Menawarkan Konsep “Perjuangan Kekuasaan Yahudi” Kepada Para Pendamba Khilafah

Lekat

Jika kita rujuk pada persoalan-persoalan yang terjadi di dunia kini, khususnya terhadap aktor-aktor islam yang menjalankan peranannya sebagai pengemban amanah langit dalam aspek keduniaannya (terutama para aktor di Timur Tengah, Asia dan Afrika), dapat kita saksikan bagaimana Islam sangat porak-poranda di era moderen kini yang dibawa oleh mereka, dimulai dari akar hingga puncuk tertinggi pengembannya. Maka, hal inilah yang mengusik saya mengenai akuntabilitas para pemeran islamis kini yang notabenenya memahami betul konsep-konsep Islam dalam menjalankan pola-politik kenegaraannya, terutama usaha-usaha membumikan Islam sebagai “rahmatan lil alamin.”

Terjadi kekeliruan yang mendasar dan sangat akut telah dilakukan oleh mereka. Oleh karenanya, atas dasar persoalan-persoalan tersebut saya mencoba menyarikan bagaimana konsep-konsep duniawi yang dijalankan para non-Muslim, khususnya orang-orang Yahudi, dalam memperoleh kekuasaannya dalam mengelola dunia internasionalnya kini, yang sebenarnya dari dulu sudah diterapkan oleh Islam dan dicontohkan oleh nabi Muhammad S.A.W, namun dilupakan oleh para muslim yang haus akan kekuasaan sempit duniawi. Hingga rezim internasional direnggut oleh para yahudi-yahudi tersebut.

Hal itu tergambarkan dari peta politik keamanan yang terjadi di Timur Tengah, Asia, maupun di Afrika. Timur Tengah yang secara awam kita pahami sebagai regional yang menjadi awal mula bagaimana konsep agama-agama samawi (agama-agama yang diyakini langsung dari Allah, yakni Islam, Kristen dan Yahudi) diturunkan dimuka bumi, khususnya agama Islam yang secara eksklusif pertama kali di turunkan melalui nabi Muhammad S.A.W. di kawasan tersebut. Kawasan ini  megalami kemunduran peradaban, ekonomi, politik, sosial, dan ideologi yang sangat akut di era kini, hingga menimbulkan perang saudara yang berkepanjangan antar sesama penganut agama Islam. Kita ambil contoh mengenai sekte-sekte Islam disana, yakni Sunni dan Syi’ah yang secara jelas di kukuhkan dalam perang antara Arab Saudi maupun negara-negara teluk lainnya, melawan pengaruh Syi’ah Iran dan negara-negara penganut lainnya, serta organisasi-organisasi Islam yang memecah belah paham kesatuan Islam yang sebelumnya tidak pernah diajarkan Nabi S.A.W. Hal-hal tersebut mengotori kedamaian islam yang sebenarnya menjadi cita-cita kolektif umat manusia. Begitu juga di kawasan Asia dan Afrika, kawasan ini turut bergejolak akibat terbelah-belahnya pemahaman akan islam ini.

