Kritik Tan Malaka Atas Perlawanan Lenin Terhadap Pan-Islamisme

Standar

Hasil gambar untuk Tan malaka dan lenin

 

1922 merupakan tahun di mana Kongres Dunia Komunis Internasional (Komitern) ke-4 berlangsung di Moskow. Dalam kongres tersebut, di tengah-tengah para pembesar Komunis Internasional seperti Vladimir Lenin, Grigory Zinoviev, Clara Zetkin, dan Leon Trotsky, salah satu bapak pejuang kemerdekaan Indonesia yang dijuluki oleh Muhammad Yamin sebagai “Bapak Republik Indonesia” menjadi salah satu pembicarannya. Dialah Ibrahim Datuk Sutan Malaka, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Tan Malaka.

Dalam kongres tersebut, Tan Malaka secara garis besar memfokuskan pidatonya untuk mengkritik pernyataan Lenin tentang pentingnya melawan Pan-Islamisme. Pernyataan Lenin tersebut tercantum dalam tesis yang di draf olehnya dan di adopsi pada Kongres Dunia Komintern ke-2 tahun 1920 dengan judul, “Draft Theses on National and Colonial Questions For The Second Congress Of The Communist International.”

Lenin dengan tegas mengatakan dalam tesis tersebut bahwa Partai Komunis perlu melawan Pan-Islamisme dan tren yang serupa dengannya, karena ia melihat bahwa Pan-Islamisme hanya sebagai alat para Pemimpin Islam (Khans, Pemilik Tanah (landowners), Mullah, dan sebagainya) untuk memperkuat kedudukannya di tengah masyarakat, sehingga cita-cita untuk menghilangkan kelas borjuis serta menghancurkan sistem kapitalisme global sama saja nihil apabila masyarakat terlena dengan konsep Pan-Islamisme.

Pernyataan ini tentu bukan hal yang baru dalam buah pemikiran orang-orang yang mendasari pemikirannya terhadap pemikiran-pemikiran Karl Marx (Marxisme). Marx terlebih dahulu telah melihat agama sebagai candu yang digunakan oleh kelas penguasa (borjuis) untuk memberikan harapan-harapan palsu terhadap kelas pekerja (proletar), sehingga ia melihat agama hanya akan menghasilkan dampak negatif saja bagi perkembangan sosial masyarakat. Oleh karena itu, Lenin melihat bahwa Partai Komunis yang ada di belahan bumi manapun perlu untuk melawan Pan-Islamisme.

Akan tetapi, berbeda dengan pemikiran dua pendahulunya tersebut, dalam pidato di tahun 1922 itu Tan Malaka mengungkapkan bahwa untuk memperjuangkan kebebasan masyarakat dari cengkraman kapitalisme global, Partai Komunis tidaklah harus menyingkirkan Islam bagi perjuangan masyarakat melawan Kapitalisme, malahan harus bekerjasama dengannya karena Islam bagi para pemeluknya adalah segalanya, sehingga Partai Komunis tidak akan mampu untuk menarik masa apabila harus menyisihkan Islam dari barisannya dalam perjuangan melawan Sistem Kapitalisme Global.

Untuk mendukung pernyataanya itu, dalam pidatonya Tan Malaka memberikan contoh terhadap kondisi Umat Islam Indonesia (yang ia wakili dengan Sarekat Islam) yang bersandingan dengan Partai Komunis Indonesia dalam perjuangan melawan Kapitalisme. Ia mengatakan, “Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka (Sarekat Islam). Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun itu kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam juga melakukan agitasi di pedesaan untuk kontrol pabrik-pabrik dengan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.”

Atas dasar hal itu, dapat dilihat bahwa Tan Malaka memandang pentingnya bagi Partai Komunis untuk beradaptasi demi kepentingan dan tujuan akhirnya, yakni menghancurkan Kapitalisme. Hal itu disebabkan karena masyarakat menurutnya memiliki ciri khasnya masing-masing di tiap-tiap tempat dan waktu yang berbeda-beda dalam menghadapi Kapitalisme, sehingga perlawanan terhadap Pan-Islamisme merupakan konsep yang keliru.

Dalam pidatonya, Tan Malaka juga memberikan contoh nyata dari dampak negatif yang dihasilkan oleh pernyataan Lenin tersebut terhadap citra Partai Komunis bagi suatu masyarakat yang juga berjuang melawan cengkraman Kapitalisme.

Ia mengungkapkan, “Namun, pada tahun 1921 itu juga sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah Hindia Belanda melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua tahun 1920 tentang Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka juga ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah.

Perpecahan antar masyarakat Islam di Indoneseia dengan Partai Komunis Indonesia merupakan hal yang penting dan krusial bagi Tan Malaka. Ia memandang bahwa perpecahan itu menjadi celah strategis yang seringkali berhasil dimanfaatkan oleh para penguasa Hindia Belanda dalam menarik simpati masyarakat untuk membenci Komunisme. Karenanya, Tan Malak mengimbau dalam Kongres Komintern ke-4 tersebut untuk mengkaji ulang kembali konsep perlawanan terhadap Pan-Islamisme, disebabkan dalam pandangannya konsep tersebut hanya akan merugikan Partai Komunis.

