Golongan Pola-pikir dan tindakan Manusia

Standar

abu

Abul A’la al Maududi didalam bukunya yang berjudul Worship in Islam, memaparkan dua golongan utama manusia yang dasari dari Al-Qur’an mengenai pola-pemikiran dan tindakannya, yaitu:

Golongan Pertama:

  • Di mana manusia tidak percaya bahwa dirinya memiliki tanggung jawab terhadap penguasa yang lebih tinggi kekuasaannya dari para penguasa manapun, dan semua tindakannya dilaksanakan dan diatur dengan persepsi bahwa dia tidak bertanggung jawab pada “sesuatu” yang Superior ;
  • Menganggap bahwa dunia ini sebagai satu-satunya kehidupan yang akan dimilikinya. Untung rugi dunia dipandang hanya sebagai hal yang akan dinikmati dan dideritanya di dunia ini. Dengan alasan tersebut satu-satunya kriteria yang dia berikan untuk memutuskan antara satu dengan cara bertindak yang lain adalah hasil-hasil yang hanya akan mewujudkan dirinya dalam kehidupan sekarang ;
  • Lebih mementingkan manfaat-manfaat kebendaan dari pada manfaat-manfaat moral maupun spiritual, dan menganggap kerugian-kerugian moral dan spiritual kurang begitu penting dibandingkan dengan kerugian-kerugian benda ;
  • Tidak mematuhi atau mengikuti aturan-aturan moral yang abadi/kekal, tapi lebih suka menciptakan prinsip-prinsip moral ciptaannya sendiri, sesuai dengan situasi dan kondisi serta mengubahnya sesuka hatinya.

Golongan Kedua: 

  • Di mana manusia merasa diri sebagai hamba dan bertanggung jawab kepada Penguasa Yang Lebih Tinggi dari penguasa manapun, Yang Maha Mengetahui segala yang terlihat dan yang tidak terlihat, serta bertindak seolah-olah suatu saat dia harus menceritakan segala sesuatu tindakannya dan pertanggung jawaban kehidupannya yang lengkap kepada yang maha Superior tersebut ;
  • Menganggap bahwa kehidupan dunia ini hanya sebagai pendahulu kehidupan yang sebenarnya di akhirat, dan untung rugi yang muncul dalam tahap kehidupan sekarang hanyalah sementara dan semu, serta mengatur tindakannya dengan untung rugi abadi yang dianggapnya akan terwujud dalam kehidupan abadi di akhirat ;
  • Lebih menghargai manfaat-manfaat moraldan spiritual dari pada keuntungan-keuntungan kebendaan, serta menganggap bahwa segala kerugian moral dan spiritual mempunyai  akibat-akbiat yang lebih besar dibandingkan dengan seluruh kerugian benda ;
  • Mengingatkan diri pada aturan moral tetap, kekal, dan abadi yang tidak diciptakannya sendiri dan dia menyadari secara penuh untuk tidak memiliki hak sama sekali memberlakukannya dan menariknya kembali sesuai dengan kehendak, tuntutan, dan kepentingan pribadinya sendiri.

Dua golongan tersebut dalam bahasa sederhananya adalah EGOISME Vs. ALTRUISME.

Iklan

Akhir segala sesuatu kembali keasalnya

Standar

jalaluddin-rumi3

“Bagian- bagian mengarah ke keseluruhan,

Burung bul-bul mencintai wajah mawar;

Yang dari laut kembali ke laut,

Dan segala sesuatu kembali ke asalnya;

Bak gelak gelombang mencuat dari pucuk bukit,

Jiwaku, yang berkobar cinta, resah ingin lepas dari jasad.”

-Jalaluddin Rumi-

dari buku Murtadha Muthahhari, Society and History.

Ali Syari’ati

Standar

008_2

Ingatkah engaku ketika seorang cendikiawan muslim Iran yang memperjuangkan secara keseluruhan aspek kehidupan masyarakatnya sendiri, bahkan juga masyarakat dunia ke-3 (negara-negara berkembang). Seseorang itu yang lahir dalam keadaan jihad dan mati pula dalam keadaan jihad. Beliau yang bernama Dr. Ali Syariati.

Ya, beliau sebagai seorang cendikiawan memiliki kesadaran mendalam tentang pentingnya perjuangan menegakan kebenaran dan kebenaran itu merupakan kebenaran yang dilandasi pada sesuatu yang ia sebut sebagai ideologi, serta ideologi tersebut yang berakar kepada sesuatu yang sangat suci, yakni agama. Oleh karena hal itulah ia sebagi seorang cendikiawan rela berkorban jiwa dan raga, hidup dan mati, demi membangkitkan kembali sesuatu yang hilang dalam masyarakat pada eranya, yaitu yang disebut dengan kesadaran akan ideologi sendiri.

Lain halnya dengan cendikiawan yang termakan kebudayaan dan ideologi impor. Mereka melantangkan kesana kemari pemaknaan cendikiwan sebagai seseorang yang sikapnya netral terhadap seluruh aspek, dan sebatas -seperti yang disampaikan Ali Syariati- menjadi sebuah Mercusuar yang hanya memberikan cahaya kepada kapal-kapal, namun hanya berdiam diri, tak bergerak. Salah atau pun benar jalannya kapal itu, mercusuar hanyalah bersikap diam tak dapat bergerak membimbing.

Hal itulah yang coba didobrak Ali Syari’ati, ia terus berjuang untuk menyadarkan para pemuda untuk bangkit menjadi menjadi seseorang yang kualitasnya di atas para ilmuan dan cendikiawan, yakni Rausyanfikr. Rausyanfikr itu sendiri merupakan suatu sifat yang ditujukan kepada orang yang terdidik yang pikirannya dan hatinya telah tercerahkan dan tersadarkan untuk tidak hanya diam dan termenung secara sendiri, tapi seorang ilmuan yang sadar dan bergerak untuk membangkitkan dan menerangi kesadaran masyarakat secara utuh terhadap sesuatu yang benar.

Ali Syariati meniggal pada 19 Juni 1977 di London, akibat pembunuhan yang dilakukan oleh SAVAK (Sāzemān-e Ettelā’āt va Amniyat-e Keshvar/ Organization of National Intelligence and Security). Beliaupun pergi sebelum menyaksikan para ulama, dan kaum intelektual memimpin rakyat untuk menumbangkan  rezim yang otoriter. Ia meninggal sebelum menyaksikan pemuda-pemudi Rausyanfikr turun dari bangku kuliahnya yang sejuk dan nyaman, menuju perkampungan rakyat miskin yang gersang dan kumuh, demi mencerahkan dan menyediakan segala kebutuhan yang menjadi hak seluruh rakyat. Ia pergi, pergi dengan mewariskan semangat perjuangan membela agama, ideologi, dan kebudayaan lokal diseluruh peradaban belahan dunia manapun.