Maka, dari contoh-contoh nyata dan faktual tersebut, dapat kita pahami menganai aspek-aspek apa saja yang melemahkan perjuangan kekuasaan umat Islam dalam mengelola persoalan-persoalan duniawi di dunia internasional ini. Pertama, umat Muslim di era Modern ini (khususnya para petinggi-petinggi umat Islam) sudah jauh akan kesadaraan posisi mereka sebagai budak abadi Allah S.W.T. Hal ini menciptakan bagaimana pemimpin-pemimpin muslim kita sangat haus akan jabatan-jabatan kekuasaan yang sangat personal, seperti para raja-raja Arab Saudi, dan para pemimpin umat Islam pada umumnya (Ulama, Kyai, Habib, Ustad dan sebagainya) yang fokus pada persoalan-persoalannya sendiri/institusinya sendiri, bukan Islam secara keseluruhan, sehingga persoalan-persoalan sepele yang sifatnya sistematis saja menjadi persoalan yang besar dan menjadi fokus, sehingga aspek-aspek keseluruhan umat Islam hilang dari pandangannya. ( dapat dilihat dalam Konflik Yaman, Palestina, Rohingya, Bokoharam, Isis, Afghanistan, dan lainnya), dan fokus pada persoalan (Bacaan Qiraat, Pertengkaran persoalan fikih, dan sebagainya) mereka lupa akan musuh utama dan tujuan islam di muka bumi ini. Kedua, Umat islam modern kini lupa akan bahaya pembentukan golongan-golongan (sekte-sekte maupun organisasi-organisasi) yang notabenenya dapat menciptakaan kecintaannya terhadap golongan-golongannya itu sendiri, sehingga kemaslahatan umat islam pada umumnya terlupakan. Oleh karenanya yang hadir adalah kekerasan-kekerasan antar sesama muslim yang menyebabkan mudahnya para pembenci Islam menggunakan momentum ini untuk memporak-porandakannya. Padahal nabi Muhammad sudah menegaskan akan bahaya penggolongan-penggolongan ini, terutama dalam pemehaman-pemahaman keagamaan dan kemaslahatan kolektif (politik). (dapat dilihat dalam Arab Spring, ISIS, Bokoharam, perang Sunni-Syiah, dan sebagainya) mereka lupa akan musuh utama dan tujuan islam di muka bumi ini. dan Ketiga adalah, umat islam lupa akan penggunaan metode Softpower, yakni metode-metode penyampaian melalui dakwah, ataupun peranan-peranana sosial dan kemanusiaan. Sehingga umat muslim kini sangat agresif dibidang penggunaan senjata perang dan sejenisnya maupun konflik-konflik bersenjata, atau dikenal dengan Hardpower. Akibatnya umat kita lebih mengutamakan beraliansi dengan bangsa-bangsa non-muslim lainnya untuk mencari tekhnologi perang dan sebagainya, seperti Nuklir, dan Senjata atau alat berat lainya. Mereka akan lebih mudah berkonflik dengan sesama muslim ketimbang melawan musuh yang nyata (dapat dilihat pada konflik Palestina dan Israel, serta penanganan Muslim Rohingya), mereka lupa akan musuh utama dan tujuan islam di muka bumi ini.

Maka dari problematika tersebut, dapat dipahami bahwa secara garis besar para pemimpin Islam umat modern ini lupa akan adanya Allah S.W.T rajanya seluruh umat, Sang Maha Pengasih, Penyayang, Pelindung, dan Pemberi kedudukan. Pemimpin kita Sibuk akang memperjuangkan jabatannya sendiri. Untuk itu mari kita tengok usaha-usaha duniawi yang dilakukan para yahudi untuk dapat menjadi pengatur dunia internasional kini.

Pertama, sebelum umat yahudi dapat mengelola dunia seperti era modern kini, dalam negara hegemonnya (Amerika, Rusia, China, maupun negara-negara Eropa lainnya) serta Institusi internasionalnya (baik budaya, sosial, politiknya, dalam hal ini PBB, Hollywood, Ilmuan, dan sebagainya), bangsa yahudi sangat terpuruk dalam keberadaannya di dunia internasional ini. Islam ketika itu masih dikelola oleh para pemimpin-pemimpin yang sangat ingat akan Allah, keilmuannya kuat, dan persoalan politik/keduniaannya pun sangat kuat, serta persoalan keagamaan nya yang sangat padu dengan kematerialan. Maka, umat Yahudi tidak melakukan usaha-usaha perang (seperti yang dilakukan ISIS, Bokoharam, dan kawan-kawannya), namun mereka melakukan usaha softpolitic, yakni dengan mencari kelemahan-kelemahan manusiawi seluruh manusia (layaknya iblis). Mereka mengiming-imingi para pemimpin kita/umat manusia dengan keabadian jabatan, kemudahan ases kemanusiaan, kebebasan dalam segala bentuk dan ruang, serta persoalan-persoalan lainnya yang sangat menyentuh persoalan manusiawi dan nafsu hewani masyarakat (feminisme, gender-equality dan sebagainya), sehingga mereka dengan sangat mudah disenangi oleh masyarakat. hal ini dapat kita lihat bagaimana para Yahudi masuk dan mengelola pemerintahan negara-negara, melalui aspek kebudayaannya yang sangat sarat akan pornografi dan sebagainya, serta mereka mengukuhkan eksistensinya dalam institusi-institusi internasioanal. MEREKA TIDAK AMBIL JALAN PERANG DAN SEBAGAINYA YANG JAUH DARI PERSOALAN KEMANUSIAAN. Kedua, mereka para yahudi/zionis, tidak melakukan perpecahan-perpecahan umat seperti yang dilakukan oleh umat kristen dan Islam. mereka tidak membagi-bagi secara terang-terangan akan keberbedaan pendapat antar sesama golongan, dan gila-gilaan melakukan perdebatan internal antar pemaham agamanya. Akibatnya kesoliditasan akan tujuan utamanya jelas, dan dapat mereka perjuangkan dengan sangat jelas pula. MEREKA TIDAK FOKUS PADA PERSOALAN SEPELE, NAMUN BERJUANG UNTUK KEBANGKITAN KOLEKTIF UMATNYA.