Pidato Tan Malaka itu tidak hanya menarik banyak simpati dari para peserta kongres yang berjumlah 408 orang, namun juga mendapat perhatian dan dukungan dari mereka. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana respons peserta kongres terhadap pidato Tan Malaka yang terus di banjiri tepuk tangan.

Di samping itu, pada dasarnya pidato Tan juga telah di interupsi oleh ketua kongres, yakni Grigory Zinoviev, ketika pidato Tan telah melewati batas waktu yang telah di tentukan, namun Tan dipersilahkan untuk terus melanjutkan hingga selesai setelah ia menjawab interupsi tersebut dengan cerdas. Ia mengatakan, “Saya datang dari Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan selama empat puluh hari.” Perkataan ini pun mendapat riuh tepuk tangan dari para peserta kongres.

Tan Malak bukanlah orang yang dapat dipandang sebelah mata di lingkungan komunis. Ia memiliki posisi yang cukup berpengaruh di dalamnya. Sebagai contoh, pada 1922 ia dipercaya oleh Komintern sebagai wakil komintern untuk Asia Timur di Kanton, China.

Namun, meskipun begitu kritik Tan ini tidak mampu merubah arah kebijakan komintern yang telah di dasari gagasan Lenin untuk melawan Pan-Islamism. Hingga… Komintern tetap melakukan perjuangan melawan pan-Islamism

 

 

Iklan

Asimiles

Standar
Jane Paul Sartre, dalam kata pengantarnya untuk buku Les Damnes De la Terre, karya Francois Nellino, menuturkan: “Kita pilih beberapa orang pemuda Afrika dan Asia untuk kita kirim beberapa bulan lamanya ke Amsterdam, Paris, London, dan Brussel. Sesudah beberapa waktu mereka kita beri baju dengan model Eropa, kita suapkan istilah-istilah Eropa, dan kita kuliti mereka dari peradabannya. Sesudah itu, kita ubah mereka menjadi bebek-bebek dan kerbau-kerbau, dan itulah saatnya bagi mereka untuk siap dikirm pulang. Dengan demikian, mereka akan menjadi bebek-bebek yang dengan setia menyuarakan segala sesuatu yang kita ucapkan tanpa mereka sendiri tahu artinya. Segala sesuatu yang kita kerjalan akan mereka tiru, dan mereka dengan bangga mengatakan bahwa telah berkata dan berbuat sesuatu dari dirinya sendiri. Mereka itulah yang kita sebut dengan Assimiles.
 
(Ali Syariáti, dalam Ummah dan Imamah: Suatu TInjauan Sosiologis, 1989, h. 73).

​Antara Fathimah Az-Zahra, Abu Bakar As-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib

Standar

Pasca meninggalnya Rasullullah, Fathimah Az-Zahra menagih Tanah Fandak (sebidang kebun di luar Madinah yang menurut fatimah telah menjadi hak warisnya dari ayahnya, yakni Rasulullah) kepada Khalifah Abu Bakar.

Khalifah Abu Bakar menolak Tanah Fandak tersebut diperlakukan sebagai tanah warisan dengan mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Kami, para nabi, tidak akan mewariskan emas, perak, rumah, dan juga ladang. Kami mewariskan kitab, hikmah, ilmu, dan kenabian. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”
Akibat dari keputusan Khalifah Abu Bakar tersebut, Fatimah Az-Zahra mengatakan, “Apakah kalian (ketika itu Umar bin Khatab juga sedang menemani Khalifah Abu Bakar) tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keridaan Fatimah adalah ridaku, kemurkaan Fatimah adalah kemurkaan ku. Barang siapa mencintai Fatimah, putriku, berarti dia telah mencintaiku, barangsiapa membuat ridha Fatimah, putriku, berarti dia telah membuatku rida, barang siapa membuat Fathimah murka, berarti dia telah membuatku murka.'” Abu bakar dan Umar menjawab, “Ya, kami telah mendengar hadis itu dari Rasulullah.” Kemudian, Fathimah melanjutkan, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan malaikatnya, kalian telah membuatku murka. Aku tidak rida kepada kalian berdua. Seandainya aku bertemu dengan Rasulullah, aku akan mengadukan kalian kepadanya. Sungguh, aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya.” 


