Golongan pola-pikir dan tindakan Manusia

Standar

abu

Abul A’la al Maududi didalam bukunya yang berjudul Worship in Islam, memaparkan dua golongan utama manusia yang disarikan dari Al-Qur’an mengenai pola-pemikiran dan tindakan manusia, yaitu:

Golongan Pertama: Dimana, manusia

  • Tidak percaya bahwa dirinya memiliki tanggung jawab terhadap penguasa yang lebih tinggi kekuasaannya dari para penguasa manapun, dan semua tindakannya dilaksanakan dan diatur dengan persepsi bahwa dia tidak bertanggung jawab pada “sesuatu” yang Superior ;
  • Menganggap bahwa dunia ini sebagai satu-satunya kehidupan yang akan dimilikinya. Untung rugi dunia dipandang hanya sebagai hal yang akan dinikmati dan dideritanya di dunia ini. Dengan alasan tersebut satu-satunya kriteria yang dia berikan untuk memutuskan antara satu dengan cara bertindak yang lain adalah hasil-hasil yang hanya akan mewujudkan dirinya dalam kehidupan sekarang ;
  • lebih mementingkan manfaat-manfaat kebendaan dari pada manfaat-manfaat moral maupun spiritual, dan menganggap kerugian-kerugian moral dan spiritual kurang begitu penting dibandingkan dengan kerugian-kerugian benda ;
  • tidak mematuhi atau mengikuti aturan-aturan moral yang abadi/kekal, tapi lebih suka menciptakan prinsip-prinsip moral ciptaannya sendiri, sesuai dengan situasi dan kondisi serta mengubahnya sesuka hatinya.

Golongan Kedua: Dimana, manusia

  • Merasa diri sebagai hamba dan bertanggung jawab kepada Penguasa Yang Lebih Tinggi dari penguasa manapun, Yang Maha Mengetahui segala yang terlihat dan yang tidak terlihat, serta bertindak seolah-olah suatu saat dia harus menceritakan segala sesuatu tindakannya dan pertanggung jawaban kehidupannya yang lengkap kepada yang maha Superior tersebut ;
  • menganggap bahwa kehidupan dunia ini hanya sebagai pendahulu kehidupan yang sebenarnya di akhirat, dan untung rugi yang muncul dalam tahap kehidupan sekarang hanyalah sementara dan semu, serta mengatur tindakannya dengan untung rugi abadi yang dianggapnya akan terwujud dalam kehidupan abadi di akhirat ;
  • lebih menghargai manfaat-manfaat moraldan spiritual dari pada keuntungan-keuntungan kebendaan, serta menganggap bahwa segala kerugian moral dan spiritual mempunyai  akibat-akbiat yang lebih besar dibandingkan dengan seluruh kerugian benda ;
  • mengingatkan diri pada aturan moral tetap, kekal, dan abadi yang tidak diciptakannya sendiri dan dia menyadari secara penuh untuk tidak memiliki hak sama sekali memberlakukannya dan menariknya kembali sesuai dengan kehendak, tuntutan, dan kepentingan pribadinya sendiri.

EGOISME Vs. ALTRUISME, ya.. begitulah singkatnya menurut saya.

Iklan

Man-Nasia

Standar

mencoba menyadari, tapi dibenamkan kesadaran itu.

mencoba meratapi, tetapi dibutakan ratapan itu.

mencoba memahami, tapi dihilangkan kepahaman itu.

menangis. menikmati luapan kebingungan. perubahan tersentuh. menggeliat nikmat. tersenyum, terbahak. terdiam dan bergelora.

ternyata bodoh, dan akhirnya,

menyadari bahwa pembenamnya adalah yang membenamkan.

yang membutakan ratapan adalah yang meratapi, dan

yang menghilangkan pemahaman, adalah yang memahami.

bersenderlah, berpeganganlah, maka jatuhkanlah, dan berjalanlah bersamanya.

Meng-Islamkan Demokrasi

Standar

Bagaimana kalau kita mengislamkan saja demokrasi itu? bagaimana jika kita masyarakat muslim dunia menghapus secara menyeluruh ego masing-masing untuk membuka mata kembali, merebut kembali, dan menyadarkan kembali bahwa suatu sistem yang telah diajarkan nabi Muhammad dan para khalifah mengenai politik yang telah direbut serta di transformasikan namanya oleh barat menjadi nama demokrasi.