kedua hal ini secara terbuka dapat kita pahami menjadi aspek penting bagaimana melakukan perjuangan-perjuangan untuk bangkit, untuk memperkenalkan konsep baru kepada masyarakat internasional. Adanya konstruksi ide mengenai keberadaan perjuangan-perjuangan ini sagat efektif dalam memikat hati rakyat secara gelobal, sehingga arus akses masuk pada pola pikir dan pola tindaknya sangat mudah diserap. MEREKA TIDAK MENGAMBIL JALAN PERANG/KEKERASAN/REVOLUSI, TAPI USAHA-USAHA NYATA MASUK KEDALAM SISTEM DAN MENGUBAHNYA DARI DALAM HINGGA BERHASIL MENGAMBIL ALIHNYA.

Hal inilah yang tidak dilakukan umat kita. Kita sibuk akan keterburu-buruan untuk mengambil jatah kekuasaan kita dalam mengelola dunia ini. Padahal konsep-konsep diatas (jika kita lepas aspek-aspek non-morilnya yang jauh dari Syari’at Islam) nabi Muhammad telah mengajarkan bagaimana pencapaian akan menangnya Islam dalam mengelola bumi Allah ini dengan metode Softpowernya, sangat jauh dari aspek perang, konflik, dan sebagainya. Pertama kali nabi mengajarkan akan kemurnia Islam, nabi masuk kedalam sistem arab ketika itu, dengan melakukan pengajaran-pengajaran yang intensif dan konsisten kepada umatnya. Nabi tidak langsung melakukan revolusi, perang atau menolak sistem dan mengacuhkannya, melainkan nabi masuk kedalamnya dan mengubah seluruhnya sesuai dengan Syari’at Islam, maka menanglah nabi kita. Perlakuan perang ketika itu adalah pada saat Islam diserang oleh eksternal, dan demi melindungi seluruh umat manusia yang ridho akan Islam, maka cepat diterimalah Islam. Nabi tidak pernah melakukan pemaksaan pemahaman dan ekspansi kekuasaan, hal itu tergambar bagaimana nabi tidak pernah menyerang kewilayah atau individu lainnya untuk mendoktrinkan pemahamannya, melainkan nabi hanya mengabarkan dan menegaskannya dalam hukum (fathul mekah tidak termasuk ekspansi karena nabi menjemput tanah milik muslim yang sebenarnya). Selanjutnya, nabi hanya mengajarkan untuk mencintai Allah dalam Islam setunggal-tunggalnya, dan semurni-murninya, maka organisasi-organisasi/sekte-sekte diluar itu tidak memiliki ruang. Akibatnya manusia seluruhnya mencintai umat islam secara kolektif, dan kepentingan-kepntingan duniawi terfokuskan berdasarkan kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Persoalan Islam dikembalikan pada AL-QUR’AN dan HADIS, bukan pada PAHAM GOLONGAN.

