak hanya diam dan termenung secara sendiri, tapi seorang ilmuan yang sadar dan bergerak untuk membangkitkan dan menerangi kesadaran masyarakat secara utuh terhadap sesuatu yang benar.

Ali Syariati meniggal pada 19 Juni 1977 di London, akibat pembunuhan yang dilakukan oleh SAVAK (Sāzemān-e Ettelā’āt va Amniyat-e Keshvar/ Organization of National Intelligence and Security). Beliaupun pergi sebelum menyaksikan para ulama, dan kaum intelektual memimpin rakyat untuk menumbangkan  rezim yang otoriter. Ia meninggal sebelum menyaksikan pemuda-pemudi Rausyanfikr turun dari bangku kuliahnya yang sejuk dan nyaman, menuju perkampungan rakyat miskin yang gersang dan kumuh, demi mencerahkan dan menyediakan segala kebutuhan yang menjadi hak seluruh rakyat. Ia pergi, pergi dengan mewariskan semangat perjuangan membela agama, ideologi, dan kebudayaan lokal diseluruh peradaban belahan dunia manapun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s