Baiklah jika sebelumnya 3 jagoan Yunani, Socrates, Plato, dan Aristoteles pada masa sekita 500-an SM telah menyinggung sistem demokrasi. Namun mereka tidak mengindahkan sistem ini, karena menurut mereka sistem inilah sistem terburuk dalam politik dikarenakan sistem ini menyerahkan urusan negara kepada banyak kepala, sehingga keputusan yang tercipta tidak se-efektif dan se-efisien dari pengambilan keputusan negara. Bagi mereka sistem ini rapuh, dapat cepat memunculkan konflik, dikerenakan persoalan tadi, banyak kepala maka akan banyak benturan ide dan sebagainya.

Tetapi ketidakpengindahan yang dilakukan 3 jagoan Barat tersebut terhadap Demokrasi dirubah 360 derajat oleh masyarakat Barat era pencerahan. Mereka tersadarkan akan pentingnya kebebasan bagi seluruh individu. Mereka merasa sudah tidak sesuai dengan sistem (yang dinilai baik oleh 3 pemikir tersebut) monarki ataupun aristokrasi. Dua sistem itu pada zamannya malah merusak masyarakat, malah menginjak-injak nilai kemanusiaan, nilai nilai keilmuan dan sebagainya karena telah tertuhankan raja maupun pendeta-pendeta pada masa itu yang menyebabkannya bertingkah sewenang wenang tanpa adanya pengawas dari setiap kebijakan mereka.

oleh karenanya munculah orang-orang seperti Martin Luther dan John Calvin.

Öèôðîâàÿ ðåïðîäóêöèÿ íàõîäèòñÿ â èíòåðíåò-ìóçåå gallerix.ru john-calvin-1.jpg

Martin Luther                                         John Calvin

Mereka menentang dominasi tunggal Gereja maupun kerejaan yang bertindak sewenang wenang atas nama agama yang menjadikan mereka sebagai perwakilan Tuhan bertindak sewenang wenang terhadap rakyat. Mereka berdua berusaha menyadarkan masyarakat untuk memecah dominasi gereja maupun raja, dan pada akhirnya mereka menyadarkan masyrakat sehingga peperangan untuk nama demokrasi, kebebasan, dan sebagainya muncul untuk menghancurkan sistem monarki maupun aristokrasi.

Dari hal itu, dunia barat mulai mencekoki keseluruh belahan dunia mengenai sistem demokrasi. Sistem modern yang paling baik dan efektif menurutnya.

Sistem itu pun secara serampangan diterima oleh seluruh negara. Mereka secara bulat-bulat menerima dan memperjuangkan sistem ini ke dalam negaranya, tanpa mengindahkan agama, budaya, adat istiadat, dan kebiasaan lokal. Negara-negara tersebut mengambilnya dengan kebutaan dan kebodohan. Mereka menerima tanpa berfikir.

Hal itu juga dirasakan oleh kaum muslimin seluruh dunia. Pemimpin mereka dan cendikiawan- cendikiawannya juga menerima demokrasi tersebut secara bulat-bulat tanpa mengindahkan sejarah, tanpa mengindahkan kebudayaannya, tanpa mengindahkan pemikiran dan peradabannya sendiri. Mereka menerima begitu saja apa yang di ajarkan oleh sistem Barat. Mereka lupa bahwa agama mereka, ajaran mereka adalah Islam yang berbeda sama sekali dengan ajaran yang disampaikan oleh agama buatan Barat terdahulu, yakni kristen. hal itu yang menyebabkan mereka berfikir sama untuk memisahkan antara agama dengan persoalan dunia (politik) yang dikenal dengan sekulerisme.

Sekulerisme/ pemisahan tersebut pada masa awal Luther dan Calvin disebabkan oleh kelelahan mereka oleh tindakan gereja yang mengatas namakan agama sewenang-wenang merubah dan mempelintirkan ayat-ayat tuhan demi menggapai kepentingan politik seperti jabatan, kekayaan, dan sebagainya yang kemudian juga menjadikan mereka berlaku biadab terhadap rakyat. Oleh karenanya Luther memisahkan itu agar perpolitikan yang tercipta terbebas dari kesewenang-wenangan atas nama agama.