Pada akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa pemimpin dan para tetua kita lupa akan konsep perjuangan kekuasaan yang terlah diajarkan Allah melalui para Rasulnya, sehingga Islam kini sangat porak-poranda dan hina ditengah masyarakat internasional.

Asimiles

Standar
Jane Paul Sartre, dalam kata pengantarnya untuk buku Les Damnes De la Terre, karya Francois Nellino, menuturkan: “Kita pilih beberapa orang pemuda Afrika dan Asia untuk kita kirim beberapa bulan lamanya ke Amsterdam, Paris, London, dan Brussel. Sesudah beberapa waktu mereka kita beri baju dengan model Eropa, kita suapkan istilah-istilah Eropa, dan kita kuliti mereka dari peradabannya. Sesudah itu, kita ubah mereka menjadi bebek-bebek dan kerbau-kerbau, dan itulah saatnya bagi mereka untuk siap dikirm pulang. Dengan demikian, mereka akan menjadi bebek-bebek yang dengan setia menyuarakan segala sesuatu yang kita ucapkan tanpa mereka sendiri tahu artinya. Segala sesuatu yang kita kerjalan akan mereka tiru, dan mereka dengan bangga mengatakan bahwa telah berkata dan berbuat sesuatu dari dirinya sendiri. Mereka itulah yang kita sebut dengan Assimiles.
 
(Ali Syariáti, dalam Ummah dan Imamah: Suatu TInjauan Sosiologis, 1989, h. 73).

​Antara Fathimah Az-Zahra, Abu Bakar As-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib

Standar

Pasca meninggalnya Rasullullah, Fathimah Az-Zahra menagih Tanah Fandak (sebidang kebun di luar Madinah yang menurut fatimah telah menjadi hak warisnya dari ayahnya, yakni Rasulullah) kepada Khalifah Abu Bakar.

Khalifah Abu Bakar menolak Tanah Fandak tersebut diperlakukan sebagai tanah warisan dengan mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Kami, para nabi, tidak akan mewariskan emas, perak, rumah, dan juga ladang. Kami mewariskan kitab, hikmah, ilmu, dan kenabian. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”
Akibat dari keputusan Khalifah Abu Bakar tersebut, Fatimah Az-Zahra mengatakan, “Apakah kalian (ketika itu Umar bin Khatab juga sedang menemani Khalifah Abu Bakar) tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keridaan Fatimah adalah ridaku, kemurkaan Fatimah adalah kemurkaan ku. Barang siapa mencintai Fatimah, putriku, berarti dia telah mencintaiku, barangsiapa membuat ridha Fatimah, putriku, berarti dia telah membuatku rida, barang siapa membuat Fathimah murka, berarti dia telah membuatku murka.'” Abu bakar dan Umar menjawab, “Ya, kami telah mendengar hadis itu dari Rasulullah.” Kemudian, Fathimah melanjutkan, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan malaikatnya, kalian telah membuatku murka. Aku tidak rida kepada kalian berdua. Seandainya aku bertemu dengan Rasulullah, aku akan mengadukan kalian kepadanya. Sungguh, aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya.” 