Abu Bakar kemudian menangis dan menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaannya dan kemurkaan mu, Fathimah. Sungguh aku tidak akan meninggalkan mu Fathimah.” kemudian Khalifah Abu Bakar, mengulang hadis Rasulullah yang mengatakan bahwa para nabi tidaklah meninggalkan warisan. Namun, Fathimah tidak menjawab lagi. 
Akibat dari hal itu, kemudian Khalifah Abu Bakar berdiri di depan semua orang. Dengan lantang ia menyampaikan, “Wahai manusia! Pecatlah aku! Setiap kalian tidur dengan memeluk istri-istri kalian, gembira dengan keluarga kalian, dan kalian meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak butuh baiat kalian.”
Kemudian seorang sahabat berteriak, “Wahai Khalifah, sungguh masalah ini tidak akan tegak. Engkaulah yang paling mengetahui hal ini. Sungguh, jika saja ini tidak dilakukan, agama Allah tidak akan berdiri.”
Abu Bakar merespons, “Sungguh, jika tidak demikian, aku tidak takut dengan kelunakan ikatan ini. Aku tidak bisa tidur waktu malam, sedangkan pada leher seorang Muslim terdapat baiat. Terutama setelah apa yang aku dengatr dan aku lihat dari Fathimah.” 
Kemudian, Ali bin Abi Thalib yang pada awalnya masih belum mau untuk memberikan baiatnya kepada Khalifah Abu Bakar, berdiri dan berkata dengan kata-kata tertata, “Wahai Khalifah, kami tidak akan memecatmu dan kami juga tidak memintamu untuk dipecat selamanya. Rasulullah telah mengajukanmu untuk mempersatukan agama kita. Siapakah orang yang menundamu untuk mengawasi duniawi kita?”
Disarikan dari (Muhammad jilid 2, oleh Tasaro GK. Dengan dirujuknya dari O. Hashem, “Saqifah”, Bab Abu Bakar dan Fathimah serta Abdurrahman Asy-Syarqawi, “Ali bin Abi Thalib, The Glorious, Bab Bersama Abu Bakar).

Sang Imam Bertinta Emas

Standar

Imam Al Ghazali berkata:
Yang singkat itu – “waktu”
Yang menipu itu – “dunia”
Yang dekat itu – “kematian”
Yang besar itu – “hawa nafsu”
Yang berat itu – “amanah”
Yang sulit itu – “ikhlas”
Yang mudah itu – “berbuat dosa”
Yang susah itu – “sabar”
Yang lupa itu – “bersyukur”
Yang membakar amal itu – “mengumpat”
Yang ke neraka itu – “lidah”
Yang berharga itu – “iman”
Yang mententeramkan hati itu – “teman sejati”
Yang ditunggu Allah SWT itu -“TAUBAT”

Kritik Islam Terhadap Marxisme

Standar

Hanya mengutip dari bukunya Ali Syari’ati halaman 119 yang berjudul Kritik Islam Terhadap Marxisme dan Sesat-Pikir Barat Lainnya. Dia mengatakan bahwa,

Tidak mengherankan bahwa setelah jatuhnya borjuis dan kemenangan komunisme, dialektika Marx terpaksa berhenti dalam sejarah, dan perjuangan tesis dan anti-tesis mencapai puncak dalam semacam koeksistensi damai! Marx tak berdaya menunjukan kemana , setelah komunisme, nasib manusia akan menuju dalam dunia ini; apa lagi dunia nanti (hari kemudian). Inilah masalah yang tidak dapat dipecahkan baik oleh materialisme lama maupun materialisme dialektika. Karena, seperti yang dikatakan Rene Guenon: “apabila dunia tanpa arti dan tujuan, maka manusia pun tanpa arti dan tujuan,” Marx mengakui bahwa kemanusiaan semacam itu tidak mempunyai nasib “nyata.”

Islam, dipihak lain, berbuat lebih dari sekedar memberi kemanusiaan suatu kedudukan terhormat dalam alam, “Telah Kami muliakan anak cucu Adam.” (QS 17:70). Ini lebih dari sekedar menyangkal bahwa Tuhan menjadikan manusia makhluk yang tak berdaya , kehilangan dirinya, mencari kekuatan dan nilai-nilainya sendiri dalam wujud Tuhan dan menuntut nilai-nilai itu dari-Nya dengan “keluhan dan air mata.” Islam menganggap bahwa Tuhan menyerahkan amanataNya kepada kemanusiaan: “Kami tawarkan amanat pada langit, bumi dan gunung-gunung, dan mereka menolak untuk menanggungnya (memikulnya) karena takut, dan manusialah yang melakukannya. (QS 33:70)” Islam telah menunjukan bahwa manusia diciptkan sebagai wakil Allah dalam alam: “Sesungguhnya hendak Ku tempatkan di bumi seorang Khalifah.” (QS 33:30)

Gelap yang Menolak Cahaya

Standar

Hitam hati ini menolak sinar cinta sang pemiliki cahaya

Buta mata ini menatap mati kebenaran petunjuk cahaya

Keras jidat ini seolah enggan sujud kepada sajadah cahaya

Tuli Kuping ini mendengar lantunan kata-kata bercahaya

Hidung tak mampu memahami aroma suci pemilik cahaya

Lidah keras membatu melantunkan ayat-ayat cahaya

Kaku indra, kaku gerak, dan kaku rasa

Hilang gairah, Mati membusuk,

Shalat ku lepas… Shalat ku lepas…