Berbeda dengan islam yang sejak zaman Nabi Muhammad tetap  menjaga ajaran Tuhan hingga secara estafet dijaga pula oleh para penerusnya yakni Khalifah Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) RadhiAllahu Anhu. Ajaran islam yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah juga telah dijanjikan oleh Allah untuk dijaga oleh “dirinya sendiri” hingga hari Akhir. Hal itu dapat ditelusuri dan dibuktikan secara fakta oleh setiap individu yang tidak yakin pada persoalan tersebut. Setiap manusia yang berakal dan sabar dalam meneliti dan membuka mata maupun hati akan menerima hukum-hukum Islam dalam Al-Qur’an dengan yakin bahwa hukum-hukum dalam Al-Qur’an itulah yang asli dari Tuhan, tanpa adanya pemelintiran dan perubahan.

Sehingga bila ingin mensekulerkan Islam dari persoalan dunia (politik dan sebagainya), merupakan bencana yang besar bagi keberadaan umat manusia, khususnya umat Islam. Islam tidak patut untuk di sekulerkan. Islam merupakan ruh kehidupan yang sulit di pisahkan. Islam adalah dunia, dan dunia adalah Islam. Ada beberapa cendikiawan yang berusaha mensucikan agama Islam dengan cara memisahkannya dari segala persoalan duniawi seperti politik dan sebagainya. Namun mereka lupa bahwa, kotor dan tidak sucinya persoalan dunia adalah karena melepaskan Islam. Islam tidak akan kotor dengan noda-noda hal sepele itu. Bolehlah jika terroris yang menggunakan Islam sebagai politiknya menyebabkan Islam tercemar, tapi anda lupa jika itu karena umat muslim sendiri yang tidak pernah memperjuangkan secara murni ajaran islam keseluruh aspek dunia, sehingga orang-orang yang diluar islam memperdayakan islam untuk menggapai kepentingan mereka, dan itu merupakan kesalahan kita.

Ajaran Demokrasi yang kita pahami sekarang dari barat, pada dasarnya sama dengan apa yang telah di ajarakan Nabi Muhammad pada masa kepemimpinannya. seperti halnya tema pokok yang diajarkan nabi yakni Musyawarah. musyawarah dalam islam sangat dijunjung tinggi dalam mengambil keputusan, dan hal itu telah diterpkan nabi seperti ketika penyusunan strategi perang khandak, nabi menerima usulan sahabatnya dalam musyawarah yakni Salman Al-Farisi untuk menggali parit.

Selanjutnya adalah pengawasan umum yang dilakukan oleh masyarakat terhadap pemipin baik dalam memilihnya maupun dalam perjalanan kepemimpinannya. umat Islam diajarkan untuk berbai’at kepada pemimpin yang ia Ridhoi dan dia percayai, dan bila pemimpin tersebut tidak mendapat bai’at dari rakyatnya, maka pemimpin tersebut tidak mendapatkan kekuatan pada posisi kepemimpinan. mengenai pengawasan terhadap segala tindakan pemimpin juga diajarkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, khalifa pertama Muslim, sepeninggal Nabi Muhammad. Ketika dalam pidato pengangkatannya beliau berucap,

“Hadirin sekalian, saya diangkat menjadi pemimpin kalian, namun begitu saya bukanlah yang terbaik diantara kalian. Bila kalian melihat saya berbuat kebatilan, maka luruskanlah saya. Bila kalian melihat saya mengikuti kebenaran, maka dukunglah saya. Patuhilah saya selama saya mematuhi Allah dalam mengurus urusan kalian. Bila saya durhaka kepada Allah, maka janganlah ikuti saya.”dikutip dari buku Dr. Yusuf Qardhawy yang berjudul Fiqih Negara, terjemahan, hal. 175.

———————————————————————————————————————

Demokrasi merupakan suatu sistem politik yang muncul dari pengalaman-pengalam sistem politik sebelumnya yakni monarki dan aristokrasi. Pada masa kekhalifahan di tengah masyarakat muslimin, kesalahan-kesalahan dari sistem monarki juga sering mencuat, karena rapuhnya pemimpin yang menjadi tonggak kepemimpinan. Saya mengambil contoh mengenai masa Jabatan yang memiliki batas dalam sistem demokrasi untuk mengungkap kesalahan sistem monarki pada masa Kekhalifahan Islam. kesalahan ini terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan, yang menjabat kepemimpinan pada usia, sekitar 70 tahun. pada usia nya yang renta tersebut, khalifah Utsman banyak menerima Fitnah disebabkan oleh kepemimpinannya yang banyak dirasuki bisikan bisikan kerabatnya seperti Marwan bin Hakam. Karna kelemahan oleh umur dan sifatnya yang lemah lembut pemerintahan Utsman juga cepat goyah dan hancur. Akibat banyak fitnah yang muncul di masyarakat mengenai pemerintahan Utsman, banyak terjadi gejolak dalam umat islam itu sendiri, sehingga muncul pembunuhan terhadap khalifa Utsman oleh salah seorang khawrij.