Abu Bakar kemudian menangis dan menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaannya dan kemurkaan mu, Fathimah. Sungguh aku tidak akan meninggalkan mu Fathimah.” kemudian Khalifah Abu Bakar, mengulang hadis Rasulullah yang mengatakan bahwa para nabi tidaklah meninggalkan warisan. Namun, Fathimah tidak menjawab lagi. 
Akibat dari hal itu, kemudian Khalifah Abu Bakar berdiri di depan semua orang. Dengan lantang ia menyampaikan, “Wahai manusia! Pecatlah aku! Setiap kalian tidur dengan memeluk istri-istri kalian, gembira dengan keluarga kalian, dan kalian meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak butuh baiat kalian.”
Kemudian seorang sahabat berteriak, “Wahai Khalifah, sungguh masalah ini tidak akan tegak. Engkaulah yang paling mengetahui hal ini. Sungguh, jika saja ini tidak dilakukan, agama Allah tidak akan berdiri.”
Abu Bakar merespons, “Sungguh, jika tidak demikian, aku tidak takut dengan kelunakan ikatan ini. Aku tidak bisa tidur waktu malam, sedangkan pada leher seorang Muslim terdapat baiat. Terutama setelah apa yang aku dengatr dan aku lihat dari Fathimah.” 
Kemudian, Ali bin Abi Thalib yang pada awalnya masih belum mau untuk memberikan baiatnya kepada Khalifah Abu Bakar, berdiri dan berkata dengan kata-kata tertata, “Wahai Khalifah, kami tidak akan memecatmu dan kami juga tidak memintamu untuk dipecat selamanya. Rasulullah telah mengajukanmu untuk mempersatukan agama kita. Siapakah orang yang menundamu untuk mengawasi duniawi kita?”
Disarikan dari (Muhammad jilid 2, oleh Tasaro GK. Dengan dirujuknya dari O. Hashem, “Saqifah”, Bab Abu Bakar dan Fathimah serta Abdurrahman Asy-Syarqawi, “Ali bin Abi Thalib, The Glorious, Bab Bersama Abu Bakar).

Modern itu bukan seperti itu !

Standar

Saya pikir, modern itu bukanlah menggantikan peran pekerja dengan alat-alat modern, namun sebaliknya, yakni alat-alat modern tersebut memudahkan si pekerja itu untuk bekerja. Saya kira, sangat keliru jika manusia meniru sistem modern yang ditawarkan oleh kaum kapitalis, karna modern yang mereka hasilkan tersebut tidak menjadi sebuah solusi bagi umat manusia, malah menjadikan sebuah persoalan yang sangat besar. Kita dapat membuktikannya dari masyarakat yang ada di negara-negara modern, seperti eropa dan amerika serikat. Tampak secara permukaan negara mereka begitu makmur dan indah, namun jika kita memasuki ke dalam seluruh sendi-sendi kemasyarakatan mereka, akan sangat jelas terlihat bagaimana kesenjangan antar umat manusia itu tercipta, kesenjangan antar kelas proletar dan kapitalis.

Dan hal ini yang sangat saya sesali akan terjadi di kampus tercinta saya, yakni UIN Jakarta. Mekanisme modern itu akan di ambil oleh mereka dalam persoalan yang paling sepele, yakni sistem parkir. Mesin-mesin karcis parkir yang begitu modern akan mereka terapkan dan menggantikan peran kerja dari para tukang karcis parkir. Saya sempat mengobrol sedikit dengan salah satu tukang karcis parkir disana, mereka sangat kecewa dan sangat khawati akan hilangnya pekerjaan mereka. Bahkan mereka menanyakan kok tidak ada yang membela atau menuntuk dari pihak mahasiswa terkait hal tersebut.

Oleh karenanya, seharusnya UIN sebagai salah satu universitas islam yang menjadi basis masyarakat islam untuk maju dan berkembang melalui sistem islam, melihat modernitas itu dalam kacamata sistem modern islam, bukan malah sebaliknya berkaca dari sistem modern barat. Sangat menyedihkan sekali bilamana konsep pemikiran islam ditinggalkan cuma-cuma oleh institusi akademis yang meminjam kata islam dalam nama institusinya, dan sangat terlena oleh pemikiran-pemikiran ilmu barat.

Jika ada yang keliru mohon diluruskan karena keterbatasan saya dalam melihat informasi secara nyata hehehe

Gak Ada Judul Cuma Ngedumel

Standar

Words only represent something else. They are not real things. They are only symbols. According to the philosophy of enlightenment, everything is a symbol. The reality of symbols is an illusory reality. Nonetheless, it is the one in which we live. -Gery Zukav-

Agama itu doktrin, kalo bukan doktrin bukan agama namanya. Soalnya isinya hukum.

Agama itu rancu, kalo gak rancu bukan agama namanya. Soalnya isinya tentang sebab akibat yang sangat kompleks, baik yang diluar nalar manusia, maupun sesuai.

Agama itu sempit, kalo gak sempit bukan agama namanya. Karena isinya seputar kehidupan dan kematian, tidak lebih.

tapi…

Agama itu petunjuk, pembimbing, dan pengajak, kalo gak memberi petunjuk, bimbingan, dan ajakan, bukan agama namanya. Soalnya isinya menujukan, mengajak, dan membimbing tentang seruannya, baik yang bersifat irasional maupun rasional.

Agama itu logis, kalo gak logis bukan agama namanya. Soalnya isinya ilmu yang dapat dipahami manusia, penjelasan yang sangat terang bederang dan sangat indah dalam menjawab segala persoalan dan pertanyaan.

Agama itu luas, kalo gak luas bukan agama namanya. Soalnya isinya tidak sebatas kata kehidupan dan kematian saja, tapi jauh kedalam kata tersebut, karena isinya seputar penjabaran kongkrit dan gamblang persoalan kehidupan dan kematian. Panjang, lebar dan sangat luas, karna seluas alam dari kedua kata tersebut, tidak terbatas ruang dan waktu yang dibahasnya.

Agama yang dimaksud barusan tentu agama yang terakhir. Karena tidak ada yang seperti di atas kalo bukan yang di akhir. karena yang di akhir itu selalu bersifat penyempurna dan penetap. Sehingga mustahil adanya yang di awal dan di tengah bersifat seperti agama di atas. Agama yang terakhir tentu adalah Islam.

Tidak jelas, ya karna ini cuma kata-kata, seperti yang dikatakan Gery Zukav dalam The Dancing Wu Li Master, An Overview of the New Physics, halaman 270 ( seperti yang diatas sekali) “Words only represent something else. They are not real things.” Sekian~Assalamualaikum.

 

Kontradiksi

Standar

Ketika sedang membaca bukunya Murtadha Muthahari yang berjudul Kepemimpinan Islam, dalam bagian kata pengantar, Jalaluddin Rakhmat memberikan pengantar yang sangat membingungkan saya dalam konsep penunjukan kepemimpinan Syi’ah. Ia menjabarkan bahwa dalam konsep kepemimpinan dalam Islam, menunjuk pemimpin (istikhlaf) pengganti dari pemimpin sebelumnya adalah wajib, dan ini telah dilakukan oleh nabi Muhammad, yang menurut mereka telah menunjuk Ali bin Abi Thalib secara langsung. Hal itu dia landasi dengan mengutip surat al-Maidah ayat 55 dengan berbagai macam tafsiran ulama syi’ah atau sunni. Dia mengatakan bahwa, ulama-ulama di mazhab itu sepakat bahwa Ali lah yang dimaksut dalam surat al Maidah itu, namun ulama sunni mempertentangkannya karena bentuk kalimat didalamnya adalah berbentuk Jamak. Sedangkan, ulama-ulama sunni ketika menafsirkan ayat lain diluar kepemimpinan banyak yang menunjuk kata-kata jamak untuk seseorang, dan tidak mempertentangkan hal itu. (lebih jelasnya liat kata pengantar dibuku  Murtadha Muthahari tersebut)

Dari hal itu dapat saya pahami (secara sangat-sangat sederhana, atau sesederhana cara pikir orang khawrij) bahwa Syi’ah mengamini konsep kepemimpinan seperti yang diperaktekan sistem kerajaan (meski berbeda jauh siapa yang ditunjuk sebagai penggantinya), dalam hal ini konsep kepemimpinannya yang menunjuk langsung para pemimpinnya oleh pemimpin sebelumnya, seperti di Saudi dan lainnyan, atau  dalam bahasa mereka sistem imamah. Dan mereka menolak sistem demokrasi, seperti yang di contohkan pada sistem pemilihan Abu Bakar sepeninggal nabi. Namun mereka tetap mengamini cara Abu bakar dalam memilih Umar Bin Khattab sebagai penggantinya.