hal itu terjadi pula dalam kekhalifahan muawiyah dan seterusnya, jabatan kepemimpinan tanpa waktu batasan bahkan melahirkan suatu sistem yang mewariskan jabatan kepada anak, yang menciptakan monarki absolut dalam pemerintahan islam.

pada akhirnya belajar dari kesalah tersebut, sistem demokrasi melahirkan sistem untuk membatasi kepemimpinan pemimpin, seperti di Indonesia yang membatasinya selama 5 tahun semata, dan hanya boleh terjadi lagi selama 2 periode. hal itu secara logika sangatlah baik. sistem itu mengajarkan pemimpin untuk berbuat semaksimal mungkin selama periodenya, dan jika tidak selesai usahanya maka harus diselesaikan penerusnya. sistem estafet tersebut juga telah di ajarakan dalam sistem khalafah rasyidin dahulu.

sehingga menurut saya, sistem demokrasi memiliki kekurangan hanya dalam persoalan pembuatan struktur hukum. demokrasi pada masa kini dan telah merasuki pula umat muslim adalah menigglakan hukum yang paling jelas dan sempurna, yakni hukum yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadis.

kedua sumber hukum dalam islam ini tidak di indahkan oleh umat islam, mereka lebih memilih untuk mengikuti sistem barat dengan menyekulerkan pemerintahan, dan menciptkan hukum sendiri hasil dari perembukan bersama yang tidak di dasari pada Al-Qur’an dan Hadis.kalau saja para Ulama, Cendikiawan, Ilmuan, dan sebagainya sadar untuk mereformasi sistem politik Islam dengan mengukuhkannya dalam suatu konsep yang jelas dan didasari pada Al- Qur’an dan Hadis, sudah menjadi barang tentu bahwa ekstirimis-ekstrimis islam yang tanpa pikiran dan ilmu tidak akan muncul dan dapat dihilangkan pengaruhnya.

egoisme dan nafsu untuk menjadikan sistem kekhalifahan yang dirasa utopis, pastilah dapat dihilangkan, dengan perubahan konsep Demokrasi menjadi konsep Demokrasi Islam, yang menurut saya pengusahaan untuk mengislamkan Demokrasi merupakan tindakan yang lebih nyata untuk menegakan hukum Allah di muka bumi ini, dan pada ujungnya nanti kita umat muslim akan pula dapat secara nyata menciptakan kekhalifahan yang sesungguhnya di muka bumi ini.

dengan sebatas meminjam pemblajaran Demokrasi, dengan hanya sebatas sebagai cara untuk belajar berpolitik, demokrasi harus disikapi untuk proses  mencapai sistem KeKhalifahan yang sebenarnya seperti masa kejayaan kekhalifahan masa lalu.

sistem demokrasi dijadikan landasan untuk menerbangkan sistem Kekhalifahan dimuka bumi.

Mengislamkan demokrasi menjadi batu loncatan untuk menciptakan sistem kekhalifan dimuka bumi ini, dari pada egoisme untuk menciptakan suatu kekhalifahan hanya menimbulkan rasa anti islam, lebih baik meminjam dahulu sistem dari luar untuk menciptakan sistem kekhalifahan yang murni.

Memurnikan Kebebasan

Standar

Kebebasan yang dipahami secara umum oleh masyarakat internasional merupakan kebebasan yang dihadirkan oleh para pemikir Barat. Baik para ahli, cendikiwan, maupun masyarakat umum memahami kebebasan ini seluruhnya dari apa yang disampaikan oleh Barat.

Paham mengenai kebebasan yang disampaikan oleh Barat atau yang biasa dikenal dengan istilah Liberlism, merupakan pandangan yang menegaskan bahwa kebebasan itu merupakan hak setiap individu. Namun, kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan tanpa batas, atau kebebasan yang dimaknai secara sembarang. Kebabasan yang dimaksud disini adalah seperti yang disampaikan oleh John Lock (1632-1704) seorang penggagas Liberalism yakni, “kebebasan yang menyadari bahwa individu lain memiliki pula hak kebabasan tersebut.”

Oleh karena itu, dalam pandangan orang barat kebebasan merupakan tujuan bagi setiap individu, sehingga mereka menyadari pula bahwa setiap kebebasan individu-individu yang ada dalam masyarakat akan saling berbenturan satu sama lain. Robert Jackson & Georg Sorensen dalam bukunya Introduction to International Relation mengatakan bahwa kaum liberal mengakui bahwa sifat alami manusia untuk saling bersaing satu sama lain dalam menggapai suatu hal dan mereka akan saling mementingkan diri sendiri. Maka dari itu, kaum liberal melebarkan konsep atas kepercayaannya bahwa walaupun sifat alamiah manusia seperti itu, namun manusia memiliki prinsip rasional, yang menyebabkan mereka lebih memilih jalan bekerja sama untuk mengambil kepentingan-kepentingannya karena dirasa lebih bermanfaat, Sehingga pada ujungnya mereka akan menciptakan suatu hukum untuk mengikat dan menjaga hak-hak nya masing-masing.

————————————————————-

Namun apakah mereka lupa, ketika mereka menciptakan suatu hukum bersama, atas landasan kepentingan mereka masing-masing apakah akan selalu berjalan sesuai irama satu sama lain? Tidak, tidak akan pernah. kesepakatan akan suatu usaha untuk mereduksi kepentingan-kepentingan satu sama lain akan menumpangtindihkan atau menyisihkan kepentingan atau hak individu lainnya. Ketika mengambil suatu kesepakatan sudah barang tentu, kepentingan keseluruhan individu tidak akan semuanya disatukan atau lebih tepatnya dileburkan bersama, dan hal itu tentu akan memburamkan yang satu dengan lainnya. Manusia akan tetap saja berbenturan satu dengan lainnya, tetap saja melenyapkan fakta- fakta realita dengan menggunakan ide-ide masing-masing, dan ide tersebut akan menjadi fakta yang akan meleburkan ide lainnya disebabkan oleh perjuangan kekuatan dari si individu dominan yang kuat, sehingga istilah Liberalism atau kebebasan akan hak setiap individu malah akan tetap saja membawa kemusnahan, karna dari dasarnya saja ditopangkan pada individu manusai yang kaya akan nafsu, kesalahan, dan sebagainya. Hukum manusia yang diciptakan manusia akan sia-sia dalam menegakan kebenaran. Kerja sama yang diciptakan hanya kerjasama kemunafikan, karena tujuan akhirnya adalah agar sang dominan aman dan terjaga posisinya dari kekuatan lain yang ada dibawahnya.

Lain halnya dengan cara pikir muslim yang tersadarkan. Muslim secara keseluruhan seperti halnya dengan Barat mengidamkan akan kebebasan bagi setiap individunya, bebas dari tindahan individu lain, bebas dari kukungan individu lain, bebas dari jeratan individu lain dan sebagainya. Namun, yang membedakan adalah Islam tidak menyingkirkan akan adanya Tuhan yang maha memiliki kebebasan tersebut. Barat lebih memilih untuk memperjuangkan kebebasan individu secara itu saja, namun ia melupakan akan adanya Tuhan S.W.T. sehingga mereka lebih memilih jalan untuk mempercayai prinsip rasionalitas manusia yang bekerja sama.

Umat Islam memiliki kesadaran penuh untuk mempercayai bahwa mereka merupakan sebatas Hamba Tuhan saja, yakni seorang budak dari “Sang Maha Raja” yang membawahai segala raja dimuka bumi ini. Individu atau manusia seluruhnya adalah budak dari sang pemilik alam semesta, yang bekerja dan bertindak semata untuk memperoleh ridho dan belas kasihan dari Tuhan sebagai pemiliknya.

Dari konsep kepatuhan tunggal terhadap Tuhan itu masyarakat Muslim berjuang keras untuk bebas dari segala kukungan individu lain, untuk berjuang keras lepas dari cengkraman dominasi individu lain. Mereka berjuang demi kebebasan tersebut atas landasan untuk bekerja keras secara jasad dan rohani, untuk mengabdi tunggal kepada Tuhan yang maha tunggal dan suci.