Selanjutnya yang jadi pertanyaan dalam pikir saya yang sangat dangkal ini, kenapa paham Syi’ah kini sangat marah ketika Saudi mengeksekusi mati seoarang ulama Syi’ah yang menyerukan Demokrasi di Saudi, yang berusaha merusak kestabilan politik negara Saudi dengan retorika-retorikanya yang membahayakan sistem kepemimpinanna yang sah, serta ikut campur dalam urusan rumah tangga negara Saudi. Dan bahkan kenapa bisa-bisanya Ulama Syi’ah itu menyerukan untuk pemilihan umum di Saudi, padahal kaum Syi’ah menolak pemilihan umum Abu Bakar.

Di Iran pun terjadi pemilihan umum untuk presidennya, maskipun harus melalui persetujuan 12 Imam (yang saya bingungkan juga dari mana datangnya 12 Imam itu kalo tidak ditunjuk oleh golongan golongannya, bukan seperti penunjukan Ali yang mereka pahami. Malah lebih seperti sistem penunjukan khalifah Abu Bakar). Maka dari itu, dalam pikir saya, sangat tidak lurus pemahaman wilayah/imamah Syi’ah tersebut, terjadi banyak kontradiksi dan seterusnya. Maka jika muslim seluruhnya merujuk pada sistem khilafah akan lebih jelas bentuk dari konsep kepemimpinan Islam tersebut, dan akan lebih searah dengan Syri’at Rasullullah.

Sang Imam Bertinta Emas

Standar

Imam Al Ghazali berkata:
Yang singkat itu – “waktu”
Yang menipu itu – “dunia”
Yang dekat itu – “kematian”
Yang besar itu – “hawa nafsu”
Yang berat itu – “amanah”
Yang sulit itu – “ikhlas”
Yang mudah itu – “berbuat dosa”
Yang susah itu – “sabar”
Yang lupa itu – “bersyukur”
Yang membakar amal itu – “mengumpat”
Yang ke neraka itu – “lidah”
Yang berharga itu – “iman”
Yang mententeramkan hati itu – “teman sejati”
Yang ditunggu Allah SWT itu -“TAUBAT”

Kritik Islam Terhadap Marxisme

Standar

Hanya mengutip dari bukunya Ali Syari’ati halaman 119 yang berjudul Kritik Islam Terhadap Marxisme dan Sesat-Pikir Barat Lainnya. Dia mengatakan bahwa,

Tidak mengherankan bahwa setelah jatuhnya borjuis dan kemenangan komunisme, dialektika Marx terpaksa berhenti dalam sejarah, dan perjuangan tesis dan anti-tesis mencapai puncak dalam semacam koeksistensi damai! Marx tak berdaya menunjukan kemana , setelah komunisme, nasib manusia akan menuju dalam dunia ini; apa lagi dunia nanti (hari kemudian). Inilah masalah yang tidak dapat dipecahkan baik oleh materialisme lama maupun materialisme dialektika. Karena, seperti yang dikatakan Rene Guenon: “apabila dunia tanpa arti dan tujuan, maka manusia pun tanpa arti dan tujuan,” Marx mengakui bahwa kemanusiaan semacam itu tidak mempunyai nasib “nyata.”

Islam, dipihak lain, berbuat lebih dari sekedar memberi kemanusiaan suatu kedudukan terhormat dalam alam, “Telah Kami muliakan anak cucu Adam.” (QS 17:70). Ini lebih dari sekedar menyangkal bahwa Tuhan menjadikan manusia makhluk yang tak berdaya , kehilangan dirinya, mencari kekuatan dan nilai-nilainya sendiri dalam wujud Tuhan dan menuntut nilai-nilai itu dari-Nya dengan “keluhan dan air mata.” Islam menganggap bahwa Tuhan menyerahkan amanataNya kepada kemanusiaan: “Kami tawarkan amanat pada langit, bumi dan gunung-gunung, dan mereka menolak untuk menanggungnya (memikulnya) karena takut, dan manusialah yang melakukannya. (QS 33:70)” Islam telah menunjukan bahwa manusia diciptkan sebagai wakil Allah dalam alam: “Sesungguhnya hendak Ku tempatkan di bumi seorang Khalifah.” (QS 33:30)