Kebasan ini akan menjadi murni, yakni kebebasan yang sadar akan penyerahan secara tulus akan kebebasan yang dimilikinya kepada sang pemilikinya yakni Tuhan Yang Maha Esa. Dari penyerahan tersebut, secara logika, antara individu yang satu dengan yang lain akan menjauhkan dirinya masing masing dari sifat alami manusia untuk saling bersaing dalam menggapai suatu hal (keinginan atau nafsu materi dalam lingkup dunia) dan dari sifat saling mementingkan diri sendiri, keangkuhan, egois, sombong, dan sebagainya, serta membebaskan secara maksimal individu lain bertindak dan berlaku atas dasar perintah Tuhan. Mereka hanya akan berjuang  atau bersaing semata bukan untuk suatu hal yang sifatnya materi (kecil dan hina seperti dunia jabatan dan sebagainya) namun, mereka berjuang atau bersaing semata hanya untuk pengabdian kepada Allah S.W.T., Tuhan yang maha tunggal dan tak ada yang patut dipersaingkan selain dia.

Kebebasan Murni adalah kesadaran penuh setiap individu akan dirinya sebagai budak dan hamba Allah S.W.T.

maka manusia akan bebas secara utuh dan jelas.

Ali Syari’ati

Standar

008_2

Ingatkah engaku ketika seorang cendikiawan muslim Iran yang memperjuangkan secara keseluruhan aspek kehidupan masyarakatnya sendiri, bahkan juga masyarakat dunia ke-3 (negara-negara berkembang). Seseorang tersebut yang lahir dalam keadaan jihad yang sesungguhnya, dan mati pula dalam keadaan jihad yang sesungguhnya. Beliau yang bernama Dr. Ali Syariati.

Ya, beliau sebagai seorang cendikiawan memiliki kesadaran mendalam tentang pentingnya perjuangan menegakan kebenaran, dan kebenaran itu merupakan kebenaran yang dilandasi pada sesuatu yang ia sebut sebagai ideologi, serta ideologi tersebut yang berakar kepada sesuatu yang sangat suci, yakni agama. Oleh karena hal itulah ia sebagi seorang cendikiawan rela berkorban jiwa dan raga, hidup dan mati, demi membangkitkan kembali sesuatu yang hilang dalam masyarakat pada eranya, yaitu yang disebut dengan kesadaran akan ideologi sendiri.

Lain halnya dengan cendikiawan yang dibentuk oleh orang-orang Barat. Mereka melantangkan kesana kemari pemaknaan cendikiwan sebagai seseorang yang sikapnya netral terhadap seluruh aspek, dan sebatas -seperti yang disampaikan Ali Syariati- menjadi sebuah Mercusuar, yang hanya memberikan cahaya kepada kapal-kapal, namun hanya berdiam diri, tak bergerak. Salah atau pun benar jalannya kapal itu, mercusuar hanyalah bersikap diam tak dapat bergerak membimbing.

Hal itulah yang coba didobrak Ali Syari’ati, ia terus berjuang untuk menyadarkan para pemuda untuk bangkit menjadi menjadi seseorag yang kualitasnya di atas para ilmuan dan cendikiawan, yakni Rausyanfikr. Rausyanfikr itu sendiri merupakan suatu sifat yang ditujukan kepada orang yang terdidik yang pikirannya dan hatinya telah tercerahkan, dan telah tersadarkan, untuk tidak hanya diam dan termenung secara sendiri, tapi seorang ilmuan yang sadar dan bergerak untuk membangkitkan dan menerangi kesadaran masyarakat secara utuh terhadap sesuatu yang benar.

Ali Syariati meniggal pada 19 Juni 1977 di London, akibat pembunuhan yang dilakukan oleh SAVAK (Sāzemān-e Ettelā’āt va Amniyat-e Keshvar/ Organization of National Intelligence and Security). Beliaupun pergi sebelum menyaksikan para ulama, dan kaum intelektual memimpin rakyat untuk menumbangkan  rezim yang otoriter. Ia meninggal sebelum menyaksikan pemuda-pemudi Rausyanfikr turun dari bangku kuliahnya yang sejuk dan nyaman, menuju perkampungan rakyat miskin yang gersang dan kumuh, demi mencerahkan dan menyediakan segala kebutuhan yang menjadi hak seluruh rakyat. Ia pergi, pergi dengan mewariskan semangat perjuangan membela agama, ideologi, dan kebudayaan lokal diseluruh peradaban belahan dunia manapun.